
Bamm!!
Tanah tempat Wang Lin mendarat hancur, menciptakan sebuah lubang besar sedalam satu meter.
Di pelukannya, Wang Lin melihat Yan Ruyu bersikap tenang tanpa ketakutan sedikitpun.
Ini menimbulkan kejutan padanya, "Ruyu, apakah kamu tidak takut?" Tanya Wang Lin.
Tebing mereka jatuh memiliki ketinggian mencapai seratus meter, seorang Kultivator akan terluka serius jika jatuh dari ketinggian itu. Bahkan ranah Martial Spirit tidak terkecuali.
"Tidak sama sekali, aku percaya apa yang master katakan padaku." Jawab Yan Ruyu dengan ekspresi polos.
Wang Lin tersenyum masam, dia berkata pada dirinya sendiri. "Gadis ini, bukankah dia terlalu mempercayaiku?"
Setelah Yan Ruyu turun, ekspresinya sedikit cemberut. "Cih, kenapa master malah menurunkanku. Padahal aku ingin dia menggendongku sedikit lebih lama.."
Mengabaikan muridnya yang cemberut, tatapan Wang Lin menyapu pada sebuah kota besar yang berada dalam jarak pandangnya.
"Oh, kota ini lebih mengagumkan dari dugaanku.." Gumam Wang Lin.
Mereka berdua kemudian berjalan selama beberapa menit sebelum sampai di gerbang masuk kota mawar putih.
Ada banyak kelompok orang, entah itu pedagang, pengungsi, juga beberapa Kultivator.
"Berhenti!"
Ketik Wang Lin dan Yan Ruyu akan masuk kedalam kota, dia di hentikan oleh seorang pria besar yang memegang sebuah tombak.
"Biaya masuk, 5 koin perak per orang."
Wang Lin mengangkat alisnya karena terkejut, dia tidak menduga akan dikenakan biaya masuk hanya karena memasuki kota.
"Hmm, ini uangnya." Wang Lin menyerahkan sepuluh koin perak pada penjaga itu.
Dia kemudian menarik lengan muridnya dan masuk kedalam kota.
Pemandangan yang ia lihat selanjutnya dipenuhi dengan kerumunan orang yang menjual barang-barang di pinggir jalan.
"Aku sedikit lapar Ruyu, ayo kita cari restoran terlebih dulu."
Yan Ruyu mengangguk, dia mengikuti Wang Lin di belakangnya sambil mencari sebuah rumah makan untuk mereka berdua.
"Master, bagaimana dengan yang itu.." Yan Ruyu menunjuk sebuah bangunan besar dua lantai yang berada di samping yang kecil.
"Baiklah, ayo kita pergi kesana."
Klink!!
Suara alunan lonceng berbunyi begitu Wang Lin membuka pintu masuk.
Dia segera di sambut oleh seorang pelayan dan mengantarnya pada sebuah meja kosong.
"Permisi, aku pesan makanan terenak di tempat ini serta bawakan aku satu kendi arak dan segelas jus." Ujar Wang Lin pada pelayan itu.
__ADS_1
"Baik tuan, totalnya 2 koin perak.."
Setelah memberikan 2 koin perak pada pelayan itu, Wang Lin memejamkan matanya untuk memfokuskan pendengaran ke seluruh rumah makan.
Dia baru saja sampai di kota mawar putih, jadi ia memerlukan informasi tentang tempat itu. Rumah makan adalah tempat yang paling cocok untuk mencari informasi seperti itu.
Sementara itu duduk di kursi depannya, Yan Ruyu menatap Wang Lin sambil tersenyum. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali.
"Hah, Ruyu ... Bisakah kamu tidak menatapku seperti itu? Aku sedikit kurang nyaman."
Yan Ruyu tetap tersenyum, dia sama sekali tidak peduli dengan aoa yang gurunya katakan.
Menghela nafas, Wang Lin tidak berkata sepatah katapun dan fokus mencari informasi yang ada.
Tetapi tak lama ketika pelayan itu membawa makanan untuk mereka berdua, terdengar suara ledakan dari pintu rumah makan yang hancur.
Sekumpulan orang dengan seragam yang sama masuk kedalam rumah makan. Mereka berlima memiliki wajah yang sangat arogan dan memandang rendah setiap orang yang ada.
"Cepat kemari!" Teriak seorang pria di antara mereka.
Pelayanan itu ketakutan, dia berjalan dengan kaki gemetar. "Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" Ucapnya dengan suara terbata-bata.
