
Night Market Adam Malik, biasanya di sebut kuliner malam. Di sini banyak sajian makanan cemilan yang bisa disantap. Velda dan Nando pun masuk ke parkiran mobil kemudian mereka pun turun.
Pukul 9.30 malam para pengunjung semakin ramai dan apalagi tempatnya benar santai diiringi musik pop. Mereka berdua mencari teman duduk untuk menikmati makanan kuliner ada di sini.
Nando memesan minuman teh manis jumbo berdua. Maunya sih satu gelas jumbo dibagi dua lebih romantis kalau orang melihat. Karena datang juga berdua, harapan Nando seperti itu. Tapi dia tidak akan memaksa juga, mereka duduk sejenak.
"Elo mau makan apa?" Nando bertanya, Velda melirik sekeliling semua enak.
"Gua mau telur gulung sama mochi Malaysia," jawab Velda
"Oke, gua pergi beli dulu. Elo tunggu di sini, ya!" ucap Nando beranjak pergi dari tempat duduknya.
Velda menarik minuman teh jumbonya di seruput pelan-pelan. Kemudian dia membuka hpnya itu. Banyak pesan masuk dari whatsapp nya.
Arka : lagi ngapain? Kamu masih marah?
Arka : kenapa nggak balas?
Arka : thanks ya, untuk bajunya. Aku suka.
Kamu ada dimana? Aku boleh ke rumah mu nggak?
Seterusnya itu pesan dari Arka, Velda tidak membalas hanya dia read untuk apa dibalas hanya buang perasaan. Tidak berapa lama kemudian Nando kembali membawa cemilan dari Velda.
"Sudah datang, nona Velda," cibir Nando sekarang posisinya duduk di samping Velda.
"Elo nggak makan?" Giliran Velda menanyakan kepada Nando
"Ada, nanti di antar, makan saja dulu." jawab Nando senyum mencomot telur gulung itu.
"Pasti pesannya burger lagi? Lama-lama mukamu benar kayak burger king," sindir Velda memasukan mochi ke mulutnya.
Nando hanya bisa memberi senyuman hal itu wajar kalau wanita itu menyindir nya. Berselang lama kemudian seseorang menghampiri meja Velda dan Nando.
"Hei, Velda!" sapa seseorang wajah cantik, putih, dan berkelas banget.
Nando sampai melirik wanita duduk di depan meja mereka berdua. Velda menoreh dan senyum menyapanya.
"Eh, hei! Tania bukan?" balas Velda lupa-lupa ingat.
"Bagaimana kabar lo? Kok makin hitam sih, diri lo?" nyinyir Tania, wanita cantik dan hobi merawat tubuhnya.
Nando dari tadi mencuri wanita itu sambil menyinyir penampilan sahabatnya. Kayaknya dia dicuekin sama para wanita cantik. Nasib muka tampang cakep dilupakan.
"Baik kok, ha ha ha biasalah namanya juga kerja pastinya panas-panas keluar lapangan. Terus elo gimana? Sudah sukses ya, makin cantik saja elo ini?!" balas Velda menyinyir temannya.
Tania menciut setelah mendapat balasan dari Velda. Buat Velda biasa saja, dia tau banget sifat Tania bagaimana walau orang kaya bagi Velda tidak ada gunanya memamerkan harta kekayaan dari orang tua sendiri.
Sudah lama Velda memang tidak bertemu dengan teman lama. Jarang banget mungkin sejak lulus kuliah dan dia pun jarang banget komunikasi dengan teman seangkatan. Velda tau semua mempunyai aktivitas sendiri-sendiri.
Kalau Tania untuk nilai Velda boleh dibilang 85% karena semua penampilannya murni. Dia memang cantik di UKM ( universitas Kampus Management) Velda tidak perlu di irikan karena semua dilahirkan cantik dan sempurna.
Lama obrol Tania menyadari sesuatu sosok lelaki yang duduk di samping Velda itu dari tadi diam tak bersuara.
__ADS_1
"Dia suami lo?" Tiba-tiba Tania bertanya langsung pada Velda.
Sontak Velda terkejut dengan pertanyaan dari teman lamanya, dia lirik samping Nando hanya diam muka datar. Lelaki playboy cap gayung super hapal banget sama Velda.
"Bukan, dia sahabat gua," jawab Velda, "tapi sahabat tapi mesra," lanjut Velda menambahkan kata-kata.
