
Sudah hampir tiga hari tiga malam Sinta berada di dalam gubuk Sinar dan Senja.
Dan tiga malam ini pula dia selalu diganggu oleh pusaran yang keluar mencari Makan itu, Sinta berusaha meminta bantuan kepada Pamannya lewat telepati mereka.
Tapi sudah dua malam ini dia mencoba dan itu belum berhasil sama sekali, Sinta menjadi takut dengan nasibnya selanjutnya.
Malam ini Sinta ingin mencoba telepati kembali kepada pamannya, tetapi malah tersambung dengan Daniel, disana Daniel tertawa dengan lepas dan penuh kepuasan.
Sinta terbangun dengan hal itu, membuatnya semakin yakin jika ini adalah kerjaan dari Daniel.
Sial," gumam Sinta.
Dua gadis yang membantunya dalam masalah kemaren, telah menjadi teman baginya dalam keadaan ini.
Dia berpikir dia harus berteman kepada mereka hingga keluar dari tempat itu.
"Sinta ini makanan Lo," ucap Sinar.
"Makasih," jawab Sinta.
"Jadi Lo belum berhasil, telepati sama paman Lo?" tanya Senja.
"Belum," jawab Sinta sambil melahap makanan itu.
Senja duduk di hadapan Sinta dan menatapnya, sehingga membuat Sinta tidak nyaman karena hal itu. Senja terus-menerus menatap Sinta tanpa berkedip sedikit pun.
"Lo kenapa?" tanya Sinta.
"Enggak," sahutnya.
Senja terus saja menatap Sinta seperti itu, seperti singa lapar yang akan memangsa.
Sinta pun sontak berdiri, memutar arah pandangnya supaya tidak di lihat lagi.
Senja justru memutar arah pandangnya juga dan menatapnya lagi dan lagi.
Sinta yang tidak tahan dengan itu semua, dia menjadi semakin melihat kakaknya di wajah Senja karena terus di pandangi seperti itu.
Sinta menjadi mengingat kejadian yang waktu itu, ketika dia sengaja melenyapkan kakaknya untuk merebut milik kakaknya.
Sinta meneteskan air matanya dan seakan terus menerus menyesali perbuatannya kepada kakaknya.
Hari mulai semakin malam, dan pusaran itu sebentar lagi pasti akan keluar mencari mangsanya.
"Sebaiknya kita masuk sekarang," jelas Sinar.
Sinta yang masih meratapi dirinya tidak berdiri sama sekali, dia terus saja duduk sambil mengacak-acak makanannya.
"Sinta, Lo harus bangun sekarang kita akan masuk sekarang," sudah tidak ada waktu lagi.
Sinta tetap duduk dan tidak menggubris semuanya.
__ADS_1
Pusaran sudah hampir menunjuk kan dirinya dan mereka sudah tidak bisa menunggu Sinta, Senja yang tidak tahan menunggu masuk duluan keruang bawah tanah itu.
"Sinta kalau Lo gak berdiri sekarang, gue akan tinggalin Lo disini," jelas Sinar.
"Sinta, gue mohon Lo bangun, Sin jawab... sudah tidak ada waktu lagi," jelasnya lagi dan lagi.
Sudah tinggalin dia aja," ucap Senja.
Tapi Senja!" ujar nya yang tidak tega meninggalkan Sinta seorang diri.
Sudah tidak ada waktu, Lo mau ngorbanin diri Lo untuk dia," jelas Senja.
Sinar yang seakan tidak tega untuk meninggalkan Sinta disini seorang diri, terus menunggu berharap Sinta bangun dari tempat duduknya
Sin, maaf gue udah gak bisa nunggu lagi, gue masuk sekarang," jelas Sinar yang melihat tidak ada pergerakan dari Sinta.
Sinar masuk kedalam ruang bawah tanah dan menutup pintu itu, sementara Sinta masih duduk dalam lamunannya, sedangkan pusaran itu sudah hampir naik mencari mangsanya.
Tidak lama kemudian, terdengar ketukan dari atas, Sinar yang sontak membuka pintu melihat Sinta yang masuk kedalam sana menyusul mereka, dan mereka hanya bisa menunggu hingga pagi tanpa berbuat apapun.
"Gila Lo, jantungan gue," ujar Senja.
"Untung Lo masuk tepat waktu," jelas Sinar sambil mengelus pundak Sinta.
"Apa maksud Lo, ngelakuin itu ke gue tadi?" tanya Sinta dengan marah.
