Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Goblin dan masa lalu part 1


__ADS_3

------


Pukul 07.08


Tanggal 25,bulan mei,1877


Didalam salah satu ruangan istana kerajaan Encrases, Greed duduk terdiam dengan mata tertutup menunggu informasi perkembangan rencananya. Dikamar itu Greed tidaklah sendirian, ia bersama dengan 10 bonekanya yang terbuat dari manusia yang sudah dicuci otaknya dan diambil jiwanya oleh Greed.


Dari depan pintu ruangan muncul sebuah bayangan dengan asap samar-samar, bayangan itu mulai membentuk tubuh seorang wanita, dia adalah Helda.


"Lapor tuan, saya membawakan informasi tentang desa di wilayah barat didekat padang rumput deadly grass." Helda membungkuk.


"Informasi apa itu?" tanya Greed,membuka mata kirinya.


"Seorang pemuda bernama Hassan telah memprovosi warga desa untuk pindah kewilayah neutral dan di duga ia juga membuat salah satu orang kita menjadi gila, tuan." jawab Helda.


"Bawa orang itu kepada ku, aku punya sedikit rencana untuk bermain-main dengannya."


"Baiklah tuan, saya akan segera membawa Has-"


"Bukan Dia, Tapi orang yang kau sebut sedang mengalami penyakit jiwa itu, aku akan membuat sebuah mainan baru dengan tubuh dan pikiran orang itu." Greed tersenyum kecil.


"Ba-baiklah tuanku."


Helda pergi meninggalkan ruangan dengan cara yang sama saat ia datang.


"Mulai dari hilangnya dua raja iblis terkuat, orang ku yang terkena serangan psikis, dan sekarang..., negeri ini memang terbaik." Greed menyeringai.


Pukul 09.20


Tanggal 25,bulan mei,1877


----


Di depan sebuah kerangka rumah, Tampak Hassan dan Elbert sedang kelelahan sehabis membangun sebuah sumur untuk sumber air warga.


"Ternyata menggali sebuah sumur itu lumayan melelahkan juga,yah." Elbert mengelap keringatnya.


"Silakan..." Arifah datang membawa kentang bakar dan beberapa cangkir kopi untuk para pekerja.


"Weeh, Akhirnya jatah makanan ku datang juga, terimakasih adiku." Steve mengambil kentang dan kopi sambil mengusap kepala arifah.


"O-oi, Berhati-hati lah dengan ucapan mu, bisa-bisa kau bernasib sama seperti Aldo,loh." Suga memperingatkan bahaya.


"Selagi dia tidak bermaksud buruk pada arifah, aku tidak akan mengganggunya, tenang saja." Sambar Hassan.

__ADS_1


"Pembohong!" Steve dan Aldo menjawab dengan serentak.


"Kalau kalian beda lagi persoalannya." Hassan melirik kearah Aldo dan Steve.


"Apanya yang berbeda oi." protes aldo.


"Soalnya kau selalu membuatku kesal dengan ucapanmu itu." balas Hassan.


"Perasaan aku tidak pernah mengatakan hal-hal yang membuatmu kesal tapi kenapa kau selalu menggangguku?" Tanya Steve mengkerutkan alisnya.


"Ah, bernafas itu indah yah..." hassan mengabaikan pertanyaan Steve.


"Hoi,Kurang ajar jangan aba-" sebelum steve menyelesaikan kalimatnya, Salah satu teman Gunther, Gerald berlari tergesa-gesa kearah Hassan dan yang lainnya.


"Ha-hassan, Go-goblin yang kemarin!, Da-datang kemari dengan pasukan yang lebih besar." ucap Gerald terbata-bata.


"Heh... Goblin!..." Aldo terkejut.


"Hoh... Dimana Para goblin itu." tanya Hassan.


"Di-dijalan dekat hutan desa kita yang lama." jawab Gerald.


"Jauh sekali..., bagaimana kau bisa tau kalau itu goblin." tanya Hassan sekali lagi.


"Soalnya mereka berteriak kearah ku dan penjaga yang lain." jawab gerald.


"A-apa..?" Elbert tampak kebingungan.


