
Saat ini di dalam kegelapan hutan, Wang Lin berjalan keluar melewati semak-semak. Sosoknya yang dibalut oleh jubah hitam membawa sebilah pedang hitam di tangan kanannya.
Dia tersenyum dari balik jubahnya dan berkata, "Kekeke, apa kau pikir aku sebodoh itu hingga membiarkan kalian kembali ke keluarga Wang?"
Mendengar itu, wajah Wang Ye semakin panik. Dia tidak menyangka bahwa orang yang telah di buang oleh keluarga akan menjadi sekuat itu.
Bahkan saat ini, dia tidak dapat melihat basis Kultivasi dari sepupunya.
"Se- Sepupu, apa yang lakukan di tempat ini?" Wang Ye seketika mengubah ekspresinya, mencoba bersikap setenang yang bisa ia lakukan.
Wang Lin tetap dingin tanpa ekspresi, dia berjalan semakin mendekat kearah Wang Ye dengan pedang tergenggam erat di tangannya.
"Hmph, aku tidak ingin membuang lebih banyak waktuku... Matilah sekarang!"
Wang Lin mengangkat pedangnya, gerakannya yang begitu cepat segera datang ke arah Wang Ye.
Slashh!!
Pedang di tangan Wang Lin turun, menebas tubuh Wang Ye tanpa membiarkan Wang Ye bersiap.
Sayangnya, pedang kuno di tahan oleh baju armor yang disembunyikan Wang Ye dengan baik dari balik pakaiannya.
"Apa!!"
Wang Lin mengangkat alisnya, tidak menyangka bahwa serangannya telah diblokir oleh sebuah pelindung.
Melihat Wang Lin tertegun sesaat, Wang Ye menggunakan celah itu untuk lari menjauh.
Dia kemudian memerintahkan kedua penjaganya untuk segera meminum pil yang diberikan oleh seorang misterius kepadanya.
Tepat saat pil itu hancur, tubuh kedua penjaga seketika berubah menjadi sesosok iblis yang mengerikan.
Tumbuh dua tanduk di atas kepala mereka, tubuh yang membesar dua kali lipat, dan juga mata mereka yang menjadi merah.
"Hahaha, matilah kau Wang Lin!!.."
Berdiri di belakang kedua penjaganya, Wang Ye tertawa lepas. Melihat kedua penjaganya yang bertransformasi menjadi iblis, Wang Ye cukup percaya diri bahwa kedua penjaganya dapat menahan Wang Lin.
Tetapi itu hanyalah sebuah pemikiran bodoh, bahkan belum ada satu tarikan nafas. Kepala kedua penjaga yang bertransformasi itu melayang di udara kemudian jatuh di dekat Wang Ye.
Deg–
Seolah jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak, Wang Ye terjatuh ke tanah. Wajahnya tanpa ekspresi menatap pada dua kepala yang tergeletak tepat di depannya.
"T- Tidak mungkin!.."
Detik berikutnya, sosok Wang Lin muncul di depannya. Pedangnya yang awalnya berwarna hitam kini memerah karena bermandikan darah setelah menebas kedua penjaga itu.
"A- Sepupu, mempertimbangkan hubungan kita sebelumnya. Tolong ampuni hidupku."
__ADS_1
Wang Ye yang sebagian kesadarannya sudah rusak bersujud memohon ampun kepada Wang Lin.
Sayangnya, Wang Lin sama sekali tidak merasa kasihan atau simpati pada sepupunya itu. Orang pertama yang mengkhianati ayahnya tidak lain adalah ayah Wang Ye.
Apalagi perbuatan Wang Ye terhadap muridnya saat kompetisi Alkimia. Itu sudah cukup membuat amarah di tubuhnya meluap.
Melihat tidak ada jawaban dari sepupunya, Wang Ye mengangkat kepalanya. Pemandangan yang ia lihat selanjutnya adalah gerakan tangan Wang Lin yang menebas kepalanya.
Sebelum Wang Ye sepenuhnya kehilangan kesadarannya, dia mengutuk Wang Lin dengan kejam.
"Bajingan, jangan harap kau bisa hidup bahagia setelah ini. Klan pedang hitam tidak akan membiarkan ini begitu saja."
Di kesunyian malam dimana terdengar suara lolongan serigala dan beberapa hewan lainnya.
Siluet hitam bergerak cepat melintasi pepohonan, dia berlari menuju kearah selatan tanpa istirahat.
***
Esok harinya, berita mengejutkan datang dari keluarga Wang. Berita itu menyebar dengan cepat sampai terdengar di kota hitam.
Saat malam menjelang pagi, seorang penjaga keluarga Wang menemukan sebuah karing kain dengan tulisan di luarnya.