"Apa, gue gak berbuat apapun." jawab Senja.
"Sudah ini bukan waktu yang tepat," ucap Sinar, yang mencoba melerai.
Tuduhan Lo itu gak mendasar," ujar Senja.
Apa Lo bilang, Lo emang sengaja kan numbalin gue!" tuduh Sinta.
Mereka semakin adu mulut disana, sementara kondisi sedang sekarat di luar, Sinar yang tidak tahan lagi akhirnya ambil suara atas ini semua.
"Diaaammm.......," ucapnya marah.
"Lo berdua, kayak gak ada waktu lain buat berdebat," ucapnya.
"Sok dewasa lo, teriak kayak gitu, Lo juga bukan orang suci," ucap Senja.
"Terserah Lo deh, yang jelas... gue gak mau mati konyol disini cuman karena Lo berdua." ucap Sinar.
Masalah yang semakin rumit dan runyam, Seakan memberi ruang kepada pusaran mengetahui dimana makanannya.
Ruang bawah tanah itu semakin bergetar dan berguncang. Pusaran itu semakin menunjukkan dirinya ke tiga orang ini.
Mereka pun semakin ketakutan, dengan ini semua, mereka berkumpul di lingkaran yang sudah dibuat sebelumnya.
Sinta yang merasa dirinya tersudut kan menjadi tidak tahan, seakan penasaran dengan sosok itu, Sinta memutuskan untuk keluar melihat apa sebenarnya pusaran itu.
__ADS_1
Sinta, Lo gila, Lo akan mati kalau keluar," ucap Sinar.
Sinta tidak memperdulikannya, Sinta tetap dengan pikiran awalnya, dan setelah sampai diluar, Sinta melihat sekeliling yang sudah porak-poranda oleh pusaran itu yang semakin ngamuk.
Sinta pergi keluar rumah dan mencari sosok Makhluk itu, Sinta yang semakin penasaran dengan itu semua, tidak perduli dengan rasa takutnya sekarang.
Keluar Lo..., Siapa Lo sebenarnya, brengsek...," ucap Sinta sambil berteriak.
Pusaran itu semakin terlihat oleh Sinta dan itu membuat Sinta semakin takut, tapi dia merasa harus selesaikan itu semua sekarang.
Dengan ilmu yang dibekali oleh Daniel, Sinta mencoba melawan Makhluk itu.
Makhluk yang katanya sudah menelan banyak korban ini berdiri di hadapan Sinta, Bentuk yang abstrak dan tidak beraturan Serta berbau amis, membuat Sinta semakin penasaran dengan makhluk itu.
Sinta mengerahkan kemampuan untuk melawan Makhluk itu, sambil berfikir dari mana makhluk itu datangnya.
"Siapapun Lo gue gak takut sama Lo, walau Lo mampu makan semua orang yang datang kesini, tapi Lo gak akan mampu untuk melenyapkan gue."Jelas Sinta.
Sinar dan senja penasaran dengan Apa yang dilakukan oleh Sinta, mereka memutuskan untuk keluar, hingga mereka melihat Sinta melawan Makhluk besar itu.
"Ngapain sih tu anak" ucap Senja.
"Entah lah, kita lihat saja dulu," jelas Sinar yang sedang bersembunyi di balik Senja.
Sinta mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya, dia mengarahkannya ke Makhluk besar itu.
Makhluk itu seakan mendapatkan lawan karena itu semua.
Tidak butuh waktu lama makhluk besar itu pun lenyap begitu saja, Sinta yang hampir menguasai semua kekuatannya merasa lelah dan pusing.
Sinta," ucap Sinar yang langsung menghampirinya.
Sinta terjatuh di tanah dan Sinar membantunya dan membawanya kedalam gubuk.
Hampir sejam Sinta terbaring memulihkan segalanya, Hal itu membuat mereka berdua menjadi heran dan takjub.
"Siapa Lo sebenarnya," ucap Senja.
"Udah lah senja," ucap Sinar menghentikannya.
"Gue cuman orang biasa, yang karena kedengkian gue, membuat gue jadi begini," ujar Sinta.
"Emang dasar aja Lo orang gila," ujar Senja lagi.
"Udah cukup Senja," ucap Sinar melerai.
"Udahlah Sinar, biarin aja," ucap Sinta yang masih lemas.
"Gue akan ceritakan semuanya," jelas Sinta.
"Ya itu memang harus, Lo dapat sihir ini dari siapa," celetuk Senja.
__ADS_1
Bersambung...