"Mungkin tuhan mengampuni mu, tapi aku tidak. Tenang sekali kau sialan!" Hassan terlihat kesal dengan perilaku pemimpin desa yang satu ini.


"Tehehe~" jawab Elbert.


"Arifah, minggirlah sebentar, aku mau membuat mulut tuan ini penuh dengan darah." Hassan berjalan kearah Elbert.


"Siap laksanakan,Tuan." Arifah berlari kecil kearah dapur.


"Tu-tunggu dulu, bagaimana kalau kita urus masalah goblinnya dulu." Aldo berusaha menghentikan Hassan.


"hah..., baiklah akan kusimpan mantra ku untuk nanti." Hassan menghentikan langkahnya.


"Kalau begitu ayo cepatlah sebelum para goblin itu menembus perlindungan protective tree."


"Yap ayo." Jawab Elbert.


Elbert dan Hassan berjalan menuju arah yang di tunjukan Gerald, di jalan Hassan melihat asap yang sama seperti yang saat itu, asap yang berasal dari debu yang berhamburan di-injak kaki para goblin.

__ADS_1


"Weh, ternyata benar itu mereka." ucap Hassan.


"Hah. Ba-bagaimana kau bisa melihat mereka dengan jarak mereka yang lebih dari 5kilo dari sini." Elbert terkejut sekaligus kagum dengan Kejelian mata Hassan.


"Untuk sekarang kita tunda dulu bahasan itu,lebih baik kau berpegangan dari pada terjatuh!" Hassan menarik baju belakang Elbert.


"Heh..?" Elbert curiga dengan apa yang akan Hassan lakukan.


Hassan menarik Elbert dan melesat secepat kilat ke arah para goblin.


Sesampai di hadapam gerombolan goblin Hassan menurunkan Elbert yang merangkul erat dirinya dan menatap para goblin dengan tajam.


Para goblin yang sedang berlari kencang langsung menghentikan Larinya.


"Tu-tunggu dulu manusia, ka-kami bukan bermaksud menyerang desa mu itu." Ucap goblin dengan tato yang kemarin-kemarin meminta maaf duluan kepada Hassan.


"aku belum mengucapkan sepatah katapun,loh." Hassan memandangi mereka layaknya sedang mengancam.


"Ja-jadi begini, karna pemimpin kami sudah terbunuh dua kali dalam sebulan ini, kami membuat keputusan untuk..."


"untuk apa? Membalas dendam?" tatapan Hassan semakin tajam dan mengancam dibarengi dengan aura iblis yang ia keluarkan secara besar-besaran.


"Ka-ka-kami me-memutuskan untuk menjadikan mu pemimpin baru kami." Goblin dengan tato itu terlihat mulai sulit untuk berkata-kata.


Uweeek...


Beberapa goblin yang merasakan aura iblis milik Hassan mulai merasa sesak dibagian hatinya, ada juga goblin yang muntah karna sudah tidak tahan lagi dengan aura mengerikan milik Hassan,ketika hassan melirik kearah Elbert, tampak ia sudah beberapa kali muntah.


"Ah.. Maaf-maaf, sepertinya aku berlebihan." Hassan menarik kembali auranya.


"Jadi apa kau mau menjadi pemimpin kami?" tanya goblin dengan tato itu.


"Baiklah, aku mau, tapi ada satu syarat, kalian harus bersumpah setia padaku dan penduduk desa dengan darah kalian, apa kalian berani?" tanya Hassan ingin membuktikan sebesar apa keseriusan mereka.


"Tentu saja!, kami akan melakukan apa saja agar di akui oleh mu." jawab para goblin.


"baiklah,Sekarang berpegangan lah pada ku dan jangan lepaskan sebelum sampai." Hassan tersenyum tipis.


"Yah... Baiklah.." para goblin terlihat kebingungan.


Wuuush...


Hassan berteleportasi ke desa dengan para goblin sambil mencengkram Elbert ditangannya.


Warga yang sedang beristirahat sehabis bekerja membangun perumahan dan beberapa fasilitas umum lainnya terkejut dengan kedatangan hassan yang tiba-tiba dan juga dengan apa yang ikut bersamanya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2