Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
pertemuan


__ADS_3

Tanggal 27 , bulan april, 1875.


Kabar tentang terpilihnya raja baru Encrases telah menyebar keseluruh penjuru negeri, tapi tidak ada yang tau bagaimana wajah dari raja tersebut. Banyak orang bertanya-tanya kenapa sang raja tidak pernah menunjukan wajahnya di depan umum. Mungkin karena beredarnya berita tentang sekelompok orang yang merencanakan kudeta ada juga yang bilang kalau sebenarnya sang raja itu sudah lama mati dibunuh oleh walikotanya sendiri, dan banyak lagi Isu-isu lainnya yang tersebar di kerjaan.


Aku hanya bisa berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada negeri ini, Karna aku masih ingin melihat murid-murid ku tumbuh menjadi orang yang berguna.


"Pak guru!, sudah waktunya masuk,loh!" teriak Rossi,salah satu muridku.


"Ah, yah, bapak juga tau, memangnya kalian kira yang mengajar kalian disini itu siapa?" Jawabku sambil berjalan menuju kelas.


"Selamat pagi!, pak guru" Salam semua murid ku yang berada di dalam kelas.


"Selamat sore~" sahutku sedikit bercanda.


"wah, pak guru mulai pikun!" ucap Thomas, siswa paling ceria di kelas yang duduk di barisan belakang.


"Wah, pak guru mulai membodo* ,ahaha" ucap Jodi, siswa dengan topi orange dan kacamata di topinya,ia duduk di pojok kanan dekat jendela.


"ja-jangan bicara seperti itu, pak guru kan...pak guru..kan.. Ke-keren" bantah Jeanne siswi pemalu yang duduk di barisan depan.


"baiklah, anak-anak buka buku Matamatika kalian dan kerjakan halaman 20 sampai 145" sahut sambil tersenyum jahat.


"HAH!!, Ah pak guru,kejam" tegur Jodi.


"Iblis, ya!?" kata Thomas sambil menunjukku.


"pak guru,kejam!!" teriak anak-anak yang ada didalam kelasku.


"makanya jangan, macam-macam dengan ku, khahah" kataku sambil tertawa jahat.


"baiklah,buka buku kalian anak-anak, sudah cukup bercandanya." ucapku sambil mengambil buku di tasku.


Walau pun terkadang mereka membuatku kesal dan terkadang aku memarahi mereka, tapi sebenarnaya bagiku mereka adalah sesuatu paling berharga bagi ku dan seorang guru, karna guru tidak berarti apa-apa jika mereka tidak memiliki murid.


Namaku Hassan.H, umurku 20 tahun, banyak orang yang bilang bahwa aku ini seorang guru dengan gaya perampok, karna gaya berpakaianku yang selalu menggunakan pakaian berwarna gelap, cara ku menatap seseorang layaknya sedang memancarkan hawa membunuh dari tatapanku, dan juga omonganku yang terkadang cukup kasar. Aku tinggal di sekolah tempat aku mengajar. Dulu ketika aku lahir, rumah ku tertimpa sebuah batu hitam berukuran besar yang jatuh dari langit, orang tuaku meninggal karena melindungiku dari batu itu, bukan hanya orang tua ku yang meninggal saat batu itu jatuh,namun beberapa orang yang tidak terkena ledakan batu itu juga ikut meninggal secara misterius, sejak saat itu aku mulai di tuduh sebagai anak pembawa sial dan banyak orang yang menghindariku karna takut terkena sial, tapi ada juga sebagian orang yang menyayangiku dan tidak percaya dengan gosip tersebut.


Tanggal 3 , bulan januari ,1877.


Pajak tinggal dan penjagaan di desa kami naik drastis dari 5 koin emas perbulan menjadi 40 koin emas perbulan. Para penduduk mulai tidak sanggup membayarnya dan mengakibatkan pihak kerajaan tidak lagi melindungi desa kami dari serangan monster. Aku dan penduduk desa harus melindungi desa kami sendirian tanpa bantuan militer kerajaan atau pun seorang alpha (kesatria kepercayaan raja yang konon mempunyai kekuatan sangat besar).