"Cepat siapkan meja untuk dan juga saudaraku. Aku ingin kau membawa makanan terenak di tempat ini." Ujar pria itu dengan ekspresi acuh.
Pelayan itu mengatupkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala, "Maaf tuan, tapi saat ini tempat kami sedang penuh.."
Suasana menjadi hening sesaat hingga terdengar sebuah bunyi...
Pelayan itu menerima tamparan keras di pipinya, tubuhnya terhempas dengan beberapa giginya yang terlepas.
Wajahnya membengkak karena retakan yang terjadi di wajahnya.
"Apakah kamu tuli? Aku memintamu untuk menyiapkan meja, bukan untuk menjawab apa yang aku katakan."
Pria itu mengangkat salah satu kakinya dan menginjak pergelangan tangan pelayan itu hingga membuat suara retakan tulang.
"Arghh!!..."
Pelayan itu menjerit kesakitan, matanya meneteskan air mata menahan rasa sakit itu.
Semua orang menjadi diam, tidak ada yang berani menolong atau bersuara.
Alasannya sudah jelas, itu karena kelima orang tersebut adalah murid luar dari sekte api mengamuk.
Meskipun status mereka hanyalah murid luar, tetapi itu sudah cukup bagi orang biasa untuk menunjukkan rasa hormat kepada mereka.
"Oh, siapa Gadi cantik itu..." Tatapan pria dari sekte api mengamuk itu segera beralih pada sosok cantik Yan Ruyu.
Dia menghampiri meja Yan Ruyu dan berkata dengan angkuh, "Wanita cantik, maukah kamu ikut bersamaku? Aku adalah murid luar sekte api mengamuk." Jelas pria itu dengan penuh kepercayaan diri.
Yan Ruyu menatapnya sekilas kemudian memberinya tatapan sedingin es dan berkata, "Pergi!!"
Kalimat itu dipenuhi dengan niat membunuh yang membuat tubuh pria itu membeku, ekspresi berubah seketika.
__ADS_1
"Siapa yang memberimu keberanian menolakku, aku adalah murid luar sekte api mengamuk dan sebentar lagi akan di promosikan menjadi murid dalam. Kau seharusnya senang orang sepertiku bersedia berbicara denganmu."
Wang Lin memegang sumpit dengan dua jarinya, tanpa melirik pria yang menggoda muridnya. Dia melepaskan Sumput yang ada di jarinya.
Whus.
Crkk!!
Sumpit kayu itu menebus lengan pria yang menggoda muridnya, "Arghh..."
Pria itu tergeletak di lantai sambil menggenggam lengannya yang terluka.
Keempat rekannya yang menyaksikan itu sangat terkejut, mereka mengeluarkan pedang dari sarungnya dan meraung.
"Sialan, orang rendahan sepertimu berani-beraninya menyerang kami."
Wang Lin tetap duduk, dia hanya membuka sedikit mulutnya dan berkata.
"Berlutut!!."
Bamm!!
Tekanan yang begitu kuat menghantam tubuh keempat orang itu dan membuat mereka berlutut.
Mereka memuntahkan darah sebagai akibat dari organ dalam mereka yang terluka karena tekanan yang Wang Lin keluarkan.
"Aku hanya ingin makan dengan tenang disini bersama muridku, tapi sampah seperti kalian berniat melecehkan muridku yang berharga? Terima ini sebagai akibatnya!!."
Wang Lin berdiri, dia melangkah mendekat pada lima orang dari sekte api mengamuk.
Setiap langkah yang ia ambil membuat tekanan yang ia keluarkan semakin kuat.
"Arghh!!.."
Kelima orang itu meronta di lantai, tulang mereka remuk karena tidak kuat menahan tekanan yang Wang Lin keluarkan.
"Kurasa aku akan berhenti disi–..."
Slap!!
Sebelum Wang Lin menyelesaikan ucapannya, kedua jarinya menahan sebilah pedang dari seorang pria paruh baya yang tiba-tiba muncul.
Wajahnya tertutup oleh topi bambu, sementara dia mengenakan seragam yang hampir sama dengan kelima orang tadi.
Tetapi yang berbeda hanyalah warna seragam pria paruh baya itu.
Hanya dalam sekali lihat, Wang Lin menyadari bahwa pria paruh baya itu memiliki basis Kultivasi yang sama dengannya.
Dia menyeringai menatap pria paruh baya itu, "Menarik!..."
***
To Be Continued.
__ADS_1