
"Suara Sorakan yang terdengar Begitu ramai itu membuat ku muak, Apa yang sebenarnya mereka Soraki?"
Terlihat dua orang yang sedang merintih kesakitan di ikat di sebuah tiang sambil diarak warga.
"Kenapa... Bukankah Mereka tidak mempunyai salah apa-apa?"
Kedua orang tersebut diarak menuju alun-alun kota dimana disitu sudah tersedia dua buah alat pancung untuk mereka berdua.
"Tolong... Jangan apa-apakan mereka, mereka harta ku satu-satunya."
Kedua orang itu di hadapkan kearah seorang pria dengan muka yang ditutupi oleh kain, pria itu menggunakan Mahkota raja di kepalanya.
"Siapa... Siapa dia? Kenapa aku tak mengingatnya?"
Pria itu tersenyum di balik kain yang menutupi wajah nya itu.
"Apa... Apa yang terjadi?"
Kepala Kedua orang itu di taruh di alat pancung.
Seorang pria berbadan besar datang menghampiri salah satu dari mereka sambil membawa sebuah kapak.
"Tunggu.. Apa yang kau lakukan"
Pria berbadan besar itu memutus seikat tali yang ada di alat itu, pisau besar terjatuh di atas leher kedua orang tersebut hingga membuat mereka terpenggal.
"O-oi lakukan sesuatu!, selamatkan mereka!"
Seorang anak kecil berlari menuju tempat kedua orang tersebut sambil membawa sebuah pisau.
"Sudah.. Sudahlah hentikan..."
Anak kecil itu berlari kearah Lelaki bermahkota yang duduk di depan alat pancung tersebut.
"Oi sudahlah... Aku bilang sudah.."
Anak itu menyerang Lelaki bermahkota tersebut menggunakan pisau dapur, ia mengarahkannya ke bagian tenggorokan sampai darah keluar dari mulut sang Pria.
Para penjaga berlari menuju kearah anak kecil itu sambil membawa sebuah tombak di tangannya.
Para penjaga menusuk anak itu sampai mati mengenaskan, semua orang yang melihatnya... Tertawa...
Pukul 10.11
Tanggal 13, bulan Februari,1877
Shane terbangun dengan keadaan tubuh yang sudah di selimuti keringat dingin, ia mendapati dirinya yang ketiduran saat bersantai tadi sore di dekat sungai di dekat hutan.
"Cuma mimpi yah..."
Shane melamun merenungkan mimpinya tadi, mata shane tampak sedikit mengeluarkan air mata, tubuhnya terasa lemah dan lemas setelah melihat mimpi tadi.
Shane kembali merebahkan tubuhnya ke tanah sambil menatap bintang di langit malam.
Shane merasa sedang di awasi oleh seseorang dari balik pohon di belakangnya.
"Hoi kenapa kau sembunyi disitu?, keluarlah." Ucap Shane tanpa memalingkan wajah nya sedikitpun.
Dari balik pepohonan muncul seorang gadis berpakaian serba putih dengan cahaya hijau menyinari tubuhnya.
Wajah gadis itu sangat manis dan cantik, ia mempunyai mata bulat dengan rambut pirang keemasan yang di ikat rapih.
Gadis itu berjalan kearah Shane dengan sedikit berhati-hati.
"Kenapa kau menguntip ku dari belakang?" tanya Shane tanpa memalingkan wajahnya.
"kenapa kau bisa melihatku?" gadis itu bertanya balik.
"Apa ibumu tidak mengajarimu sopan santun?, jawab dulu pertanyaan ku baru kau boleh bertanya balik." Tegas Shane.
"Te-tentu saja di ajari!, Be-begini loh..., sebenarnya..."
Shane bangkit dari tidurnya lalu menatap dingin kearah Gadis itu.
"A-apa yang kau lihat." Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"apa yang kau lihat?" Shane masih menatap gadis tersebut.
"A-apanya?"
"Apa kau melihat sesuatu saat aku tidur?"
"Se-sebenarnya.."
"sebenarnya apa!?" Shane semakin mendekat kearah gadis itu.
"Sebenarnya aku penasaran saat melihatmu tidur sambil menangis tadi..." Jelas Gadis tersebut.
"Succubus yah?"
"Bukan!, aku ini seorang Dryad disini..." Jawab Gadis tersebut.
Shane menjauhkan diri dari Gadis Dryad tersebut sambil mengkibasi bajunya yang kotor.
"Silica..." Ucap Gadis itu dengan pelan.
"Apanya?"
"Namaku.."
"Oh yah... Aku pergi dulu." jawab Shane dengan cuek.
Shane berpaling dari hadapan Silica lalu pergi meninggalkannya.
Shane berjalan menuju rumahnya, Shane berjalan dengan sangat lemas dan pelan kerumahnya.
Sesampai di rumah, Shane merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci rumahnya.
"Eh?, kok gak ada?" Shane merogoh ke semua kantung yang ada di baju dan celananya.
"A-anu... Kau!"
Shane berbalik ke arah suara di belakangnya, terlihat Silica yang sedang menunduk sambil mengulungkan kunci rumah Shane.
"Ah terimakasih..." jawab shane sambil berbalik kearah pintu rumah.
"Salam kenal..." ucap Silica dengan lirih.
Shane menutup pintu tanpa menghiraukan Silica.
Silica sedikit merasa kecewa, ia membalikan badannya lalu berjalan menjauh dari rumah Shane.
"Salam kenal juga, Silica" Ucap Shane dengan keras dari balik pintu rumahnya.