Sebagian penduduk desa memulai pekerjaan baru sebagai penambang emas dan besi, ada juga yang membuat tambak ikan di sungai, beberapa lagi ada yang memulai pekerjaan menjadi Blacksmith atau pandai besi untuk menstock persediaan senjata yang dibutuhkan untuk melawan para monster dan makhluk malam. Dengan begitu desa kami mulai membaik walaupun kekurangan uang.


Tanggal 07, bulan maret, 1877


Aku berhenti menjadi seorang guru karna berniat mengembalikan perekonomian desaku yang merosot dengan cara merantau ke ibu kota untuk mencari pekerjaan baru. Aku berharap bisa menemukan pekerjaan yang layak dan mempunyai gajih yang besar agar bisa cepat kembali kedesa dan bertemu anak-anak murid ku. Sebelum aku pergi ke ibukota aku sempat berpamitan dengan murid-murid ku, dan siapa sangka mereka menangis tidak ingin aku pergi, sampai saat terakhir, mereka masih terus memelukku sambil menangis. Ketika aku berangkat aku hanya bisa melambaikan tanganku tanpa bisa memberi mereka sedikit pun makanan.


"Aku berjanji, suatu hari nanti aku akan mengembalikan kondisi desa, seperti semula!" benakku.


Sesampai di ibukota aku langsung mencari tempat untuk tinggal dan membeli beberapa roti untuk makan keesokan hari. Aku kembali ke penginapan untuk beristirahat, harga penginapan disini tidak terlalu mahal hanya 1 keping emas per 14 hari


Tanggal 9, bulan maret, 1877.


Akupun mulai mencari pekerjaan di kota,disini aku memakai nama palsu untuk mengantisipasi kalau nanti terjadi situasi yang berbahaya dan memaksaku untuk kabur dari ibukota, Abraham gray, itu adalah nama sementara ku disini.


aku mulai melamar pekerjaan di sebuah toko senjata, namun ditolak mentah-mentah, lalu aku mencoba melamar di sebuah penginapan namun aku tak sanggup memenuhi sarat masuknya, aku menyerah mencari pekerjaan bergajih besar dan mencoba untuk melamar pekerjaan di bar-bar terdekat. Di depan penginapanku terdapat sebuah bar yang cukup ramai pengunjung, aku mencoba melamar disana dan langsung di terima. Walau bukan pekerjaan yang elit tapi yang penting aku bisa mengumpulkan uang untuk desa. Gaji yang ditawarkan oleh paman pemilik bar ini lumayan besar, yaitu, sekitar 2 koin emas dan 5 koin perak perminggu. Tugasku hanya melayani pelanggan yang datang ke bar tersebut.


Tanggal 18, bulan mei,1877.

__ADS_1


Tersebar berita bahwa kampung halamanku sedang terjadi bencana, tanah yang biasa di pakai untuk menanam padi dan buah buahan mengalami kekeringan, sungai nya beracun yang mengakibatkan matinya ribuan ikan-ikan di tambak warga. Satu-satu nya harapan mereka adalah dengan menyembelih ternak-ternak mereka atau menjualnya. Aku yang mendengar berita itu merasa khawatir dan memutuskan untuk kembali kedesa, sebelum itu aku ingin mengucapkan terimakasih pada pemilik bar yang telah menerima ku bekerja disana tanpa pikir panjang.


Pukul 19.28


tanggal 20, bulan mei, 1877.


"Terimakasih paman, karna sudah mau menerima saya untuk bekerja di bar ini, saya benar-benar berterimakasih" kataku pada paman pemilik bar.


"Tidak apa-apa, aku hampir tidak bisa membantu apa-apa, semua yang kauperoleh itu berkat kerja kerasmu sendiri." jawab paman itu.


"ah tidak, jangan bicara seperti itu." bantah ku dengan halus.


"Nak, kau datang kemari untuk mencari uang untuk desamu, bukan?" tanya paman itu sambil memegang bahuku.


"bagaimana kau bisa tau?" aku balik bertanya.


"sebenarnya banyak orang dari luar kota berdatangan kemari, kebanyakan dari mereka mencari uang demi keluarga mereka di kampung halamannya, tapi baru pertama kalinya aku melihat orang sepertimu. Orang yang mau bekerja keras demi membuat satu desa bahagia. Apakah sebegitu berharganya mereka sampai-sampai kau rela bekerja keras seperti ini.?" jawab paman sambil bertanya balik.


