Semua Muridku Adalah Regressor

Semua Muridku Adalah Regressor
Chapter 18 : Tindakan Yan Ruyu


__ADS_3

Satu hari telah berlalu dalam sekejap. Tidur di bawah pohon besar dengan dedaunan lebat, Wang Lin terbangun setelah menderita efek samping dari teknik Berserk.


"Haa, ini sangat nyaman.."


Meskipun Wang Lin sudah sepenuhnya sadar, tetapi dia terlalu malas untuk bangun. Bantalan yang ia gunakan saat ini sangat lembut dan juga harum.


Saat dia memiringkan kepalanya, matanya tertuju pada kulit putih yang sangat halus yang ia gunakan sebagai bantal.


Matanya seketika terbuka lebar, dia segera bangun dan berbalik.


"Kamu sudah bangun master?"


Tepat di belakangnya, Yan Ruyu duduk bersandar di batang pohon. Dia tersenyum sambil menepuk kedua pahanya dan berkata.


"Kamu bisa tidur lebih lama jika masih merasa lelah master."


Wang Lin menelan ludahnya, ia sebenarnya masih ingin merasakan kelembutan dari paha Yan Ruyu. Tetapi dia menahan keinginannya dan bertanya untuk mengubah suasana.


"Ekhem, berapa lama aku tertidur Ruyu?"


Yan Ruyu mengangkat satu jarinya seolah berpikir, "Hmm, kurasa master tertidur selama seharian penuh."


Wang Lin mengangguk, dia sedikit memahami bagaimana efek samping dari teknik Berserk.


Karena dia kemarin menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk melarikan diri keluar kota, beban yang di tanggung oleh tubuhnya masih terlalu berat.


Bahkan jika struktur tubuhnya telah ditingkatkan, tetapi itu terbatas hanya pada fisiknya saja.


"Hmm, jika aku menggunakan fisik naga saat itu. Mungkin tidak akan ada efek samping untuk teknik Berserk. Tetapi hadiah yang aku terima dari sistem saat itu..."


Tahap kedua dari teknik Berserk, Wang Lin tidak mengetahui seberapa kuat teknik itu. Tetapi yang jelas ia tidak bisa menggunakannya dengan kualitas tubuhnya saat ini.


Bahkan jika dia merubah wujudnya menjadi setengah naga, kualitas fisiknya masih belum mampu menanggung efek samping dari teknik Berserk tingkat kedua.


"Baiklah, kurasa aku harus memeriksa statusku untuk saat ini.."


(Ding)


(Nama : Wang Lin)


(Kultivasi : Martial Spirit menengah)


(Budidaya : Metode Yin Yang)


(Teknik : Tebasan Petir, Berserk, ....)


(Elemen : Tidak ada)


(Kondisi : Prima)


(Saldo : 14.000 poin)


"14.000? Darimana aku mendapatkan poin sebanyak ini."

__ADS_1


Wang Lin mengerutkan keningnya, ia menerima 10.000 poin sebagai hadiah. Tetapi untuk 4.000 poin lainnya, ia tidak tahu darimana poin itu datang.


"Hmm, mungkinkah karena itu?"


Wang Lin mengasumsikan bahwa kematian Ru Hao juga membawa poin baginya. Jika itu memang benar adanya, berarti Kultivator di tingkat Martial Master memberikannya poin senilai 4.000.


"Aku akan menyimpannya untuk saat ini, yang lebih penting..."


Wang Lin melirik muridnya, dia mencoba menggunakan mata penilai tetapi itu gagal. Sama seperti yang terakhir kali.


"Hahh..."


Menghela nafas kecewa, Wang Lin mendatangi Yan Ruyu dan bertanya.


"Ruyu, seberapa jauh tingkat Kultivasimu saat ini?"


Yan Ruyu menjawab sambil tersenyum, "Aku sudah berada di ranah Foundation Establishment menengah master."


Wang Lin mengangguk puas, dia memberikan tepukan kepala sebagai hadiah.


"Kamu sudah bekerja keras Ruyu..."


Merasa nyaman dengan tepukan itu, Yan Ruyu memejamkan matanya seolah menikmatinya layaknya anak kucing.


Dia kemudian tertawa kecil dan berkata, "Hihi, sangat nyaman."


Wang Lin tersenyum tipis melihat muridnya, dia membuka toko sistem dan membeli sebuah tenda.


Jadi, dia harus meningkatkan Kultivasinya sebanyak mungkin dan membalas dendam terhadap sekte api mengamuk.


