Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Hutan Cruel Heaven


__ADS_3

Pukul 04.54


Tanggal 13,bulan juni,1877


Pagi hari yang cerah seperti biasanya, angin sepoi-sepoi berhembus sangat sejuk dari utara, membuat suasana desa ini semakin damai.


Pagi ini adalah hari dimana herald dan Flint kembali ke kota untuk kembali bekerja seperti biasa, walau terasa berat namun apa boleh buat mereka sudah membuat pilihan mereka sendiri, Flint kembali ke ibu kota untuk menjalankan tugasnya mengamati kerajaan dan herald kembali ke kota demi menjaga kelompok Flint dari penjaga kerajaan.


"Hah, kenapa kau harus pergi paman?, kau kan bisa tinggal disini untuk sementara waktu, setidaknya sampai raja itu meninggal." Ucap Flint dengan nada tidak puas.


"Heh... Apa kau terganggu dengan kehadiranku di bar,nak?" Balas Herald.


"Tentu sajalah... Kau selalu saja merebut pelanggan wanita dari ku, kau tahu, kehidupan anak muda seperti ku itu sangat sebentar, jadi jangan buat kehidupanku lebih suram lagi."


"Dasar penggerutu..." Herald menatap Flint dengan tatapan dingin.


"Kapan-kapan mampir lagi,oke" Ucap Hassan sambil mengacungkan jempol.


"Kalau aku bisa, lagi pula diumurku yang seka-"


"Umur mu apanya?.. Kau masih muda begitu, mungkin jika kau agresif sedikit, kau bisa mendapatkan Lima istri sekaligus." puji Hassan pada Herald.


"Ahaha!, kau memang pintar sekali membuat orang lain senang nak Gray." Herald merangkul Hassan dengan lengannya yang penuh otot.


"Ah aku lupa memberi mu sesuatu."


"Apa itu nak?" Tanya Herald.


Hassan menempelkan Jari nya ke kening Herald lalu memasukan duabuah kemampuan, kemampuan Teleport dan Telepati.


"Ini..kau..?" Tampak Herald sedikit Takjub dengan kekuatan Hassan yang sekarang.


"Yah benar, itu kemampuan untuk berpindah tempat, mungkin suatu hari nanti akan sangat berguna untuk mu." jawab Hassan.


"kau memang penuh kejutan." Herald tersenyum.


"Hati-hati di jalan!" Ucap Hassan kepada semua pengamat.


Flint, Angel dan Kawan-kawan nya tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu menghilang menjadi partikel-partikel kecil.


____________________________________


Pukul 09.10

__ADS_1


Tanggal 13,bulan juni,1877


Setelah mengantar kepergian Flint Dkk ke kota, Hassan berniat untuk menjelajahi hutan barat, hutan itu bernama Cruel Heaven, di hutan itu terdapat panorama alam yang indah dan juga sumber dayanya yang masih amat sangat terjaga, tapi jangan senang dulu nama hutan itu terdapat kata 'Cruel' atau kejam, di hutan itu terdapat ribuan monster mengerikan berkatagori Karnivora contohnya Chupacabra, Vampire, manusia serigala, Ghoul, dan beberapa lainnya.


Hassan sudah menguatkan tekad nya untuk pergi kesana, ia mengajak lima orang bodoh sahabatnya untuk ikut kesana, lima orang bodoh tersebut adalah Steve, stoven, Elbert, Aldo, dan Nakajima Suga, sebagai tambahan Hassan juga mengajak riska untuk ikut, agar arifah tidak kesepian karena tidak ada teman sesama jenis, apalagi umur arifah sekarang sudah 16th.


"Yo sudah lama?" Sapa Suga dengan senyuman khasnya.


"Oh, belum aku juga baru sampai, ngomong-ngomong apa kau- UWAA! kau bawa apa itu?" Pandangan mata hassan yang tadinya fokus ke wajah suga kini teralihkan pada karung Suga yang segede gaban.


"Ah, ini heheheh... Karna aku agak feminim jadi aku bawa beberapa barang-barang." jawab suga sambil merubah gerakannya layaknya seorang putri pemalu.


Hassan yang melihat tingkah Suga yang semakin mirip dengan aldo menjadi kesal, tampak urat yang keluar dari dahinya.


"Mati!, cepat mati sana." Hassan menatap dingin pada suga.


