
Pukul 08.05
Tanggal 21,bulan Februari,1865
Hari itu Braves dan Marine beserta dengan Shane benar-benar pergi ke tempat pencetakan foto, sejak berangkat tadi pagi sampai masuk ke tempat pencetakan Shane masih saja menatap dingin pada kedua orang tuanya itu.
[ Umur mereka berapa sih *****!!! ] ucap shane dalam benaknya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nama mereka di panggil juga, yah di zaman ini tempat pencetakan Foto masih ramai benget peminatnya sih.
Ketika disuruh memilih latar belakang fotonya, Braves dan Marine setuju untuk memakai latar belakang berwarna putih, Braves dan Marine memilih sendiri gaya berfoto mereka.
Shane di tempatkan di tengah dengan wajah Flat kurang mengenakan, Marine dengan senyum ceria dan Gaya piece nya dan Braves dengan gaya dua jempolnya.
Flaaash...
Foto di ambil beberapa kali, ketika shane melihat hasil foto nya, tidak ada rasa penyesalan mau pun rasa malu, hanya ada rasa bahagia yang tersisa di hatinya, Shane berpikir bahwa orang tuanya adalah orang tua terbaik di dunia, karena mereka benar-benar sangat pintar membuat dirinya merasakan bahagiaan dan kehangatan dari sebuah keluarga.
"Wah mata Shane seperti ikan busuk,Hahahaha!" Ejek Braves sambil menunjuk kearah foto.
"Wajah mu juga seperti seseorang yang sedang mempromosikan produk dagangannya." balas Marine mengejek Braves.
"wah wajahmu juga seperti seorang Diktaktor!" Ucap braves Asal-asalan.
"Diktaktor dari mananya coba?" Marine menatap dingin kearah Braves.
"Hahahahah!!" Semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa melihat tingkah laku satu keluarga ini.
"Hah..., menurut ku pose kalian ini benar-benar bagus untuk di kenang, semoga saja kita bisa seperti ini selamanya." ucap Shane sambil melihat hasil foto tersebut.
"Shane..." Braves kehabisan kata-kata.
[ Aku harap bisa bersamamu selamanya nak..., kau dan Braves adalah harta paling berharga bagi ku sekarang ini ] ucap Marine dalam benaknya.
__ADS_1
"Yah, I WILL STILL ALIVE!" ucap Marine sambil mengarahkan jempolnya ke tulisan yang ada di dadanya.
"Apapun yang terjadi..., I WILL STILL ALIVE." ucap Braves.
"I-i will still alive..." Ucap Shane dengan lirih.
Setelah selesai berfoto, Braves, Mari dan shane pergi meninggalkan tempat pencetakan lalu berjalan menuju pasar untuk membeli beberapa makanan dan bahan menjahit.
- Istana kerajaan Encrases -
Di siang hari yang panas dengan sengatan matahari di sisi kanan tubuhnya, Herald berjalan santai di lorong kerajaan menuju ruangan sang raja.
"Mau apa kau!" tanya seorang penjaga.
"Ah, apa sang raja tidak memberitahu kalian?"
"memberitahu apa?" tanya balik sang penjaga.
"Tentang langit-langit di atas kalian yang meneskan racun kekepala kalian..." Herald menyeringai.
Bruuuuuak!
Pintu ruangan di dobrak dengan sangat keras oleh Herald, setelah pintu terbuka Herald langsung meraih dua buah pisau tajam di saku jubahnya lalu menusukannya pada tenggorokan kedua penjaga tersebut.
"Ah~, racunnya sudah membunuhmu pak penjaga~" ucap herald sambil mengambil kembali pisaunya.
Herald membalikan badan dan berjalan dengan tenang kearah Truaft yang sedang menulis sebuah surat.
"apa yang kau tulis?" tanya Herald.
"Apa kau punya perasaan?, setelah membunuh dua orang penjaga ku kau bunuh, kau dengan tenang menanyakan hal ini?" Truaft bertanya balik.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kau punya perasaan?, tega sekali kau mengganggu keluarga orang yang sedang bahagia-bahagianya." balas Herald.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Truaft menatap tajam kearah Herald.
"Wah apa ini~" Herald merebut surat yang baru saja di buat oleh truaft.
"oi! " Bentak truaft.
"Hai Bunga yang mekar di pagi hari, bolehkah aku-"
"Aku bilang kembalikan kemari!, apa mau mu sebenarnya Herald..." Keluh Truaft.
"Hoh... Surat cinta rupanya, akan aku beritahu padamu Truaft, sebenarnya surat mu yang kemarin itu sudah di bakar habis oleh Wanita yang kau sukai itu." Jelas Herald.
"Apa!!?"
"Dia membakarnya sampai habis, membakar kau tahu?" Tanya Herald dengan mimik wajah mengejek.
"Apa itu benar?"
"tentu saja!, dia itu mempunyai suami yang lebih hebat dari padakau, Tuan diktaktor!" Herald menempelkan ujung pisaunya pada surat truaft.
"Tidak mungki-"
Herald menyobek surat buatan Truaft dengan pisaunya lalu membakarnya di hadapan truaft sendiri.
"beraninya kau...!" Truaft mengambil sebuah senjata di bawah meja kerjanya yang sudah ia siapkan khusus untuk Herald.
Membunuh maksudnya :v
Herald lari keluar dari ruangan tersebut untuk mengambil sebuah grigen berisikan minyak tanah, setelah mengambil grigen tersebut Herald langsung melemparkannya ke arah Truaft yang sedang mengejarnya.
Duaaaaar!!
Herald menembak Grigen itu lalu dengan segera menutup pintu ruangan yang terbuat dari baja, emas dan perak sehingga ledakan hanya terjadi di dalam ruangan saja.
__ADS_1
"Good night Baby, i hope you enjoying the last Dream of you." Herald tersenyum lega.
- bersambung -