Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Menuju desa Black rock


__ADS_3

Pukul 07.10, tanggal 21, bulan mei, 1877


mentari pagi yang menyinari wajahku membuatku terbangun dari tidur. Rasa sesak yang begitu nyaman terasa di bangian dada sampai perutku. Saat aku membuka mata dan menarik selimut yang menutupi badanku ini, aku terkejut melihat arifah yang tidur sambil memelukku di dalam selimut.


Note : Abaikan Salfok kalian terhadap “Ku”


"Oi..Oi..bangun! Bukankah aku sudah meletakkanmu di tempat tidur semalam?, kenapa kau malah tidur disini." aku mengangkat Arifah layaknya mengangkat seorang balita. [ yah.. Bukannya aku tidak suka tidur di sampingmu. ] dalam benakku.


arifah mulai bangun dari tidurnya, dengan wajah polosnya ia menguap. [ ah.. Imutnya ] dalam benakku. jiwa loliconku tiba-tiba bergetar.


"A..apa yang kau lakukan tuan!" Arifah terkejut dan mencoba melepaskan diri.


"setelah masuk kedalam genggaman dewa iblis kau ingin keluar?,tidak akan ku biarkan!" aku berdiri sambil mengangkat Arifah.


Herald yang mendengar suara teriakan arifah langsung berjalan menuju kamar abaraham dengan tergesa-gesa. sesampai di kamar, herald terlihat sedikit kecewa dengan apa yang ia lihat.


"aku kira tadi itu mendengar suara penyusup yang masuk kerumahku, tapi ternyata... Yang kulihat disini hanyalah seorang pedo yang sedang bersenang-senang" Herald berbicara dengan nada kecewa.


Aku menurunkan Arifah pelan-pelan ke bawah, dan tersenyum kearah herald. "ahahaha, sepertinya aku tidak bisa membantah omonganmu paman"


"jadi itu benar!?"


"yang lebih penting, tadi aku sudah memikirkan tentang cara kabur dari sini." aku mengambil tas yang berisikan barang-barang penting dan juga uang.


"kau tidak perlu khawatir, di kota ini hal seperti itu tidak akan menjadi masalah, karna orang yang kau potong tangannya malam itu... Terkena serangan psikologi." jelas Herald sambil mendekat kearahku.


"eh, bagaimana bisa?" tanyaku terheran.


"entahlah, ketika dia sadar dia terus bertiak 'Iblis' sambil ketakutan." jawab Herald.


Setelah mendengar penjelasan herald aku menjadi sedikit tenang, aku melirik ke arah arifah yang sedang mengumpat di belakangku karna takut pada Herald.


Aku merendahkan posisiku sambil menatap Arifah. "nah Arifah... Apa kau mau ikut dengan ku?" tanyaku sambil menaruh tangan ku di atas kepalanya.


"Ya...aku mau..." jawab Arifah dengan pelan.

__ADS_1


Aku kembali mengangkatnya sambil tertawa puas. " yeaaay hahaha...!"


"Lepaskan...! Lepaskan..!" Arifah meronta ingin turun karna merasa sedikit pusing.


"Tehehe~" aku tersenyum dengan memasang wajah polos yang terlihat bodoh di mata Herald.


Terlihat Arifah yang cemberut sambil menggembungkan pipinya dan menyilangkan tangannya. Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan bertanya-tanya, apakah ia sudah benar-benar sembuh dari trauma nya karna dipukuli oleh orang itu, atau dia hanya menutupinya dengan senyum palsunya.


--Desa Barat ( black rock village)--


Pukul 08.23 tanggal 21,bulan mei, 1877


Keadaan di desa ini sudah mulai mengkhawatirkan, banyak anak-anak mati karna kelaparan, beberapa rumah hancur karna serangan Ghoul, dan juga sapi dan kambing warga yang hilang dimakan Smiler.


"siapa saja!! tolong selamatkan anakku! Kasian dia... " teriak seorang ayah yang memeluk anaknya yang terlihat kering tidak berisi.


"maafkan Kami yang tidak bisa membantu mu Ed... Kami benar-benar menyesal atas kemalangan yang menimpa anakmu" ucap seseorang berbadan ramping yang terlihat sedang menahan lapar.


"Tak apa... Jean, Sekarang... Putri ku sudah tenang di alam sana..." Edward menangis deras sambil memeluk putrinya.


Semua penduduk desa black rock terlihat sangat tersiksa dan menderita akan bencana yang menimpa mereka, sudah lebih dari 5 hari mereka tidak makan dan hanya terus bertarung melawan makhluk lain saat menjelang malam setiap harinya untuk melindungi desanya.