"Kejam!" balas suga dengan menjatuhkan diri layaknya seorang istri di sinetron indosi**.


"Tch.."


"Tuaaan!" sapa arifah sambil berlari penuh semangat.


"Haduh jangan lari-lari begitu, nanti kau terjatuh." Ucap riska yang menemani Arifah di sampingnya.


"Ah bunga ku sedang tumbuh." kata hassan sambil tersenyum kecil kearah Arifah.


"Dari pada bunga mungkin lebih tepat jika disebut buah." ucap Suga sambil memperhatikan Arifah.


Hassan menatap wajah Suga dengan teliti sambil memikirkan arti kata yang Suga ucapkan tadi.


"Sialan!, apa yang kau lihat dari arifah!" hassan mencubit pipi suga sekeras-kerasnya.


"Ampwun Hwaswan akwu mwenywerwah!" ucap suga dengan pipi mulai memerah.


"Hmp.." hassan memalingkan mukanya dari suga.


Arifah dan Riska sudah sampai di dekat mereka, arifah yang melihat Hassan sedang mencubit pipi suga, menjadi murung tanpa memberitahukan masalahnya.


Dari belakang mereka terlihat trio Tol*l sedang bercanda ria sambil berjalan menuju kearah Hassan.


"Ah maaf kami terlambat" Steve berlari kecil sambil membawa barang bawaannya yang lumayan besar.


"Hohoho.. Ternyata kalian masih disini rupanya" sapa Stove dengan gaya ala cowboy nya.

__ADS_1


"Heh... Pagi-pagi gini." keluh Elbert yang matanya tersakiti oleh pemandangan calon suami istri.


"Nah, jadi kenapa kita pergi ke hutan Cruel Heaven?, bukankah masih banyak hutan lain yang mempungai sumber daya alam yang masih bagus?" tanya Riska terheran.


"Yah benar kenapa harus Cruel Heaven coba?, bukankah hutan dekat desa kita yang dulu juga masih terjaga ke asriannya?" sambung Aldo.


"Heh!, sejak kapan kau disini?" Hassan dan yang lainnya terkejut dengan kemunculan aldo secara tiba-tiba.


"Tehehe~" Aldo memasang wajah bodoh yang sok imut.


"Aku mau membuat sebuah pengungsian disana" jawab Hassan dengan singkat.


Setelah mendengar jawaban Hassan, Elbert dan yang lainnya terenung sebentar, mereka memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi pada desa atau ibu kota, mereka enggan menanyakan hal itu karena takut akan kebenarannya.


"Yosh ayo pergi!!" Seru Suga memecah keheningan.


"Apaan itu 'Yosh' bahasa mana yang kau pakai?" Tanya Steve mengalihkan pikirannya tentang bencana yang Hassan maksud.


"Ayo ayo!, kita harus bergegas!, aku mau menunjukan performa sihir ku yang sudah mendekati Hassan!" Stove memulihkan semangatnya.


"Mendekati?, coba saja buat satu Protective tree, nanti aku akui kau sepadan dengan ku." Hassan tersenyum kearah Stove.


"Hah!, mana mungkin manusia biasa bisa melakukannya." sambar Aldo.


"Nah.. Hassan, apa ada alasan khusus kenapa kami yang kau pilih untuk menemani mu ke hutan Cruel Heaven?" Riska sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin taunya.


"mudah saja, aku memilih aldo karna dia cerdas, aku memilih Elbert karna dia mahir memasak, aku memilih Stove karna mengerti bagaimana cara bertahan hidup dihutan, aku memilih Suga karena ia memiliki pengetahuan yang luas akan Makhluk malam, dan aku memilihmu karna kau wanita, jadi kau bisa menemani arifah agar ia tak sendirian." jelas Hassan sambil tersenyum riang.


"Heh cuma itu.." Riska terlihat sedikit kecewa.


"Ya memang itu, apa kau mau alasan lain?, misalnya kau imut gitu?" Hassan memandang Riska tanpa menyadari arifah yang sedang murung.


Buuuk....


"Adududududuh... Apa yang kau lakukan arifah!" Hassan memegangi kaki kirinya yang di tendang Arifah.


"Hmph.." Arifah memalingkan wajah nya.


"Hooh... Omoshiroi nah..." Ucap Nakajima dengan bahasa daerahnya.


"Oi!, kenapa sih..?" Hassan cemberut melihat arifah yang baru saja menendang kakinya.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2