
----
Pukul 07.08 tanggal 22,bulan mei,1877
Aku terbangun dari Alam bawah sadar ku dan mendapati Arifah yang sedang tidur di sebelah ku, tampaknya ia sangat khawatir padaku karna tiba-tiba pingsan kemarin.
"Tuan sudah bangun...?" arifah terbangun dari tidurnya.
"iyah, Mat pagi!" ucapku sambil mengusap kepala Arirah.
"Pagi..." sahut Arifah.
"Eh!" Arifah terlihat terkejut ketika dia menyadari aku sudah bangun.
Arifah bangun dari tempat tidurnya, mukanya memerah sambil berjalan kaku layaknya robot kearah pintu depan, aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum heran.
"Kau... Kau tambah tinggi rupanya yah.. " aku melihat kearah arifah.
"Y-Ya ten-tentu saja lah..." jawab arifah agak gugup.
Setelah bertemu dengan Amon dan Lucifer ingatanku yang dulu hilang kini sudah kembali lagi, ingatan tentang siapa aku dan tentang kematian ayah dan ibu ku, Setelah memikirkan itu semua, aku bangun dari tempat tidur dan pergi keluar untuk melihat keadan desa, ketika aku membuka pintu, terlihat warga desa yang sedang bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan ke gunung gordon dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat desa baru di sana nanti. Karena beberapa jam lagi kami akan memulai perjalanan kami.
Terlihat elbert yang sedang sibuk mengatur tatanan barang bawaan, ia terlihat begitu kewalahan dengan tugas yang ia kerjakan, Tapi ia terus tersenyum agar pekerjaannya terasa lebih ringan.
"Eh kau sudah bangun rupanya, Proses persiapannya sudah 90%, tinggal menunggu kereta penumpang yang aldo pesan datang." Elbert Mendekat padaku sambil melaporkan apa yang terjadi.
"weh... Sudah sejauh itu rupanya, jadi... apa masih ada yang bisa aku kerjakan disini?" Tanyaku sambil tersenyum ramah.
"Ntah lah, tapi nanti tolong ikut bantu aku mengarahkan orang-orang ke kaki gunung gordon,bisa kan?,soalnya aku dan warga lainnya masih belum hapal betul jalannya" jawab Elbert sambil bertanya balik.
"Oh,kalo itu mah pasti." jawabku sambil mengacungkan dua jempol.
Ditengah-tengah perbincanganku dengan Elbert, Arifah yang sudah selesai mencuci mukanya mendatangi ku dengan wajah penasaran.
"Ada apa, apa ada masalah?" tanyaku.
"Bisakah tuan ikut aku sebentar?" Arifah menarik bajuku sambil menundukkan kepalanya.
"Aku lanjut kerja dulu yah, Dah.." Elbert meninggalkanku sambil melambaikan tangannya.
"Memangnya ada apa?" aku bertanya balik.
Arifah tidak menjawab pertanyaan ku, dan hanya menunduk dengan wajah murung menunggu.
"Baiklah aku ikut."
Arifah mengajakku ke sebuah tempat di belakang desa, tempat yang terlihat seperti sebuah lapangan dengan pagar di samping nya, tapi sebenarnya dulu tempat itu adalah sebuah ladang.
"Jadi ada apa..." tanya ku sambil merendahkan posisi tubuhku.
__ADS_1
"Apa Tuan sudah mengalahkan Lucifer dan Amon?" Tanya arifah tanpa basa-basi.
"kau..," aku terkejut dengan apa yang arifah tanyakan, aku juga baru ingat kalau beberapa hari yang lalu Arifah juga sempat mempertanyakan hal yang sama.
"Iya, aku sudah mengalahkannya." jawab ku singkat.
Arifah menatapku dengan tatapan lega dan sedikit terkejut.
"Syukurlah... Sudah ku duga, Tuan memang kuat." arifah tersenyum lebar sambil menekuk tangannya atas(syimbol kuat gimana gitu..)
"Arifah... Bagaimana kau bisa tau mengenai jati diriku yang bahkan saat itu aku masih belum menyadarinya." aku bertanya balik.
"sebenarnya aku ini seorang pengguna kemampuan Third eye's." jawab arifah.
Aku yang mendengar ucapan arifah, Teringat dengan sebuah cerita tentang sekte penyembah setan yang pernah menggegerka negeri ini beberapa ratus tahun lalu.
"Kalau tidak salah kemampuan itukan-" omonganku di potong oleh penjelasan Arifah tentang kemampuannya.
"yah... Kemampuan sekte iblis,bukan?, itu kenapa aku berada di bawah perbudakan orang itu, ketika pertama kali orang tua ku melihat ini, mereka langsung tidak mempedulikanku, mereka menjauhi ku dengan alasan bahwa aku ini akan membawa sial bagi mereka, dan akhirnya aku dijual ke orang itu dengan harga yang murah, hanya 30 koin emas, sebegitu tidak berharganya kah aku ini?" Arifah terlihat murung sambil menundukkan kepalanya menahan tangis.
Note : Third eye's adalah sebuah kemampuan yang hampir mirip dengan kekuatan indra ke6, atau mata batin, bedanya kemampuan ini dapat membuat pemiliknya bisa membuat sebuah kontrak dengan iblis dan berubah menjadi seorang kirara (sebutan untuk iblis sementara),biasanya kemampuan ini hanya dimiliki oleh para penyembah iblis, itu kenapa setiap orang yang mendapatkan kemampuan ini akan dikucilkan oleh banyak warga dan di tuduh sebagai pengikut sekte sesat.
