Sebuah Takdir

Sebuah Takdir
Amarah dan Rasa suka


__ADS_3

Saat Hassan mencoba untuk tidur malam itu, ia tanpa sengaja tertarik ke sebuah dimensi di alam bawah sadarnya, dan bertemu dengan seorang pria yang memiliki wajah,postur tubuh mirip dengannya, namun pria itu terlihat seperti mempunyai rencana busuk untuk teman-teman Hassan.


"AKU SUDAH BERJANJI!!, AKU AKAN MELINDUNGINYA HINGGA AKHIR DAN TIDAK AKAN MENJUALNYA KEPADA SIAPAPUN!!, KARNA DIA ADALAH KELUARGA DAN JUGA ORANG YANG PALING AKU SAYANGI!!" Hassan berbalik ke arah pria itu sambil menatap Tajam kearahnya.


"Kalau begitu coba lah untuk mengalahkan aku, agar aku tidak menjualnya!" pria itu melepas jasnya sambil tersenyum.


Wush....!


Kedua orang itu berlari layaknya angin, mereka berdua benar-benar lincah dan cepat.


Fire Arm!


Hassan mengeluarkan kekuatan api nerakanya, ia mengarahkan tangannya pada pria berjas itu dan menembakkan sebuah bola api berwarna putih.


"Tembakan seperti itu tidak akan bisa melukaiku!" Pria itu tertawa sambil merendahkan diri Hassan.


"Siapa bilang!" Hassan tiba-tiba berada tepat di depannya.


Karna saking terkejutnya, pria itu lupa kalau di belakangnya ada api neraka yang masih menyala.


"Sial*n!, tapi boleh juga kau!" pria itu tersenyum.


Craaak...Craak...Craaak..Craaak.. Crak!


Jutaan jarum menusuk dada hassan.


"kemenangan ku, sekarang berikan tubuhmu!, aku sudah tidak sabar menikmatinya!" pria itu berjalan menuju Hassan.


"Ka-kau bahkan lebih buruk dari pada Lucifer!, A-aku pasti Akan Me-mbunuhmu!, andai sa-ja k-kau tidak pe-pernah terlahir!" ucapa Hassan.


"Hoh... Walau sudah tidak bisa bergerak kau masih saja mencoba untuk melawan rupanya!" Pria itu semakin dekat dengan Hassan.


"Memangnya seberhaga apa gadis itu!" pria itu menjambak rambut hassan yang sedang tertusuk jutaan jarum.


"Dia adalah... Satu-satunya orang yang dapat menghiburku di saat aku sedih, dia adalah seorang gadis kecil penuh luka yang mempunyai sifat polos,jangan coba-coba kau sentuh dia!,apa kau mendengarnya sialan!" jawab Hassan.


"Heh..jawaban yang Ba-"


Absorption!!


"Apa yang kau lakukan, kau mencoba menyerapku?,Hoi! Sialan!!!" Pria itu terserap kedalam tubuh Hassan.


Beberapa menit kemudian Hassan mulai beregenerasi dan kembali pulih seperti semula. Hassan masih memikirkan tentang nyawa asli dari raganya dan juga nasib orang-orang yang ia sayangi jika Nyawa aslinya yang mengambil alih raganya.

__ADS_1


"Tekad mu besar juga, diriku!" ucap pria dengan jas putih yang sama dengan Hassan.


"Kau lagi!" Hassan dengan segera meluncurkan pukulan ke wajah pria itu.


Buk...!


Pria itu terlempar sepuluhmeter dari tempatnya berdiri, di lanjut dengan tendangan hassan yang menghantam perutnya kebawah, Hassan terus memukuli orang itu sampai beberapa menit berlalu.


"Apa maumu sekarang hah!" Hassan mencekik pria yang mirip dengan dirinya.


"Tenanglah... Tadi aku hanya mengetesmu, apakah kau berbuat baik karna merasa bersalah atau karna keinginanmu sendiri." ucap pria itu.


"mengetes?"


"Yah... Aku sudah tidak bisa lagi menempati tubuh itu, jadi sekarang orang yang paling palsu adalah diriku." jawab pria itu.


Hassan menurunkan pria itu.


"Aku ingin berterima kasih karna kau selalu menjaga tubuh ku dengan baik, dan juga karna sudah menggantikan ku menangis saat kepergian orang tua kita, karna itu... Aku ingin memberi mu nyawa dan jiwa ku ini."


"Bagaimana dengan mu!,bukankah kau belum sempat menjalin persahabatan dengan siapapun."


