Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Pipi dan keberanian


__ADS_3

Pukul 11.57


Tanggal 13,bulan mei,1877


Siang pun tiba, sinar matahari yang mulai menyengat mata Steve dan kawan-kawan mulai membuat mereka drop, terlebih lagi hassan yang sedang memikirkan apa yang salah dengan dirinya sampai-sampai di jauhi Arifah.


Hassan yang mulai putus asa mencoba mencari jawaban pada Riska.


"Heh, Riska apa kau tau kenapa Arifah ku jadi sekesal itu." bisik Hassan pada Riska.


"Aku tidak tau..." Balas Riska dengan cuek.


"Baiklah aku akan mencari tahunya sendiri menggunakan caraku sendiri." Balas Hassan tidak puas.


"Caraku?, ah bodoah, palingan cuma minta maaf." Riska memalingkan pandangannya.


[ ini mungkin sedikit memalukan karna melakukannya di depan orang banyak, tapi aku harus! Karna jika tidak hubungan ku akan terus begini sampai mati! ] ucap Hassan dalam benaknya.


Hassan menghela nafasnya dan menyiapkan ancang-ancang, Riska dan yang lainnya hanya bisa menebak-nebak apa yang akan Hassan lakukan.


"Arifah!" Hassan menarik tangan Arifah.


Arifah memalingkan wajahnya kebelakang, kearah suara tersebut memanggilnya, dengan sigap hassan menggendong Arifah layaknya seorang putri.


"Tu-tuan?, E-eh maksudku Ablaham!, tidak maksudku Abraham!" Arifah terkejut dengan apa yang Hassan lakukan padanya.


"Ka-kalau begini sa-saja akan aku tendang lagi loh.." ucap Arifah dengan muka yang memerah.


"Baiklah..." Hassan tersenyum kecil.


Steve, stove, Elbert, Suga, Aldo, dan Riska hanya bisa menonton dan memperhatikan dengan seksama apa yang Hassan akan lakukan.


Disisi lain detak jantung Hassan semakin lama semakin cepat begitu pula Arifah, arifah sangat gugup sampai-sampai ia berpikir untuk pura-pura pingsan, tapi tidak... Hassan tidak membiarkan hal tersebut terjadi.


Hassan mendekatkan wajahnya dengan wajah Arifah lalu menciumnya sambil menutup mata kirinya, Arifah pun membalas ciuman Hassan.


"Jadi apa yang membuat mu marah tadi?" hassan menarik wajahnya kembali sambil tersenyum kecil.


"Ka-kau tau, Aku menganggap kau hanya mencubit pipi ku karena kau sayang padaku, tapi ketika aku melihatmu mencubit pipi Kak Suga.., hati terasa sesak..." Arifah mendekapkan wajahnya ke dada Hassan.


Disisi lain adegan ini...

__ADS_1


"Sasuga Hassan-sama!" Seru Suga yang sedang duduk menikmati tehnya.


"Akwu twak twau kwalwau mwau mwelwakwukwan itwu!" Ucap riska sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Heeeeeeeh profesional juga kau untuk seorang pemula, ini kah yang di namakan 'baru ber*k sudah tau caranya cebok' ?" Stove tersenyum bangga.


"Tidak, apa-apaan dengan perumpamaanmu itu." Hassa melirik dingin kearah enam temannya itu.


Hassan menurunkan Arifah yang keadaan hatinya sudah mulai membaik, kini ia bisa berjalan tanpa ada rasa sesak didadanya.


Sebelum melanjutkan perjalanan Hassan melihat Arifah yang sedang mengusap-usap pipinya, hassan penasaran dengan apa yang arifah lakukan terhadap pipinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan dengan pipimu itu?" tanya Hassan.


"Apa aku sudah terlihat imut?" Jawabnya dengan polos.


[ Ah begini deh jadinya, kalau perempuan berumur 16 tahun pikirannya masih sepolos anak kecil, imutnya tak tertandingi, tapi karena tinggi badannya.... Hm.. Arifah lebih seperti anak berumur 12-14thun kurasa. ] ucap Hassan dalam benaknya.


Setelah arifah melepaskan tangannya dari pipinya, Hassan langsung menyerang pipi arifah dengan cubitannya.


"Ehehehehe..." Arifah tersenyum bahagia.


Disisi lain...


Pukul 13.03


Tanggal 13,bulan juni,1877


Flint yang baru saja selesai mandi di penginapannya berniat untuk pergi mencari makanan untuk makan siangnya dan Herald, selama ini Flint bekerja di bar milik Herald seperti Hassan dulu, Flint yang dulunya sangat membenci Hassan kini benar-benar mengagumi Hassan, apa saja yang dilakukan hassan pasti ia tiru.


Flint menunggu Herald di depan barnya sambil memperhatikan kerumunan orang yang sedang berlalu lalang.


"Kau sudah lama?" Sapa Herald sambil mengunci barnya.


"Lama sekali kau, kau tau aku hampir mati kelaparan gara-gara menunggumu." Flint mengkerutkan alisnya.


"Ahaha!, seharusnya aku tidak keluar tadi." Balas Herald.


"Kau mendoakanku cepat mati?"


"Jadi kita makan dimana siang ini?" tanya Herald tanpa menggubris pertanyaan Flint yang sebelumnya.

__ADS_1


"Heh.., sepertinya aku tau tempat makan yang enak di dekat sini." Jawab Flint.


"Dimana itu?"


"kau tahu Caulite cafe's ?, aku pernah masuk kesana dan tak kusangka makanannya lebih enak dari yang lain, jadi?, mau kesana?" Tanya Flint.


"Hm... Baiklah.." Jawab Herald ragu-ragu.


"Baiklah diputuskan kita akan makan siang di caulite cafe's." Flint menepuk tangannya.


"Lewat sini!, aku tahu jalan pintas." Flint menuntun Herald melewati sebuah gang gelap.


Tidaaaak! Tolong! Jangan lakukan!


Sebelum keluar dari gang gelap tersebut, Flint dan Herald mendengar suara teriakan seorang Gadis yang berada di tikungan gang sebelahnya.


Flint yang mendengar teriakan tersebut langsung berlari menuju arah suara yang ia dengar.


"Sial!, ternyata benar ibu kota memang lebih buruk dari pada desa kita!" Gerutu Flint.


"kau baru menyadarinya?" Herald menatap Flint dengan bingung.


"Berisik!, yang penting adalah menyelamatkan orang yang menjerit tadi."


Setelah menemukan gang yang benar, Flint dan Herald langsung lari ke dalamnya, terlihat seorang gadis yang hampir saja di lecehkan oleh seorang pria berbaju putih dengan kalung emas di lehernya.


"Hoi bocah!, apa kau tau kami sedang melakukan apa!?, berani sekali kau!, apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa? Aku adalah orang terkuat di wilayah ini!, aku adalah orang yang membunuh puluhan goblin yang ada di desa barat, aku adalah-"


Bruuuuuaaaaaaaak!!


Flint melemparkan sebuah kursi berbahan besi kearah orang itu.


"Berisik sekali kau ini apa kau tak punya malu?, yang mengalahkan para goblin itu adiku, berani sekali kau mengaku-ngaku sebagai orang yang membunuh para goblin itu."


"berani sekali kau rakyat jelata!, aku ini anak walikota disini!, kalau masih mencoba melawan akan ku suruh pasukanku untuk menghabisimu!" Gertak orang itu.


"Hoo... Anak seorang walikota rupanya yah..." Flint tersenyum kejam ketika mendengar hal itu.


"a-apa yang kau ingin lakukan!" pria itu panik ketika melihat senyuman Flint.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2