
Dua hari telah berlalu sejak Wang Lin terakhir kali mengunjungi Paviliun Huang. Saat ini di pagi hari yang cerah, ribuan orang berkumpul menjadi satu dan berdiri untuk mengantri masuk kedalam Paviliun Obat.
Di antara ribuan orang itu, Wang Lin dan juga kedua muridnya tiba lebih dulu dan masuk kedalam Paviliun Obat lebih mudah.
"Apakah kamu yakin Yao?" Tanya Wang Lin pada murid keduanya.
Dua hari sebelumnya, saat malam hari ketika mereka bertiga menghabiskan waktu makan malam.
Su Yao menjelaskan niatnya untuk mengikuti kompetisi Alkimia. Karena hadiahnya sendiri dapat dibilang cukup besar.
"Ya guru, aku sangat yakin." Su Yao mencoba yang terbaik dengan senyumannya.
Karena dia mendapatkan pil yang luar biasa dari gurunya, ia berhasil menerobos ke ranah Qi Refining puncak.
Yang lebih mengejutkan, kekuatan jiwanya jauh melampaui seseorang di ranah Foundation Establishment menengah.
"Yakinlah master, adik perempuan pasti baik-baik saja." Berdiri dibelakangnya, Yan Ruyu berbicara dengan lembut untuk meyakinkan gurunya.
Setelah menghela nafas, Wang Lin tersenyum sambil menepuk kepala murid keduanya.
"Semoga beruntung.."
Su Yao mengangguk patuh, dia melambaikan tangannya dan berjalan memasuki ruang tunggu peserta.
"Lewat sini master, aku sudah menyiapkan tempat duduk untuk kita berdua."
Wang Lin berjalan lebih dulu dengan Yan Ruyu di belakangnya, gadis itu berbalik untuk melihat siluet Su Yao yang sudah menghilang.
"Yah, pemenangan kompetisi ini sudah di pastikan."
Selama dua hari sejak kepulangan mereka dari Paviliun Huang, Yan Ruyu dan Su Yao membahas hal yang begitu penting di ruangan kamarnya.
Setelah mereka berdua saling bertanya identitas masing-masing, Yan Ruyu adalah yang pertama kali menjelaskan.
Ekspresi Su Yao terus berubah selama dia mendengar identitas saudari seniornya.
"Hebat! Aku tidak menyangka bahwa kakak seniorku dulunya adalah Dewi Pedang. Aku sangat terkejut tahu.." Su Yao tertawa, dia menunjukkan kekagumannya pada kakak sendirinya.
Ini membuat Yan Ruyu sedikit malu, sangat jarang dia bisa berbicara dengan seorang perempuan seusianya.
Bahkan bisa dikatakan ia tidak pernah sekalipun berbicara dengan seseorang sejak keluarganya dihancurkan.
Setelah itu, Su Yao dengan bangga menjelaskan siapa dirinya sebelum regresi. Kedua perempuan itu saling tertawa bahkan membicarakan hal intim bersama.
"Kakak senior, apakah kamu menyukai guru?"
Pertanyaan Su Yao seketika membuat Yan Ruyu memerah, dia mengalihkan pandangannya sambil berkata dengan suara tergagap.
"A- Apa yang kau b-bicarakan!"
Su Yao melengkungkan bibirnya sambil tersenyum jahat, "Hehe, aku bisa menebaknya dari sikapmu terhadap guru kakak senior."
Yan Ruyu menghela nafas, dia menganggukkan kepala mencoba tidak menutupinya lagi.
"Ya kau benar, master telah menyelamatkanku dengan mengorbankan nyawanya. Selain itu juga, dia adalah sosok pria yang selalu aku impikan selama ini." Yan Ruyu melemaskan kakinya sambil menatap Su Yao di sampingnya.
"Lalu ... bukankah kamu juga menyukai master!"
Tidak seperti Yan Ruyu yang sedikit tersipu, Su Yao sama sekali tidak berniat menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Ya, saat aku kembali ke tubuh muda ini. Aku menerima serangan dari binatang buas di hutan timur, jika bukan karena master yang memberiku pil penyembuh. Aku takut bahwa aku sudah mati saat ini."
Yan Ruyu menatap adik juniornya sekilas, dia tersenyum tipis lalu berkata.
"Kau tahu, master pasti akan jauh bertambah kuat di masa depan. Sebagai orang yang kuat, bukankah dia dapat memiliki lebih dari satu istri?"
Kedua gadis itu saling bertatapan, menunjukkan senyuman di wajah mereka.
"Hehehe, kalau begitu aku akan menjadi istri kedua master!"
Setelah berbicara satu sama lain untuk waktu yang lama, pagi terbit dari timur memancarkan cahaya keemasan pada dunia.
Duduk di atas kasur saling berhadapan, Yan Ruyu bertanya pada Su Yao dengan ekspresi serius.
"Jadi adik perempuan, apakah kamu tahu alasan dibalik regresimu?"
Su Yao menggeleng, "Maaf saudari, sayangnya aku tidak mengetahuinya.
Pada waktu itu, Su Yao mendapatkan gelar Dewi Obat karena pengetahuannya yang mencapai puncak Alkimia.
Siang hari di halaman rumahnya yang kosong, Su Yao di datangi oleh dua tetua ras iblis yang memintanya untuk menyuling Pil Nirvana Demon.