"yah, dulu saat orang tua ku meninggal. Mereka yang merawatku bergantian, yah... Walau tidak semuanya sih. Tapi aku sudah berjanji pada mereka dan juga ada banyak sekali kenangan disana, aku tidak mau semua itu hilang begitu saja, setidaknya biarkan aku meninggal duluan dari pada mereka, aku ingin melihat murid-muridku tumbuh menjadi orang yang hebat dan bisa berguna bagi desa. Itu saja" jelasku pada paman.


"oh, begitu yah, kalau begitu..terima ini, anggap saja ini sebagai tanda perpisahan kita, mungkin ini nilainya tidak terlalu besar untuk membuat desa mu bangkit kembali,tapi mungkin ini bisa membuat perut murid-murid mu itu tidak merasa kelaparan lagi, iya kan? Pak guru?!" ucap paman pemilik bar itu sambil memberikanku 30 koin emas.


Aku tak habis pikir dia sampai membantu ku sebegitunya, padahal, aku hanya bekerja padanya beberapa bulan. Dia memang orang yang baik. Setelah selesai berbicara dengan herald (nama pemilik bar itu) aku berencana untuk pulang ke penginapan.


"ah, satu lagi nak gray, usahakan kau tidak kembali kemari, karna disini bukanlah tempat yang seperti kau pikirkan, disini adalah tempat bagi para iblis berkumpul dan berkuasa, terutama iblis berwujud manusia." Herald mencoba memperingatkanku.


Aku tidak terlalu mengerti apa yang Herald katakan, tapi sepertinya itu berhungan dengan kenaikan pajak tinggal di desa-desa. Aku pergi meninggalkan bar milik herald.


udara dingin menusuk tubuhku, kesunyian kota ini saat malam benar-benar mengerikan.


Pukul 23.40


Aku yang sedang berjalan menuju penginapan di depan bar milik herald di kagetkan dengan suara benda terjatuh yang berasal dari salah satu gang di belakang ku.


Pring...!


Terdengar suara barang pecah dari dalam gang, diikuti dengan suara seorang pria marah-marah.


"dasar tidak berguna!!, apa kau tau!!?, apa kau tau!? Berapa harga barang ini!!?, harga barang ini lebih mahal dari pada nyawamu, tau!!"


Karena aku sedikit terganggu dengan kata-kata yang barusan aku dengar, aku mulai mencari asal suara tersebut, karena ada banyak gang di sini aku jadi kesulitan mencarinya.


Maaf..maafkan aku..heh...aku tidak sengaja..! Aaa...!


Teriak seorang gadis yang nampak sedang di siksa, suara itu berasal dari gang di belakang ku, tepatnya gang ke-3 dari gang sebelah bar herald. Aku berlari menuju gang tersebut, dan mendapati seorang lelaki yang sedang menyiksa gadis berusia 12-14 tahun, berambut putih yang hanya berpakaian karung. Aku mendekat kearah pria itu lalu menendang sebuah kotak berisikan buah yang tampaknya milik pria itu.


Bruaaak!!....


"Hoi sialan!!, apa kau tau suara mu yang keras itu membuat ku merasa sangat terganggu?, hah!!" Aku Menatap tajam pada pria itu.


"apa-apaan kau ini, bangs*t, apa kau cari mat-"


Bruaaak...!!


aku melemparkan kotak kayu yang ada disampingku kearah kepala pria itu sampai ia pingsan. Gadis itu tampak ketakutan dengan cara mataku memandang nya. aku berjalan menuju pria itu sambil membawa parang yang aku temukan di salah satu kotak buah yang ada di dekatku.


"jadi, tangan mana yang ia pakai untuk memukulmu tadi?" tanyaku sambil menatap tajam pada gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu menunjuk kedua tangan si pria. Ketika aku melihat kearah gadis itu, Tampak banyak sekali luka lebam di tubuhnya. Aku yang mulai merasa kesal mulai mengangkat parang yang ku bawa.


Clark...!!


Aku menebas tangan pria itu dari tangan kiri sampai kanan hingga putus. Gadis itu menutupi matanya karena tak tahan melihat betapa kejamnya aku.


