Semua Muridku Adalah Regressor

Semua Muridku Adalah Regressor
Chapter 22 : Taruhan


__ADS_3

Kota mawar putih, tidak hanya terkenal karena kota tersebut merupakan salah satu kota terbesar di kerajaan Beizhun.


Ada banyak kekuatan tersembunyi di kota itu, Paviliun Obat merupakan salah satunya.


Selain itu, ada juga Paviliun Huang, Keluarga Lu, Keluarga Ye, dan juga Keluarga Su. Ketiga keluarga tersebut adalah tirani yang memimpin kota mawar bersama dengan walikota.


Masing-masing Patriak dari setiap keluarga memiliki basis Kultivasi di ranah Martial King, meskipun begitu kekuatan mereka masih di bawah Lin Chu.


Pagi menjelang siang, seorang pria berdiri di depan bangunan berlantai tiga. Dia mendapatkan tatapan kebencian dari setiap pria yang melihatnya..


Bangunan berlantai tiga itu tidak lain adalah salah satu rumah dagang terbesar di kekaisaran Long.


Selain menjual senjata dan artefak, Paviliun Huang juga menyediakan rumah lekang dan juga berbagai pakaian.


Wang Lin mendapatkan informasi dari orang yang lewat dan membawa kedua muridnya membeli baju di sana.


"H–Hei, bisakah kalian melepaskanku?" Wang Lin berkata pada dua muridnya.


"Ha? Apakah ada masalah master?" Yan Ruyu mengerutkan kening, matanya menunjukkan rasa tidak senang.


"Aaa, tidak-tidak mari kita masuk saja.." Wang Lin memaksakan senyumnya kemudian berjalan masuk.


Tidak jauh dari Paviliun Huang, sekelompok orang yang menatap iri pada Wang Lin mulai berbicara.


"Sialan, berapa beruntungnya pria itu. Kenapa nasibku tidak seberuntung itu." Seorang pria jangkung, menatap iri pada Wang Lin.


"Kau benar, dua gadis itu jelas sangat cantik. Kurasa mereka berdua bahkan lebih cantik dari putri suci sekte bunga abadi." Saut pria di sampingnya.


"Hei, berhenti bicara seperti itu. Jika murid sekte bunga abadi mendengarmu. Tamat sudah riwayatmu."


"Kau benar, terimakasih telah mengingatkanku."


Di dalam Paviliun Huang, tepatnya di lantai pertama. Seorang pelayan wanita mendatangi Wang Lin dengan antusias.


Tetapi setelah melihat Wang Lin lebih dekat, sikap wanita itu berubah 180 derajat.


"Tch, kupikir kau anak dari bangsawan kaya. Ternyata hanya seorang pria miskin, cepat pergi! tempat ini tidak cocok untuk pria miskin sepertimu." Pelayan wanita itu mencibir sambil mengibas tangannya.


Kerutan muncul di tengah keningnya, Wang Lin menatap wanita itu dengan rasa tidak senang.


Ia menghela nafas panjang sambil membawa muridnya masuk lebih dalam.


"Hei!! Beraninya pria miskin sepertimu menghiraukan ucapanku."


Pelayan wanita itu menghentikan langkah Wang Lin dengan berdiri di depannya.


"Keluar, paviliun kami tidak menerima pria miski–..."


"Enyahlah!"


Wang Lin menyipitkan matanya, niat membunuh yang begitu kejam terpancar keluar dari sorot matanya yang tajam.


Niat membunuh yang begitu pekat, cukup untuk meledakkan tubuh rapuh pelayan wanita itu.

__ADS_1


Tubuh wanita itu bergidik, ia terjatuh sambil menatap Wang Lin ketakutan.


"T–Tidak, aku tidak ingin mati!!" Pelayan wanita itu berteriak layaknya orang gila.


Pakaian bawahnya basah karena air yang keluar dari tubuhnya.


Teriakan wanita itu seketika menarik perhatian pelayan lain dan juga pelanggan yang ada di Paviliun.


Hanya dalam beberapa detik, Wang Lin dan kedua muridnya menjadi pusat perhatian di dalam Paviliun Huang.


"Hei, apa yang sedang terjadi!"


Seorang pria berumur 21 tahun, bertanya pada sekelompok orang yang melihat kearah yang sama.


"Aku juga tidak mengerti, kurasa pria dengan dua wanita cantik di sampingnya itu baru saja menggertak seorang pelayan." Jelas pria dengan jubah hijau yang memiliki tanda obat di dada kirinya.


"Hei saudara Shu, bukankah gadis pelayan itu kekasihmu?" Ucap seorang pria dengan senyum cerah yang datang entah darimana.