"Tidak berharga?, siapapun yang bilang seperti itu padamu, sudah di pastikan ia tidak punya pikiran."
Arifah menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bagiku kau adalah orang yang paling berharga,
"Kau tahu?, sebenarnya nasib kita berdua itu hampir sama, dulu saat aku masih balita banyak orang yang membenci ku, karena aku adalah satu-satunya orang yang selamat dari insiden batu iblis, mereka mengira bahwa aku adalah penyebab kematian orang tuaku sendiri."
"Kita memang benar-benar mirip yah,Tuan" Arifah memegang tangan ku dengan wajah yang masih menahan tangisan.
"Dan lagi... Karena kau sudah ikut dengan ku kemari..." Aku menggenggam tangan kanan arifah.
Aku menuntun Arifah kearah kerumunan warga yang sedang istirahat, Nampak air mata arifah yang tidak jadi keluar dan wajahnya yang sudah mulai ceria.
"Karna keluargamu yang dulu sudah tidak peduli lagi padamu, Sekarang! Kami semua! adalah keluargamu yang baru! Kami tidak akan menjualmu seperti mereka!, kami tidak akan menjauhimu dengan alasan yang bodoh seperti mereka!, karna keluarga yang sebenarnya adalah sekumpulan orang dengan ikatan yang kuat, yang selalu mendukung mu, yang selalu menghiburmu, dan yang selalu menjaga mu!, tidak seperti mereka!" Ucapku dengan tegas.
Mata Arifah kembali berkaca-kaca dan tampak ingin sekali menangis, disisi lain, warga yang mendengar ucapanku langsung mendekat karena penasaran.
"aku juga bagian dari keluarga mu sekarang, karena itu, jika ada orang yang membuatmu menangis lagi, aku! Abraham akan segera membuat orang itu menyesal!" aku mengelus kepala arifah sambil tersenyum lebar.
Arifah yang dari tadi menahan tangis nya, kini tidak mampu lagi menampung kebahagiaannya dan menangis kencang di pelukanku.
Sementara itu, para pengganggu suasana mulai bermunculan dengan mulut iblis mereka di belakangku.
"Hoi tadi aku mendengar kata 'Berkeluarga' apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu hah!" Ucap Rusward.
Prank!
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan dengan gadis seImut dia, apa level berandalan mu itu belum mencapai batas?" Riska memukul ku dengan sebuah penggorengan besi.
"Hassan! Apa yang kau lakukan pada putri ku Hah." ucap Edward.
"Berjuanglah!" steve muncul dengan mengacungkan dua jempol.
"Apa yang kalian lihat dari kami berdua?!, cepatlah pergi sana!" Bentakku sedikit kesal.
"Ehehe..." arifah tersenyum kembali dengan posisi masih memelukku.
"Hoi, kereta nya sudah si-, Heh....! Apa ini, perbuatan Pedofile didepan umum?" Lagi-lagi aldo melontarkan pertanyaan bod*h dari mulutnya.
Wuush....Plaak!
Duabuah lembaran sendal Couple Hassan x Arifah melayang ke arah kepala Aldo yang baru saja datang.
Pukul 11.05 tanggal 22, bulan mei, 1877
Setelah situasi kembali normal, aku dan penduduk desa lainnya mulai menaiki kereta kuda yang dibawa aldo, aku dan arifah duduk di barisan tengah bersama Steve dan Elbert, Tapi rasanya dunia sperti milikku sendiri.
"Bisakah kalian hentikan dua orang ini, mataku sakit dibuatnya." ucap Steve.
"Kalau mau berpegangan tangan jangan didepan kami!, Hormatilah seorang kepala suku!" Elbert membuang mukanya.
"Bilang saja kalian iri, karena tidak bisa berpegangan tangan dan berpelukan seperti ku,Hehe." ejekku sambil memasang mimik wajah merendahkan.
"Diam kau Pedo akut! Kami juga bisa!!, jangan remehkan kekuatan seorang perjaka!" tegas Steve sambil mencengkram tangan Elbert dan memeluknya.
"Yah kami juga bisa!" Elbert mulai ikut-ikutan.
"Lebih baik pedo dari pada gay!" ucapku sambil menutup mata Arifah.
Beberapa menit kemudian setelah aku, Steve dan Elbert selesai bercanda.
"Tuan! Aku merasakan kekuatan yang amat besar dari arah depan rombongan kita!" arifah terkejut dengan kehadiran sesuatu.
"Ada apa!, apa ada yang terjadi di depan rombongan?" tanya steve.
"Biar aku yang melihatnya." aku berlari ke belakang dan loncat kearah kanan secara tiba-tiba.
Steve dan rombongan lainnya ikut berhenti karena terkejut dengan sesuatu yang menghadang mereka di depan sana,sebuah kepulan asap besar yang terlihat bergerak.
"apa kau bisa melihatnya?" tanya Steve padaku.
Sementara di barisan depan.
"Itukan....Segerombolan..." Gunther terkejut dengan sesuatu yang muncul dari kepulan asap di depan.
"Goblin!" Jawab ku serentak dengan Gunther.
__ADS_1
Semua orang yang ada di dekatku terkejut dengan apa yang aku katakan begitu pun gunther.
-Bersambung-