Penjaga itu tidak tahu bahwa tulisan 'untuk Patriak Wang' yang ada di kain itu terbuat dari darah.
Setelah mengeceknya, penjaga itu menjadi pucat seketika. Dia berteriak ketakutan kemudian berlari untuk menemui Patriak.
Begitu Patriak keluarga Wang, Wang Jin mendengar berita itu. Dia meledakkan kepala penjaga yang barusan memberitahunya.
Seluruh aula keluarga bergetar, Wang Jin segera menyuruh salah satu penjaga untuk mengambil karung yang berisi kepala putranya.
"Beritahu organisasi bayangan, aku ingin mereka menemukan pembunuh putraku dan membawanya kepadaku hidup. Tidak peduli berapa harganya, aku akan membayarnya." Wang Lin dengan wajah yang penuh dengan niat membunuh berkata pada tetua.
"Baik Patriak!"
Wang Jin berjalan keluar aula, tetapi sebelum kembali ke ruangannya. Dia berhenti kemudian berbalik, "Beritahu mereka untuk mencari anak Wang Yun, pastikan mereka segera menemuiku jika telah mendapatkan informasinya."
Tanpa berkata lebih lanjut, Wang Jin berjalan keluar meninggalkan aula keluarga.
***
Penginapan kota mawar putih~
Tok! tok! tok!..
Suara ketukan pintu terdengar di lantai dua penginapan.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan tidak ada jawaban, perempuan berambut hitam yang tidak lain adalah Yan Ruyu membuka pintu kayu itu.
Klakk!!
__ADS_1
Pintu terbuka perlahan, Yan Ruyu melangkahkan kakinya masuk kemudian menutup pintu.
Dia berdiri saat menatap seorang pria tertidur lelap di atas kasur, "Ahh~ Bahkan saat tertidur master masih terlihat sangat lucu."
Yan Ruyu berjalan, ia mendekatkan kepalanya di dekat Wang Lin sambil terus menatapnya dari dekat.
"Dia pasti terlalu lelah, sebagai muridnya aku harus menyembuhkan rasa lelah master."
Yan Ruyu naik keatas kasur, tubuhnya yang hanya dibalut oleh kain tipis tertidur di kasur yang sama dengan Wang Lin.
Tanpa sadar, rasa kantuk memenuhi kepalanya. Hanya dalam hitungan detik, ia tertidur lelap bersama gurunya.
Siang harinya, Wang Lin terbangun dari tidurnya. Pikirannya menjadi jernih dan tubuhnya terasa sangat ringan.
Tapi begitu dia melihat ke samping, matanya melebar karena terkejut. Jantungnya berdetak tak terkendali.
"Sial, bagaimana Ruyu bisa tertidur disini..."
Bagi Wang Lin yang bahkan jarang berinteraksi dengan perempuan di kehidupan pertama, ia tidak tahu harus berbuat apa di situasinya saat ini.
"Cantik sekali..."
Tanpa ia sadari, matanya terus menatap Yan Ruyu yang tertidur nyenyak di sampingnya.
Dengan pakaiannya yang tipis, Wang Lin bisa melihat dengan jelas tubuh Yan Ruyu di balik pakaiannya.
Darah menetes keluar dari hidungnya, "Arghh, aku akan gila jika terus berada disini.."
Wang Lin turun dari kasurnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan muridnya. Setelah turun, dia memakaikan selimut pada muridnya.
Tepat saat itu, sesuatu terjadi. Yan Ruyu yang tertidur tiba-tiba menangis sambil memeluk lengan Wang Lin.
"T- Tidak, kumohon ayah ibu... Jangan tinggalkan aku."
Entah karena alasan apa, Wang Lin merasakan hatinya sakit mendengar perkataan muridnya. Dia hanyalah gadis muda yang belum mengetahui kejamnya dunia.
"Tidak apa-apa Ruyu, aku ada disini."
Duduk di samping Yan Ruyu, Wang Lin mengelus kepalanya dengan lembut sambil mengirimkan energinya yang hangat kepada muridnya.
Tidak begitu lama, Yan Ruyu yang mengalami mimpi buruk menjadi lebih tenang.
"Orang itu, setelah melihat kepala putranya yang aku kirim kemarin malam. dia pasti tidak akan tinggal diam."
"Aku harus segera bersiap, pertarungan dengan keluarga Wang tidak mungkin untuk di hindari..."
Wajah Wang Lin semakin gelap, dia mengingat kembali ingatan tentang ayah dan ibunya yang dibunuh secara kejam oleh pamannya.
"Satu bulan dari sekarang, akan ku hancurkan Keluarga Wang tanpa menyisakan seorangpun hidup-hidup."
__ADS_1
***
To Be Continued.