"kau?, kedinginnan bukan?, pakai ini tadinya sih aku membelinya untuk perjalan pulang, tapi biarlah" aku memberikan sebuah selimut yang aku beli tadi siang.


"Te-terima ka..sih" ucap gadis itu.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang ku, aku langsung mengambil parang yang tadi aku gunakan dan bersembunyi di balik jalan gang yang berbelok ke kiri.


Sreek..sreek..srek.


Terlihat Herald datang dari balik tembok, bagaimana ini, dia pasti sangat kecewa dengan ku yang telah berbuat perbuatan kotor ini, aku yang merasa bersalah keluar dari balik belokan gang.


"G-gray kau membunuh orang itu?" tanya Herald tak percaya.


Herald mendekati ku ,aku hanya bisa menunduk membuang muka. Herald melihat gadis yang ada di belalang ku.


"oh, begitu yah...,gray cepat masuk ke dalam bar sebelum ada yang kemari, dan juga copot sepatu mu ketika berjalan agar tidak ada yang tau apa yang kau perbuat." ucap Herald padaku.


"ba-bagaiman dengan gadis itu?, dia sedang kedinginan." tanyaku.


"sudah kuduga kau melakukan itu demi dia..., tentu saja di bawalah" ucap Herald tersenyum lega.


Aku dan gadis itu memasuki bar milik herald untuk beristirahat, Herald adalah orang terpercaya dan kelihatannya sangat muak dengan penduduk kota ini,tapi tidak bisa melakukan apapun.


"aku tak percaya kau melakukannya, aku benar-benar kagum padamu. Sebenarnya... Hampir setiap hari orang itu menyiksa budak-budak yang ia curi dari desa terdekat, terkadang dia sampai rela menghabisinya hanya karena sedikit kesalahan. Aku yang berada disini tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa mendengarkan teriakan-teriakan orang-orang yang ia siksa, dan biasanya ia meninggalkan jasad budak-budaknya begitu saja di tengah jalan. Syukurlah kau melenyapkannya." ucap Herald merasa bersyukur.


"aku tidak membunuhnya.." ucapku dengan nada sedikit turun.


"apa!?" Herald terkejut dengan apa yang ku katakan.


"aku hanya memotong kedua tangannya,untuk memberinya pelajaran" ucapku.


"baiklah, untuk sementara sebaiknya kalian berdua menginap disini, tenang saja aku tidak akan melaporkan kalian. Karena aku juga sedikit menyimpan dendam pada pria itu." jelas Herald meyakinkanku.


"terima kasih paman kau memang baik seperti biasa." aku tersenyum lega dan menundukan badanku.


"jadi siapa namamu.?" tanya ku sambil menoleh kearah gadi itu.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk. Aku memberinya sebuah roti yang aku beli pagi ini.


"Apa kau mau?." aku memberikan nya sebuah roti. "baiklah karna kau tidak mau memberitahu namamu pada ku, kau akan kupanggil arifah saja,yah." aku memutuskan nama untuk gadis itu.


Gadis itu mengambil roti yang kuberikan. berhubung hari sudah lewat tengah malam aku mengajak arifah berjalan menuju ke atas untuk beristirahat. Tapi kelihatannya arifah tidak bisa berjalan karna luka di kakinya, aku yang kasian padanya, langsung menggendongnya di depan dengan kedua tanganku.


"nah, sekarang kau bukan budak lagi, sekarang kau adalah seorang tuan putri." ucapku sambil menggendongnya.


Tanpa ku sadari Arifah menangis mendengar kalimat ku tadi. Dia memelukku dengan erat. Aku yakin pasti dia sudah melewati masa-masa yang kelam dan menyakitkan. Sesampai di kamar, aku langsung meletakannya di tempat tidur, dan aku tidur di sofa yang menghadap ke arah nya.


Tetapi...sesuatu yang tidak terduga terjadi di pagi hari.


--bersambung--


1 koin emas seharga 10 koin perak.

__ADS_1


1 koin perak seharga 15 koin perunggu.


note: cerita ini sedikit saya ubah dari awal,karna penggunaan bahasa yang kurang tepat.


__ADS_2