"Apa!!" Pria yang dipanggil brother Shu, menatap jauh ke dalam kerumunan.


Ketika dia memastikan bahwa gadis itu benar-benar kekasihnya, kepalanya dipenuhi dengan amarah yang tak terbendung.


"Keparat! Apa yang sudah kau lakukan pada kekasihku.."


Brother Shu melesat, dia mengepalkan tinjunya erat. Tubuhnya terbang kearah Wang Lin dengan lonjakan kekuatan yang begitu besar.


"Hmm, idiot!"


Wang Lin dengan mudah menangkap tinju pria itu, dia menambahkan sedikit kekuatan pada cengkeraman tangannya dan membuat suara retakan tulang yang begitu keras.


"Arghh!!"


Bersamaan dengan suara retakan tulang itu, pria itu mengerang kesakitan sambil meneteskan air mata di wajahnya.


Suasana di lantai pertama menjadi dingin seketika, Wang Lin menghela nafas dingin saat melihat sosok wanita yang familiar di antara kerumunan.


"Kenapa perempuan itu ada disini, dia benar-benar merusak suasana hatiku yang sedang baik."


Ia menatap kedua muridnya, "Kita akan mencari toko lain."


Yan Ruyu dan Su Yao mengangguk, mereka sebenarnya sangat marah ketika pelayan wanita itu merendahkan gurunya.


Tetapi karena Wang Lin bertindak terlebih dulu, mereka berdua bernafas lega.


"Saudari senior, apa suasana hati guru mudah berubah?" Tanya Su Yao sambil berbisik di telinga Yan Ruyu.


"Tidak." Yan Ruyu menggeleng, "Master biasanya selalu bersikap tenang, aku sangat jarang melihatnya marah seperti ini."


Sementara Yan Ruyu dan Su Yao sibuk mendiskusikan sesuatu, seorang pria besar dengan tubuh gemuk menghadang langkah mereka.


Tingginya hampir mencapai tiga meter, bahkan Wang Lin yang mempunyai tinggi 1,9 meter terlihat seperti semut di depannya.


"Tch, apa kau pikir setelah membuat keributan di Paviliun kami kau bisa pergi dengan mudah?"

__ADS_1


Wang Lin terlihat tenang, dia hanya menghela nafas pendek kemudian bertanya. "Apa maumu?"


Wang Lin menggunakan mata penilai, seketika informasi pria besar itu muncul di depannya.


(Nama : Lin Ping)


(Kultivasi : Martial Master akhir)


(Elemen : Besi)


(Kondisi : Baik)


Wang Lin sedikit menunjukkan senyumnya, semangat bertarung di tubuhnya dipicu setelah melihat kekuatan pria besar itu.


"Hehe, kupikir kau hanyalah orang sombong tanpa kekuatan. Bagaimana jika kita bertaruh.."


Wang Lin menyeringai, dia memikirkan sebuah ide di pikirannya.


"Taruhan? Tch, apakah kau layak untuk itu!" Pria besar itu mencibir, menunjukkan ekspresi acuh tak acuh.


"Kau bisa mengatakan itu nanti, jika aku kalah dalam taruhan ini. Aku akan memberimu ini.."


Wang Lin mengeluarkan sebutir pil, aroma yang begitu menyegarkan menyebar dari pil itu dan membuat aliran darah di tubuh seseorang semakin lancar hanya dengan menghirupnya.


Pria besar itu menelan ludah, menarik kembali apa yang ia katakan.


Pil yang Wang Lin pertaruhkan tidak lain adalah pil tingkat 3, pil pemurnian tubuh.


Di seluruh kerajaan Beizhun, hanya ada tiga orang yang dapat menyulingnya. Di katakan bahwa bahan untuk membuatnya juga sangat langka.


Kerumunan orang yang melihat juga sangat terkejut dengan sebutir pil yang di keluarkan oleh pria tak dikenal itu.


Sementara semua orang terfokus pada pil pemurnian tubuh, Wang Lin kemudian menanyakan jawaban pria besar itu.


Setelah keheningan beberapa saat, pria itu menerima taruhan dengan Wang Lin.


"Baiklah, apa yang kau inginkan jika aku kalah?"


"Kena kau!"


Wang Lin tersenyum licik melihat rencananya berhasil, dia bersikap tenang kemudian menyebutkan apa yang ia inginkan.


"Cukup mudah, jika kau kalah. Aku ingin kau membawaku menemui pemilik Paviliun ini."


Deg–


Semua orang seketika terkejut dengan apa yang Wang Lin katakan.


Pemilik Paviliun, identitasnya bahkan setara dengan Patriak keluarga besar atau bahkan ketua sekte besar di kekaisaran Long.


***


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2