Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Shane Story part 4


__ADS_3

Pukul 05.32


Tanggal 28, bulan Februari,1865


Shane terbangun dari tidurnya, ia mendapati kamarnya yang gelap gulita, ketika ia mencoba menyalakan lampu kamarnya, tanpa di duga sebuah penampakan mengerikan berada tepat di depan mukanya.


~ kontraaak.... Buatlah kontrak... Dengan ku ~


ucap penampakan tersebut


"Ayah!! Ibu!!" Shane berteriak memanggil ayah dan ibunya sambil memejamkan matanya.


Braves dan Marine berlari tergesa-gesa ke kamar Shane mereka mengira ada Ghoul yang berhasil memasuki ibukota.


"Ada apa??!" Braves membuka pintu kamar dengan cepat.


"I-itu... Dia... Menakutkan..." shane menunjuk kearah jendela.


"Braves apa kau lihat sesuatu?" tanya Marine.


"Yah... Itu adalah iblis biasa... " Braves menghela nafas.


"A-apa ayah bisa melihatnya?" tanya Shane sambil merangkul Marine.


"Yah..., maafkan ayah karna belum pernah menceritakan ini padamu.." Braves menunduk sambil mengelus kepala Shane.


"sebenarnya ayah adalah seorang pengguna third eye's, dan tanpa sadar ayah sudah menurunkannya padamu, ayah benar-benar minta maaf karena belum pernah memberitahu mu..."Braves memeluk Shane dengan erat.


"tenang saja... Selama kau tidak mengatakan iya pada makhluk-makhluk itu, kau tidak akan di ganggu oleh mereka." Marine mencoba menenangkan Shane.


"Ta-tapi dia.." Shane masih menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Tenang saja... Bagaimana kalau shine tidur bersama ibu?" Marine mengelus kepala Shane.


Shane mengangguk setuju, Shane di bawa ke kamar Braves dan Marine dengan cara menggendongnya, sesampai di kamar, shane melihat sebuah bayangan hitam di pojok kanan kamar orang tuanya.


Shane meminta diturunkan dari gendongan Braves, braves kebingungan dengan sifat Shane yang seakan berubah menjadi berani secara tiba-tiba, shane mendekati bayangan tersebut.


"I-ini..." Shane memberanikan diri menyentuh bayangan tersebut.


Bayangan itu berbalik kearahnya, tampak gigi taring runcing tertata rapi di mulut tanpa bibir sang bayangan, matanya merah menyala dan air liur asam keluar dari sela-sela giginya, semakin lama semakin di perhatikan bayangan itu tampak membesar dan berubah menjadi sesosok anjing raksasa lalu meraung pada Shane.


Rooooaaaaar!!


Detak jantung Shane mulai tak terkontrol, ia mempunyai keinginan untuk lari namun tak bisa menggerakan badannya dengan bebas, pada akhirnya...


"Shane mundur!, dia iblis tingkat menengah!, Smiler Dogs!" Braves mencoba berlari kearah Shane namun tidak bisa karena aura iblis milik Smiler Dogs yang begitu kuat.


Pluk..


"Sha-Shane? Kau...?" Braves mendekati Shane yang terdiam di dekapan Smiler dogs.


"Hangat... Hangatnya.." Shane merangkul Smiler dogs lebih erat.


"Hah!, jangan buat orang tua mu khawatir dasar pemula!" Braves menjitak kepala Shane.


"Shane.. Bukan kah itu... Anjing yang waktu itu sering bermain bersama mu saat kau kecil dulu." Marine mendekat kearah Braves dan Shane.


"kau bisa melihatnya?"


"Yah..., tapi kenapa?" Marine kebingungan.


"Ma-marine? Kau?!"

__ADS_1


"A-apa ada yang salah denganku?" Marine menatap mereka berdua dengan mimik wajah tak percaya.


Di antara Kedua mata Marine muncul sebuah mata tambahan, mata itu adalah wujud asli dari kekuatan Third eye's, mata ketiga yang muncul di antara kedua mata tersebut dapat membuat pemiliknya melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang biasa.


"A-apa kau sudah pernah membuat kontrak dengan iblis?" tanya Braves tak percaya.


"Se-sepertinya iya..., du-dulu waktu Shane baru saja lahir aku tidak sengaja menjatuhkan darahku ke atas Air di mangkuk kuno di goa dekat kebun kita." jelas Marine.


Setelah mendengar penjelasan Marine, Braves dan Shane melihat sesosok iblis dengan wujud abstrak, wajahnya berubah-ubah, tubuhnya berapi-api dengan senyuman mengerikan ia menatap mereka berdua.


"Za-zalgo..?" mata Braves terfokuskan pada sosok di belakang Marine.


"Marine!"


"Ibu!"


Shane dan Braves memeluk Marine agar ia tak kehilangan kesadaran, Shane memeluk erat tubuh Marine.


"Aaaaa!!" Zalgo keluar dari tubuh Marine.


Marine memuntahkan sedikit darah dari perutnya, Braves membawa Marine ke kamarnya untuk beristirahat.


"Semoga saja ibu mu tidak apa-apa yah." Ucap Braves mengelus kepala Shane.


"Yah..." Shane mengangguk.


Disisi lain kejadian ini, ada seseorang diluar rumah Braves yang menguping pembicaraan mereka, pria dengan pakaian hitam menutupi seluruh tubuhnya dengan armor di dada dan bahu berwarna hitam.


"Kemenangan untuk ku!"


- bersambung -

__ADS_1


__ADS_2