"kau ini... Walau sudah aku lukai tapi tetap saja mengkhawatirkanku, aku akan pergi ke alam akhirat dimana semua orang mati berkumpul jadi aku


tidak membutuhkan jiwa dan nyawa ini,Ambilah ini hak mu" jawab pria itu.


Absorption


Pria itu menghilang setelah terserap ke tubuh Hassan, Ingatan pria itu masuk kedalam otak Hassan dan menyadari bahwa semua itu hanyalah kebohongan, pria itu tidak pergi ke alam lain melainkan Lenyap untuk selama-lamanya.


----


Pukul 13.08 tanggal 24,bulan mei, 1877


Hassan terbangun dari alam bawah sadarnya sambil meratapi kepergian dirinya yang lain, ketika melihat arifah yang sedang bersedih di sisinya, Hassan langsung tersenyum dan menyembunyikan rasa bersalahnya, dan tersenyum kearah Arifah untuk menghiburnya.


"Tu-tuan, akhirnya kau sadar juga..." Arifah menangis sambil menempelkan tangan Hassan ke pipinya.


Terlihat banyak sekali orang yang berkumpul di sisinya, mereka semua tampak khawatir dengan kondisi Hassan, karna ia sudah mati suri selama 2 hari lebih, tapi sekarang mereka sudah lega karena melihat Hassan kembali bernafas lagi.


Hassan yang melihat arifah sedang menangis teringat pesan terakhir "dirinya" untuk dirinya.


*Flashback detik-detik lenyapnya hassan*

__ADS_1


Pria berjubah putih itu tampak mulai memudar dan lenyap, sementara ingatan dan nyawa hassan masih belum benar-benar masuk ketubuhnya, Pria itu tersenyum bahagia sambil menatap Hassan.


"Hiduplah dengan bahagia!, dan selamatkan banyak orang!, jangan buat orang lain menangis lagi oke?" Pria itu tersenyum sambil mengejek Hassan.


"Apa maksudmu!,bukankah kau yang sedang membuatku hampir menangis?" jawab Hassan.


"Satu lagi, Ungkapkan semua yang ada di hatimu dan tetap lah percaya pada kebaikan."


"apa-apaan kau ini,Guru kah?,disini aku yang-" Hassan menyadari kebohongan di balik sifat baik pria itu.


"Kau menyadarinya?, Hiduplah sobat!"


"Kau.. Kau berbohong tentang alam setelah kematian bukan?, kau akan lenyap selamanya bukan?, kenapa? Kenapa kau mau memberikannya padaku!" Hassan memeluk pria itu.


"Kau sudah tau bukan...untuk.." sebelum melanjutkan kalimatnya, pria itu lenyap bagai debu, ia menghilang begitu saja tanpa bekas.


Disisi lain, Hassan Tersenyum lesu, ia merasa bersalah dengan lenyapnya dirinya yang asli, karena kemunculannya dirinya yang asli harus hilang dari dunia dan tidak bisa merasakan bagaimana rasanya hidup,walaupun memiliki nyawa dan jiwa tapi ia tidak memilik raga,karna raga nya sudah Hassan rebut tanpa sengaja.


"Untuk membuatku hidup dan menikmatinya,bukan?" Hassan tersenyum lesu sambil memandangi langit-langit.


*Flashback Selesai*


"Arifah..." Hassan menempelkan tangannya pada pipi Arifah.


"Ya tuan.." jawab Arifah.


"Boleh aku tau umurmu sekarang ini?" tanya Hassan sambil tersenyum lemas.


"Dengan senang hati tuan." jawab arifah.


"15th tuan." jawab arifah.


Hassan tersenyum bahagia mendengar ucapan Arifah, ia bersyukur karna umurnya dan arifah tidak jauh berbeda, ia pun memutuskan untuk menjalankan pesan terakhir 'Dirinya' yang lenyap untuk mengungkapkan perasaannya.


"Aku...Mencintaimu..." Secara bersamaan Hassan dan arifah mengungkapkan perasaan mereka.


Muka Hassan dan Arifah sama-sama memerah, tubuh arifah bergetar kencang layaknya terkena serangan stroke, Wajah Hassan hampir tidak berekspresi sama sekali, Hassan mencoba untuk meredam rasa gugupnya dan memberanikan diri untuk menggengam tangan arifah.


Hassan tersenyum lembut dan bangun dari tempat tidur, ia mendekati arifah lalu mencium keningnya.


"Tu-tu-tuan.. A-pa yang..." Arifah terdiam.


"mari jalani hidup bersama!,dan kita taklukan dunia yang kejam ini dengan kekuatan kita." Hassan menaruh tangannya di kepala Arifah.

__ADS_1


"Yah.." Arifah tertunduk malu.


-Bersambung-


__ADS_2