Nando langusng melirik wanita sebelahnya, Velda sih membuang muka dan senyum pada Tania. Tania pun tertawa mengetahui jawaban unik dari teman lamanya.
"Hahaha, ya ampun Velda, elo ini benar kagak pernah berubah, ya! Baguslah, kalau bisa langgeng terus ya. Ya sudah gua cabut dulu, suami gua dan anak gua sudah pada tunggu. Lain kali kita obrol lagi, bye bye." Pamit Tania beranjak meninggalkan tempat meja mereka.
Velda melambaikan tangannya dan kemudian Nando mencondongkan wajahnya miring menanyakan maksud dari ucapan wanita itu. Velda menoreh pada lelaki itu yang menatapnya serius.
"Kenapa elo, lihatin gua kayak gitu!" Velda bertanya gugup jadi salah tingkah.
"Maksud perkataan elo tadi maksudnya apa? Sahabat tapi mesra, elo cemburu kalau gua lirik teman lama lo, siapa namanya Tania?" Nyinyir Nando senyum
Muka Velda merah terus dia pura-pura mengambil telur gulung yang sudah tidak hangat lagi. "Cemburu apanya, nggak usah sok kegeeran, ya!" elak Velda kedua pipinya memanas.
"Masa sih? Kok dua pipi elo muncul tomat merah?" usil Nando senyum
"Sembarangan! Ini telurnya elo suruh penjualnya ekstra pedas ya?" elak lagi si Velda semakin salah tingkah.
Nando tau banget kalau wanita di sampingnya itu benar-benar cemburu. Apalagi sengaja mengelak percakapan, dia benar bahagia kalau sahabat baiknya itu bisa cemburu walau pun masih hubungan pura-pura.. Kalau Nando membayangkan hubungan ini lebih serius mungkin tidak perlu lama pacaran langsung dia nikahkan wanita ini.
Sedangkan di rumah Kalandra, Arka menatap langit kamarnya dan mengangkat hpnya terus melihat isi pesan yang dia kirim untuk wanita calon jodohnya tak balasan apa pun.
"Kamu itu ada dimana sih? Aku tau kamu itu pasti marah sama aku, apa benar kamu itu pacaran sama lelaki playboy itu? Sebaik apa sih dia ketimbang aku?" Batin Arka kepada dirinya sendiri.
****
Biasanya ibunya tidur ditemani oleh adik sepupu dari adik ibunya. Karena sepupunya tidak bisa berlama tinggal di rumah Nando. Dia masih banyak tugas PKL di tempat kuliah dan kerjanya. Untung Velda mau datang demi ibu Nando, Velda sangat dekat dengan beliau. Velda sudah menganggap ibu Nando itu, ibu kedua dari orang tua kandung.
"Elo nggak beli makanan untuk mamamu?" Velda teringat setelah semalaman di Night Market Adam Malik.
"Enggak perlu, jam begini dia tidak bisa makan malam lagi. Sampai di rumah dia sudah tidur," kata Nando
"Ya setidaknya beli sesuatu gitu, elo setiap hari begitu sama mamamu? Kan, kasihan dia-nya," omel Velda mulai kumat lagi.
Velda sangat sayang banget sama ibunya Nando. Maka dari itu kenapa Nando sangat suka sikap perhatian Velda terhadap ibunya. Apalagi Nando pun benar-benar suka banget sama Velda.
"Enggak perlu ini sudah malam, dia pun sudah tidur, kasihan kalau di banguni lagi." Nando tetap bersih keras tidak ingin merepotkan wanita di samping pengemudinya.
"Gua yang mau beli, putu mayung atau putu bambu juga boleh lah, gua masih lapar kalau sampai di rumah lo!" sengit Velda tetap ngotot meminta Nando berhenti di pinggir jalan.
Dengan hembusan napas akhirnya Nando menyerah, membiarkan wanita memihak. Dia pun mau tak mau meminggirkan mobil di pinggir jalan yang berderetan gerobak cemilan malam ada martabak bangka, burger, putu mayung, masih banyak lagi.
Velda dan Nando pun turun dari mobil, senyuman merekah di balik wajah Velda berbinar - binar. Dia menghampiri salah satu gerobak itu melihat-lihat apalagi aromanya sangat jelas pada indera percuiumannya.
"Bang, martabak satu sama putu mayung juga parut kelapanya banyak, ya!" ucap Velda memesan pada tukang penjualnya.
"Siap, Neng!" balas penjualnya
Sambil menunggu pesanan dari Velda, Nando berdori di samping wanita itu tengah melirik sekitar deretan gerobak.
