Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Pergerakan Awal


__ADS_3

Pukul 14.01


Tanggal 13,bulan juni,1877


Flint dan Herald yang berniat pergi makan siang ke Caulite Cafe's tanpa sengaja bertemu dengan seorang pria berbaju putih, berambut blonde bergelombang dengan panjang sebahu, pria itu hampir saja melakukan hal tak senonoh pada seorang Gadis di hadapannya, sebelum pingsan gadis itu berteriak sangat keras, Hingga menyebakan Flint dan Herald datang kepadanya.


"berani sekali kau rakyat jelata!, aku ini anak walikota disini!, kalau masih mencoba melawan akan ku suruh pasukanku untuk menghabisimu!" Gertak orang itu.


"Hoo... Anak seorang walikota rupanya yah..." Flint tersenyum kejam ketika mendengar hal itu.


"a-apa yang kau ingin lakukan!" pria itu panik ketika melihat senyuman Flint.


{ Hassan, aku menemukan seorang anak pejabat yang hampir saja melakukan hal tak senonoh, apa yang harus aku lakukan? } Tanya Flint pada Hassan menggunakan Telepati.


- Lokasi Hassan saat ini -


Hassan yang sedang fokus berjalan memasuki hutan langsung terhenti ketika Flint mengirim telepati padanya.


"Ada apa kawan?" tanya Aldo yang ikut berhenti.


"Aku mendapatkan pesan telepati dari Flint." jawab Hassan.


"Apa isi pesannya?" tanya Riska penasaran.


"Ada seorang anak pejabat yang mencoba berbuat tak senonoh terhadap rakyatnya, menurut kalian apa yang harus Flint lakukan?" jawab Hassan sambil menanyakan balik pendapat mereka.


"Bunuh!" Jawab serentak Tujuh orang itu.


"Weh... Kejam, tapi kalau aku tidak memilih yang itu mungkin akan sangat beresiko bagi keadaan Flint dan kelompok pengamat kedepannya." pikir Hassan.


Hassan menghela nafas.


"Aku sudah memutuskannya." ucap Hassan dengan wajah serius.


- Lokasi Flint saat ini -

__ADS_1


"Begitu yah.. Sungguh hebat Adiku ini." Flint tersenyum kearah pria itu sambil tersenyum.


"apa yang ia katakan?." tanya Herald.


Flint hanya menjawab dengan senyuman licik.


Buuuuk...


"Tidurlah sebentar kawan!, aku akan mengantarmu ke surga." Ucap Flint sambil memeriksa tubuh pria itu.


Ketika Flint baru saja mau mengangkat pria itu, ia melihat gadis yang pingsan di sebelah pria itu, gadis itu adalah orang yang hampir di lecehkan oleh pria itu, Flint yang tak tega meninggalkannya begitu saja langsung memeriksa kondisi gadis itu.


"Masih hidup yah, Herald aku akan bawa dia ke desa dan juga gadis ini, apa kau bisa ikut?" tanya Flint.


"Kau ini, apa sebegitu niatnya kau meniru Hassan?, sampai-sampai ikut membawa seorang gadis ke desa." Goda Herald.


"Be-berisik lah!, A-aku cuma ingin menyelamatkan gadis ini, itu saja." Jawab Flint dengan wajah memerah.


"Baiklah, ayo kita bawa, sebelum para penjaga datang." Herald mengangkat tubuh pria itu.


Flint dan Herald pergi kedesa black rock untuk melakukan apa yang Hassan perintahkan.


Tanggal 13,bulan juni,1877


- Lokasi Hassan saat ini -


Setelah Berjalan berjam-jam menuju Hutan Cruel Heaven akhirnya mereka sampai di pinggiran hutan tersebut, rasa lelah dan penat membuat mereka semua terkapar di tanah secara bersamaan, kecuali Arifah, karena sejak daritadi ia selalu di gendong oleh Hassan, sampai energi Hassan benar-benar habis sekarang ini.


"Hassan?, kau kenapa?" Riska menggoyang-goyangkan tubuh Hassan.


"Aku pingsan..." Jawab Hassan dengan pelan.


"mana ada orang pingsan bicara!" Bentak Arifah terengah-engah.


"Tehehe~" Hassan tersenyum bodoh.

__ADS_1


"Lebih baik kita buat Tenda dulu, sebentar lagi Malam soalnya." Ucap Stove sambil terkapar lemah.


"tidak usah repot-repot, disana ada sebuah goa yang aman untuk kita beristirahat." Jawab Hassan Sambil menunjuk kearah goa yang ditutupi dedaunan lebat.


Beberapa menit kemudian, mereka semua berjalan kearah goa yang di sebut hassan.


Sesampai di goa, Hassan Dkk langsung masuk kedalamnya dan menutup lagi pintu goa dengan dedaunan, terlihat obor-obor yang sudah tertata rapi di tembok-tembok goa, beberapa kayu bakar yang tampak habis di gunakan kemarin malam dan duri-duri ikan didekatnya, tampaknya goa itu sudah pernah di tempati beberapa hari kemarin oleh seorang pemburu atau pedagang.


"weh.., sepertinya kita terlambat." ucap Aldo sambil mengambil salah satu obor yang ada di hadapannya.


"Terlambat atau tidak, maksud kita kemari bukan untuk menempati goa ini..." Hassan duduk bersila di depan pintu goa yang tertutup.


"Tapi untuk membasmi monster yang ada DISINI!" sambung Hassan sambil membuat sebuah api biru di tangannya.


"Haaaah!!!" Jawab serentak Elbert, Aldo, dan Stove.


"Aku tak tau apa niat mu sebenarnya, tapi saat aku melihatmu kembali pada hari itu..."


Semua orang yang ada disitu menatap Riska dengan tatapan yang sama, kecuali Arifah.


"Aku merasa kalau kau bisa memprediksi bencana yang akan terjadi..." Sambung Riska.


"Bukan hanya bencana biasa yang akan terjadi.." balas Hassan.


"Eh.." Elbert kebingungan.


"Tapi perang antar ke tujuh ras terkuat di bumi." Sambung Hassan.


Semua orang terkejut dengan sesuatu yang Hassan katakan, selama ini mereka mengira bahwa yang di khawatirkan Hassan hanyalah bencana alam biasa atau bentrokan warga desa dengan Kerajaan. mereka yang mendengarnya hanya bisa terpengangah tidak percaya.


"Kalau begitu.., kita harus cepat." Ucap Riska dengan wajah serius.


"Yah.., kau benar, kita tidak akan tau kapan dan dimana perang besar itu dimulai." balas Aldo.


"Lebih baik kita istiratkan dulu tubuh kita sekarang, lagi pula kita tidak bisa melawan monster-monster itu sekaligus." Jawab Hassan.

__ADS_1


"Yah kau benar." Stove mengangguk.


- Bersambung -


__ADS_2