
Pukul 07.08
Tanggal 20,bulan Februari,1865
Braves dan Shane sudah pergi meninggalkan rumah, Marine hari ini tidak bekerja karena ingin beristirahat sebentar, Pagi itu Marine sedang membersihkan rumahnya, ketika ia keluar dari rumahnya untuk membuang sampah, seorang lelaki dengan Jubah hitam mendatanginya.
"Ah nona..." sapa lelaki itu.
"iya ada apa tuan?" Jawab Marine.
"Aku kesini membawakan sebuah surat untuk orang yang bernama Marine, apakah orang itu ada disini?" tanya pria itu dengan formal.
"Oh itu saya sendiri." jawab marine.
"Hooh... Kalau begitu, tanda tangani disini sebagai bukti penerimaannya." Pria itu mengajukan sebuah papan.
"oh iya." balas Marine.
"Kalau begitu saya pergi dulu yah." Pria itu pergi sambil mengecek surat lainnya.
"A.. Yah.." Jawab Marine kebingungan.
Setelah selesai membereskan rumah, marine langsung membaca surat yang dikirim padanya, ia terkejut mengetahui bahwa itu adalah sebuah surat pernyataan cinta dengan kata-kata puitis yang menurutnya sangat menjijikan, karena mengingat ia sudah mempunyai suami yang menurutnya sangat imut.
"Apa-apaan ini?, apakah dia gila?" Ucap Marine.
Marine pergi ke pintu depan sambil membawa korek api berbahan bakar gas, ia membakar surat cinta yang ia dapatkan.
Disisi lain ada seorang pria yang memperhatikannya dari kejauhan, pria itu ditugaskan oleh sang raja untuk mengawasi gerak gerik marine dan menjaganya dari lelaki lain.
"Sepertinya raja memang sebodoh yang aku kira." ucap pria dengan jubah itu sambil mengambil sebuah cerutu di balik jubahnya.
Marine kembali masuk kedalam rumahnya dengan wajah cemberut, ia tak menyangka masih saja ada pria hidung belang yang mendekatinya.
__ADS_1
- Istana kerajaan Encrases -
"Jadi bagaimana Herald?, Apa dia menerimanya?" Tanya sang raja pada Herald.
Note : Herald yang disini adalah Herald yang sama dengan pemilik bar yang membantu Flint dan Hassan.
"Bodoh yah?, dia itu sudah punya suami, truaaft, kalau jatuh cinta lihat-lihat dululah, seperti tak punya mata saja kau." Jawab Herald.
"Berani sekali kau herald, apa kau sudah bo-"
"Kalau mau bunuh, bunuh saja, tapi... Sebelum kau membunuhku aku akan berlari kearah mu dan menusuk lehermu itu dengan belati yang ada di kantung jubahku." Gertak Herald.
[ kalau kau berani memanggil penjaga, akan ku pastikan kau mati dengan wajah berlubang truaft sialan, apa kau pikir aku sebodoh itu memberitahukan jenis senjataku ] ucap herald dalam benaknya.
"Tch" Sang raja mulai kesal.
"Kalau tidak ada hal lain yang perlu di bicarakan, aku mohon izin untuk pergi, karena hari ini aku ada janji..."
"Dengan potongan tubuh manusia!, Hahaha!" Sambung Herald sambil berbalik badan kearah pintu keluar dengan tawanya.
"Orang itu... Harus segera ku lenyapkan." Ucap Sang raja sambil menatap pintu keluar ruangan yang baru saja di lewati herald.
Selang beberapa menit Herald meninggalkan ruangan sangaraja...
Duaar! Duaar!
Suara tembakan senjata api terdengar dari luar ruangan, sang raja yang penasaran langsung berlari menuju pintu di depannya, ketika ia membuka pintu tersebut ia melihat dua orang jasad penjaganya yang wajahnya sudah tidak utuh lagi.
"Kau berani mengancam ku Herald!!" Sang raja menatap tajam dari lorong satu ke lorong lain mencari Herald.
Sang raja memanggil semua penjaga yang ada di istana untuk mencari Herald, namun Herald berhasil lolos tanpa sepengetahuan Sang raja.
- Rumah kediaman Shane -
__ADS_1
Sore pun tiba, Braves yang sudah selesai dengan pekerjaannya pulang dengan membawa sebuah kantung belanjaan berwarna merah, kantung itu berisikan hadiah untuk sang istri.
"Aku pulang!" Ucap braves sambil mencopot sepatu dan topinya.
"Wah hari ini pulang cepat-" Ucapan Marine terhenti ketika melihat kantung yang di bawa Braves.
"Apa itu..." Tanya Marine sambil menatap tajam kearah Braves.
"Tada~" Braves membuka kantung belanjaan tersebut dan memperlihatkan isinya pada marine.
"Wah!, baju hangat." Marine mengambil baju tersebut.
Baju berwarna merah dengan tulisan "I WILL STILL ALIVE" langsung di pakai oleh marine, baju itu adalah baju asli hasil jahitan braves sendiri, tentunya 100% di jahit dengan cinta.
"Yeay!" Marine melompat sambil menepukan tangannya dengan Braves.
"Heh... Lumayan juga kau ayah, tapi jujur warna itu sedi-" Sebelum melanjutkan omongannya Braves langsung memakaikan Shane sebuah baju rajutan berwarna Merah muda dengan gambar hati di tengahnya, ukuran baju itu sangat pas dengan tubuh Shane yang kecil.
"Yeay!" kali Braves yang melompat sambil menepukan tangannya dengan Marine.
Shane tidak bisa melawan ketika di pakaikan baju tersebut, mengingat bahwa orang tuanya mudah sedih karena memiliki hati layaknya bayi jadi ia tidak melepasnya di depan mereka.
"Hah... Ini tidak buruk.." Ucap Shane.
"Wah bagaimana kalau besok kita ke tempat pencetakan foto?, kita foto menggunakan baju ini?" Tanya marine dengan semangat.
"Wah ide bagus tuh..." sambung Braves.
Disisi lain, di dekat jendela rumah mereka tampak Herald yang sedang memperhatikan mereka dengan wajah Khawatir.
"Apa kau benar-benar ingin membuat keluarga bahagia ini hancur Truaft?" Bisik Herald.
-Bersambung-
__ADS_1