__ADS_1
"Elo kagak mau burger? Kayaknya enak nih!" ucap Velda menawarkan pada Nando.
Nando menoleh arah belakang gerobak tepat dia berdiri itu. Penjualnya lagi buat burger untuk pembeli lagi menunggu itu.
"Nggak, gua mau diet," jawab Nando datar.
"Diet, diet mulu. Sudah beli saja, gua yang traktir kalau nggak bagi dua, kalau kagak habis. Gimana?" senggol Velda bersih keras mengiyakan tawarannya.
Velda harap Nando tidak menolak, Nando melirik wanita di samping. Dia paling lemah dengan ajakan atau rayuan dari wanita ini. Apalagi senyuman dari Velda rasanya jiwa Nando seperti mau keluar dari badannya.
"Mau nggak? Bagi berdua, soalnya kan gua sudah pesan martabak sama putu mayung. Kalau kagak habis besok bisa dijadikan sarapan," lanjut Velda berbicara menunggu balasan dari sahabat baik sekaligus pacar pura - pura.
Lama menunggu, Nando pun mengiyakan saja. Tidak dapat untuk menolak dari wanita dia sukai. "Terserahlah, asal dirimu bahagia, gua juga pasti lebih bahagia." ucap Nando
Dengan wajah berbinar-binar pula Velda pun menghampiri si penjualnya dan memesan burger jumbo.
Tak berapa lama pesanan Velda pun siap dibungkus dan dibawa pulang. Nando jadi bandar tidak mengizinkan Velda membayarnya. Nando paling anti hal beginian, setelah membayar Nando pun membantu membawa makanan itu dari tangan Velda. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumah.
****
Sampai di rumah Nando bertingkat itu, Velda masuk secara diam-diam takut membangunkan beliau yang sudah terlelap tidur. Baru saja akan membuka pintu perlahan-lahan sebuah lampu dalam rumah menyala terkejut lah Velda.
"Sudah pulang?" sambut Anita (Ibu Nando) senyum.
Velda jadi serba salah karena dia tidak hati-hati jadinya beliau terbangun. "Sudah, Tante. Kok tante belum tidur?" balas Velda senyum dan masuk kedalam membawa makanan yang baru di beli tadi.
Nando meletakkan bungkusan plastik di atas meja makan. Anita menghampiri dan mengintip belanjaan mereka berdua.
"Beli apa saja ini? Kok banyak?" Anita bertanya pada Velda dan Nando.
"Cemilan, Mama sudah makan?" jawab Nando dan menanyakan pada Ibunya.
"Sudah tadi masak telur rebus," jawab Anita
Velda menoleh kaget dan menatap Nando secara intens. Nando mengangkat bahunya dan mendekati ibunya.
"Nggak usah lihat gua kayak gitu, mama gua memang suka masak telur rebus," kata Nando mengambil sepotong martabak dari bungkusan kotak itu.
Plak!
"Cuci tangan dulu, tadi elo habis menyetir kan? Tante tadi Velda beli beberapa cemilan di pinggir jalan. Jangan sering makan telur rebus ya, tante. Velda tau tante suka banget sama putu mayung. Ini Velda ada beli untuk tante di makan ya!" ucap Velda panjang lebar, Nando pun menuju tempat pencuci piring membersihkan kedua tangannya.
Anita senyum dan pasti merasa tersentuh atas pemberian dari teman kerja putranya. Padahal Anita mengharapkan Velda menjadi menantunya kelak.
Pukul 12.30 malam sudah hampir menuju subuh. Nando masih setia di meja makan menikmati makanan di depannya. Nando menemani ibunya menghabiskan putu mayung itu. Sedangkan Velda sedang mandi, suasana di rumah sangat canggung setelah kedatangan sahabat baiknya yaitu Velda.
"Mama mengharap kalau Velda bisa menjadi menantu dan juga istri baikmu," ucap Anita bersuara memecahkan suasana dalam kesunyian.
"Nando mengerti perasaan Mama. Tapi, Nando tidak bisa memaksa dia mencintai dan menerima perasaan Nando. Dia sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya," kata Nando pelan.
"Sayang banget, ya. Tapi, Velda wanita yang baik dan penurut. Kalau andai saja dia tidak dijodohkan Mama bahagia punya menantu seperti dia."
"Iya, Ma. Nando juga, tapi, biarlah kehendak yang memilih."
__ADS_1