"Padahal aku berbaik hati karena tidak membunuhnya saat itu. Tetapi pikiranku ternyata terlalu naif."


Wang Lin menyesali keputusannya membiarkan tetua murid luar itu kembali hidup-hidup.


Karena nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah berlalu.


Saat ini, di pinggiran sungai. Wang Lin membangun sebuah tenda sambil mengaktifkan sebuah formasi array ilusi yang ia beli dari sistemnya.


Saat ia akan berlatih, perutnya tiba-tiba berbunyi.


Itu terdengar sangat keras sampai-sampai Yan Ruyu yang berada di dalam tenda mendengarnya.


"Master, apakah kamu lapar?" Melihat keluar, Yan Ruyu bertanya.


Wang Lin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tersenyum canggung sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya haha, kurasa aku memang sedikit lapar."


Mendengar itu, Yan Ruyu keluar dari dalam tenda. Dia membuat perapian dan juga mengeluarkan sebuah panci besar yang ia simpan di cincin penyimpanan gurunya.


"Hmm, aku memiliki dua ekor ayam hutan disini. Haruskah aku membuat sup ayam?"


Setelah memutuskan menu sarapan yang akan ia masak. Yan Ruyu mengikat rambut hitamnya di belakang memperlihatkan tengkuknya yang begitu indah.

__ADS_1


Tak lama setelah Yan Ruyu selesai membuat sarapan, dia memanggil Wang Lin dan memberitahunya bahwa sarapannya sudah siap.


"Ini sangat enak, kamu menjadi lebih mahir memasak Ruyu.."


Wang Lin tersenyum, dia tidak menduga bahwa muridnya memiliki keterampilan memasak yang begitu hebat.


Ia merasa beruntung memiliki murid seperti Yan Ruyu. Jika seandainya ia memilih untuk tidak menyelamatkan gadis itu, Wang Lin tidak tahu kehidupan apa yang akan dia jalani.


"Yah, jika aku memiliki seorang istri sepertinya berapa beruntungnya diriku.." Gumam Wang Lin setelah menelan daging yang ada di mulutnya.


"Eh?" Yan Ruyu menjatuhkan sendok di tangannya dan menatap gurunya dengan ekspresi terkejut.


"Apakah kamu mengatakan sesuatu barusan master?"


Wang Lin seketika menggeleng, ia tertawa sambil berkata. "Tidak ada haha, mungkin hanya imajinasimu saja."


Wang Lin dengan cepat menghabiskan sarapannya kemudian segera pergi untuk bermeditasi.


Melihat punggung gurunya dari belakang, Yan Ruyu menyentuh dadanya sambil tersenyum.


"Aku tidak mungkin salah dengar, apakah master juga..."


Tak terasa, malam hari tiba dalam sekejap.


Wang Lin masih terus fokus pada meditasinya. Selama dia bermeditasi, ia tidak tahu bagaimana keadaan di sekitarnya.


Oleh karena itu, biasanya setiap Kultivator selalu berkultivasi di tempat yang aman atau memasang sebuah formasi array untuk melindunginya.


Tak jauh darinya, Yan Ruyu mengganti gaun putihnya dengan pakaian serba hitam. Ia bahkan memakai kain untuk menutupi sebagian wajahnya.


Dia berjalan kemudian memeluk Wang Lin dari belakang, kepalanya bersandar di pundak Wang Lin dan ia mendekatkan bibirnya di telinga gurunya.


Sudut mulutnya terangkat, dia kemudian mengucapkan beberapa patah kata sebelum beranjak pergi menjauh.


"Aku pergi master.."


Meninggalkan Wang Lin dengan sebuah formasi pelindung, Yan Ruyu melesat pergi ke timur.


Tidak ada yang tahu teknik apa yang ia gunakan, tetapi setiap langkah yang ia ambil menciptakan jejak hitam di udara.


Berselang setengah jam, Yan Ruyu berhenti. Dia menarik kain yang menutup wajahnya kebawah kemudian bergumam pelan.


"Hmm, jejak tetua itu berhenti disini. Berarti itu..." Yan Ruyu menatap jauh pada puluhan bangunan yang berdiri kokoh di atas bukit.


Dia menutup kembali sebagian wajahnya dengan kain kemudian berjalan mendekati bukit itu.


Tatapannya menjadi dingin, niat membunuh yang begitu besar bercampur dengan auranya.


"Semua yang mencoba membunuh masterku ... Hanya satu balasan yang kalian dapatkan. Kematian!"


***


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2