-------------< Ibukota Encrases >----------


Pukul 10.20 tanggal 21, bulan mei, 1877


Aku sudah membeli beberapa karung roti untuk para warga di desa, untuk angkutan aku juga sudah menyewa kereta kuda, dan untuk tambahan aku sudah membelikan beberapa pakaian untuk Arifah, tak disangka uang yang aku kumpulkan selama beberapa bulan ini lebih sedikit dari pada yang aku kira, yah walaupun aku masih menyimpan koin emas yang di berikan paman herald tapi tetap saja itu tidak akan bertahan lama, karna banyaknya penduduk di desa ku, 30 koin emas ini tidak akan berarti apa-apa, dan sebaiknya sesampai disana aku harus cepat mencari tempat baru untuk desaku.


"Arifah...! Apa kau sudah siap??" aku memanggil Arifah yang sibuk mengganti baju nya dengan baju yang baru saja aku belikan.


"Tada~!" Arifah berlari padaku sambil memperlihatkan baju barunya.


Arifah memiliki rambut putih sepanjang punggung,matanya lebar dengan bulu mata yang lentik asli, dan tubuhnya lebih pendek 20 cm dari ku, dan memiliki sifat kekanak-kanak yang terkadang membuatku ingin memasukkannya kedalam mulutku sebagai makanan.


"Heh... Cocok juga ya..." aku mengelus kepala Arifah. "Sip!, ayo kita berangkat!"

__ADS_1


"Ah... Kalian sudah mau berangkat rupanya" Herald keluar dari dalam bar.


"Yah, aku tidak mau menyianyiakan nyawa mereka, kemungkinan salah satu dari mereka sudah mati karena kelaparan." aku memalingkan wajah kearah herald sambil tersenyum lesu.


"kalau begitu cepatlah!" Herald berjalan ke arahku. "dan ini, bawa juga ini, mungkin ini bisa membantu desa mu." Herald memperlihatkan 3 karung roti.


"Te..terima kasih, apa kau tidak rugi memberikan itu semua? Maksudku dengan semua yang kau berikan selama ini dan juga bagaimana kau membayar pajak toko mu? Bukankah harganya benar-benar memberatkan mu?." aku terkagum dengan kebaikan hati Herald.


"sebenarnya... Harga pajak di sini tidak berubah sama sekali, hanya desa-desa diluar ibukota yang harga pajak nya naik drastis." jelas herald.


Mataku membulat seakan tidak percaya dan bertanya-tanya akan sistem baru ini. Aku memalingkan wajahku ke arah istana dengan cepat. " Sebenarnya apa yang kau rencanakan, wahai aldebaran...!!" aku menatap tajam pada bangunan tertinggi dan terbesar di wilayah istana.


Note : Abraham/hassan mengetahui nama sang raja dari Herald.


Aku kembali memalingkan wajah ku pada Herald dan melihat semua angkutan sudah dinaikan oleh Arifah dan beberapa pekerja yang aku sewa.


"Wah... Kau ternyata kuat juga ya... Arifah-chan~" aku berlari menuju Arifah.


Arifah yang sudah tau kebiasaan ku langsung kabur kearah toko untuk mendapatkan perlindungan dari Herald. "Aaa...! Paman!! Tolong aku" Arifah berlari masuk kedalam toko.


Aku hanya bisa diam mematung sambil memasang muka datar dengan energi yang terkuras habis melihat Arifah lebih memilih Herald dari pada aku.


Semuanya telah siap, 8 kereta kuda sudah siap untuk berangkat dan menunggu perintahku untuk pergi ketempat tujuan. Aku mengucapkan salam perpisahan pada herald lalu pergi meninggalkan ibukota encrases.


---------


Pukul 14.27 tanggal 21, bulan mei, 1877


Saat dalam perjalanan, aku dan Arifah berada di satu kereta kuda yang sama, Tampak ia sangat gembira dengan suasana baru ini, setiap menitnya ia selalu bernyanyi dan ketika aku ikut bernyanyi, arifah malah kesal dan memukuli ku.


Beberapa jam kami di berjalan, Arifah nampak sudah mulai kelelahan dan berhenti bernyanyi lalu menyender ke bahu ku.


"Apa Tuan itu, seorang raja iblis?" Arifah bertanya dengan nada pelan namun memasang wajah yang serius.


Pertanyaan itu membuat ku terdiam, aku agak terkejut dengan apa yang ia tanyakan, dan menjawabnya dengan senyum keheningan.

__ADS_1


---bersambung---


__ADS_2