"Hah!, I-iya salam kenal!" Silica berbalik sambil tersenyum.
"Salam kenal juga!, eh namamu siapa?" tanya Silica sambil berlari menuju pintu rumah Shane.
" ... " Shane sudah tidak ada di sana.
"Manusia!, siapa namamu!"
"Huh!, Sombong banget!" Silica menyilangkan tangannya lalu pergi dengan wajah cemberut.
Shane memperhatikan Silica dari balik Jendela ruang tamu, ia sedikit heran dengan sifat pelindung hutan yang satu ini.
"Tidur ah..." Shane berjalan menuju kamarnya.
____________________________________
Pagi pun tiba, sinar matahari mulai masuk kedalam kamar Shane, rasa hangatnya mentari pagi membuatnya terbangun dari tidurnya.
"Sudah pagi lagi yah..." ucap shane mengucek matanya.
Shane berjalan menuju jendela kamarnya, ia melihat keluar jendela kamarnya, tampak anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya dengan riang dan ceria.
Shane berbalik ke arah pintu kamarnya, ia melihat sebuah baju hangat berwarna merah muda yang tampak sedikit Lusuh.
"I will still alive..." ucap Shane pada dirinya sendiri.
"Kau tahu ibu..., sejak saat itu aku masih belum bisa merelakan kalian berdua pergi..., walau dibalas nyawa sekalipun..." ucap Shane sambil mengambil baju hangat tersebut.
__ADS_1
Shane teringat kembali kenangannya bersama orang tuanya saat ia memegang baju tersebut, Shane sebelumnya adalah anak yang ceria tapi... Setelah insiden itu terjadi.. Semua itu berubah.
____________________________________
Pukul 06.10
Tanggal 12,bulan juni,1865
"Shine!, Shine! Cepat bangunlah kalau tidak kau bisa terlambat loh..." ucap seorang wanita dengan wajah tirus, bulu mata lentik asli, dan rambut orange kemerahan.
Wanita itu adalah Marine, ibu dari Shane, Marine adalah wanita yang ceria dan periang, Di balik Sifat nya yang periang dan ceria, Marine juga seorang pekerja keras, ia bekerja sebagai petani di ladang dekat kota.
"Pagi?, aku bahkan belum merasakan aura kesiangan saat aku membuka mata tadi." jawab Shane.
"Akhirnya kau bangun juga." ucap seorang lelaki bertubuh besar dengan kumis tebal di bibirnya.
Lelaki itu adalah Braves, ayah dari Shane, Braves adalah lelaki yang pemberani dan juga lembut, Braves bekerja sebagi penjahit di ibu kota Encrases.
"sudahlah jangan melawan, ayo kita mandi..." Ucap marine sambil tersenyum licik.
"Ah tidak!, biar aku sendiri saja!" Shane melepaskan diri dari Marine.
[ terakhir kali aku mandi dengan Ibu aku berakhir dengan Rok pendek di pinggangku, tak akan aku biarkan itu kembali terjadi. ] ucap Shane dalam benaknya.
"Heh..." Marine cemberut.
Shane mengabaikan Ibunya lalu pergi mengambil handuk di lemarinya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Shane kembali ke kamar tidurnya, terlihat satu setel baju seragam yang sudah ibunya siapkan untuk Shane pakai, Tetapi...
"Tch..." Shane menyawang bentuk seragamnya itu.
"Sudah aku bilang aku tidak mau pakai pakaian Gadis!"
Pakaian yang disiapkan Marine adalah pakaian sekolah pada umumnya, namun yang membuat Shane kesal adalah jenis dari pakaian tersebut, marine memberikannya sebuah pakaian gadis SD, sedangkan Shane seorang lelaki.
"Ahahahahaha!!!" Braves dan Marine tertawa lepas.
Sebuah Urat muncul di kepala Shane.
[ apa mereka sadar sedang menertawakan anaknya sendiri? ] ucap shane dalam Benaknya.
Pukul 13.11
Tanggal 12,bulan juni,1865
Siang pun tiba, Braves dan Shane sudah pergi dari tadi pagi, Hari ini Marine tidak pergi bekerja karena merasa sedikit pegal-pegal di badannya, jadi ia memutuskan untuk beristirahat sehari saja.
Tok! Tok! Tok.
Suara pintu depan diketuk dengan sedikit kencang, Marine langsung mendekat menuju pintu depan rumah dan membukanya.
"Ah... Maaf mengganggu." ucap pria dengan baju biru dan topi biru muda, ia adalah tukang pos.
"Ah.. Tidak apa-apa."
"Ini saya mau mengantarkan sebuah surat, surat untuk... Marine betul yah?" tanya tukang pos.
"Oh ya, itu saya sendiri."
"Baiklah kalau begitu, tolong tanda tangan disini untuk tanda perimaannya."
"Yah..."
Pria itu meninggalkan Marine sambil mengambil surat lainnya yang ada di tasnya.
Marine kembali masuk kedalam rumahnya, setelah melihat isi suratnya ia terkejut dengan apa yang tertulis di dalamnya.
"Apa-apaan ini!, apa dia tidak tau kalau aku sudah punya suami." Marine menyobek surat itu.
Marine membawa surat itu keluar sambil membawa sebuah korek gas berbahan bakar gas.
Lalu membakar surat tersebut.
Dari kejauhan tampak seorang dengan jubah hitam sedang mengawasi rumahnya.
__ADS_1
"Hoh begitu yah..." pria itu pergi sambil mengambil cerutunya.
- Bersambung -