Karena waktu itu Dewa Iblis telah terjebak di ranah ??? selama ribuan tahun, dia memerlukan Pil Nirvana Demon untuk membantunya menerobos.
Dewa Iblis, dia merupakan eksistensi yang sangat kuat. Bahkan Yan Ruyu yang berada di puncak kekuatannya sama sekali bukan lawan yang tepat untuknya.
"Maaf aku tidak bisa!" Su Yao dengan tegas menolak permintaan mereka.
Karena penolakan tersebut, Su Yao kemudian menjadi burnonan ras iblis. Mereka terus mengejar Su Yao selama ratusan tahun lamanya.
Teman, sahabat, bahkan muridnya memutuskan hubungan dengannya.
Tubuhnya penuh dengan bekas luka, aliran darah mengalir keluar melalui lengan, kaki, perut, bahkan wajahnya.
Sebagian tulangnya juga hancur, "Apakah ini akhirnya?"
Su Yao menatap jauh ke barat, dimana matahari baru saja tenggelam. Wajahnya sangat pucat, ia juga semakin kesulitan untuk bernafas.
"Para ras iblis sialan itu, mereka tidak ada henti-hentinya mengerjarku selama ratusan tahun."
"Haruskah sedari awal aku menerima permintaan mereka? Tidak!" Su Yao menggeleng, "Ini semua terjadi karena aku terlalu lemah."
"Aku tidak menyangka, diriku yang mencapai puncak Alkimia akan berakhir di tempat seperti ini ... uhuk!"
Su Yao terbatuk, mulutnya memuntahkan seteguk darah segar.
"Jika ada kehidupan kedua, aku harap bisa mencari kebahagiaan yang telah lama aku inginkan..."
Mengatakan kalimat terakhirnya, pandangan Su Yao semakin memudar, nafasnya menjadi semakin berat, bahkan kesadarannya terkikis.
Tak lama kemudian, Su Yao ... seorang yang telah mencapai puncak Alkimia mati di tebing kematian.
Tubuhnya berubah menjadi titik cahaya hingga kemudian menyatu dengan cahaya bulan keperakan.
Pada saat yang sama, distorsi ruang dan waktu tiba-tiba saja terjadi. Keberadaan yang begitu kuat menangkap jiwa Su Yao dan mengirimnya kembali ke masa lalu.
***
Terbangun di tengah hutan, seorang perempuan muda terlihat begitu bingung melihat suasana yang tak begitu asing.
__ADS_1
"Apakah ini ingatan masa laluku?" Ujar perempuan muda itu.
Di masa lalu, Su Yao di buang Ayah dan Ibunya di hutan timur kota mawar putih.
Alasan kenapa ia dibuang? Tentu saja karena Su Yao tidak memiliki bakat menjadi seorang Kultivator.
Selain itu juga Su Yao memiliki tubuh yang lemah, orang tuanya yang tidak tahan dengan biaya sehari-hari Su Yao membuangnya ke tengah hutan tanpa keraguan.
"Jadi, aku memang sudah mati ya?" Su Yao terlihat kecewa, ia sedikit sedih kerja keras yang ia lakukan selama puluhan ribu tahun akan berakhir hanya dengan satu kesalahan.
Tepat saat Su Yao mengamati situasinya, seekor banteng besar berwarna merah menyerang kearahnya.
Bang!!
Tubuhnya terlempar jauh hingga menghancurkan sebuah pohon besar.
"Ahh..."
Su Yao mengerang kesakitan sekaligus terkejut dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Apa-apaan! bukankah ini hanya ingatan masa laluku. Atau jangan-jangan..."
Seolah menyadari situasinya, Su Yao memaksakan untuk berdiri meskipun kedua kakinya gemetar.
Jauh di depannya, seekor banteng dengan tinggi 2 meter menatapnya dengan marah.
"Aku harus lari.."
Mengabaikan bintang buas itu, Su Yao melarikan diri kearah sungai.
Kakinya yang berdarah menciptakan jejak merah di setiap tanah yang ia lewati.
"Sedikit lagi?"
Melihat sungai dengan arus kuat di depannya, Su Yao melihat secerah harapan.
Sayangnya, banteng itu berlari terlalu cepat. Hanya dalam satu tarikan nafas, Su Yao terkena serangannya dan membuatnya jatuh kedalam sungai.
Dia kehilangan kesadarannya, bahkan tulang rusuknya patah akibat serangan dari banteng itu.
Pada saat dia tersadar, rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya membuatnya ingin menangis.
"Ha Ha Ha..." Su Yao menarik nafas beberapa kali, dia menyandarkan tubuhnya di dinding goa yang berada di balik air terjun.
"Bwah!.."
Su Yao membuka mulutnya, dia menyemburkan darah segar keluar dari mulutnya.
"Apakah aku akan mati untuk yang kedua kalinya? Padahal aku sudah diberikan kesempatan."
Duduk menunggu kematiannya, Su Yao hanya bisa pasrah dengan keadaannya.
Saat itulah, sosok pria yang tidak ia kenal berjalan kearahnya dengan senyuman yang sangat hangat.
"Gadis kecil, biarkan aku menolongmu!"
***
To Be Continued.
__ADS_1