Sengaja turun ranjang

Sengaja turun ranjang
Bab 20


__ADS_3

Sinta menemui Daniel di ruangannya, Sinta menanyakan sekali lagi tentang semua yang terjadi, tentang apa yang sebenarnya, siapa yang benar dan siapa yang salah saat ini Sinta tidak mengerti hal itu.


Daniel hanya bisa menjelaskan bahwa Sinta harus lebih berhati-hati dengan Jhon ketika bertemu dengan dia nanti.


Daniel yang melanjutkan meditasinya dan hampir mengetahui posisi Jhon, seketika pandangan Daniel buram.


"Ada apa?" tanya Sinta.


"Sepertinya Jhon sudah tahu niat kita," sahut Daniel.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya nya lagi.


"Sabar Sinta, kita biarkan saja dulu," sahut Daniel lagi.


Sinta pun menunggu aba-aba dari Daniel, sampai Daniel menyelesaikan meditasinya.


"Sinta pergilah pulang dan temui Jhon disana," pintanya.


"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Sinta.


"Kamu bersikap seperti biasa aja dulu," Sahut Daniel.


"Baik lah aku akan pulang," tambahnya.


Sinta pun pulang menemui Jhon disana, Sinta bahkan tidak mendengarkan Daniel hingga Sinta mendapatkan sebuah masalah saat bertemu dengan Jhon.


"Paman, apa semua ini rencana paman?" tanya Sinta saat sampai di rumah.


"Saya tidak mengerti Sinta," jawabnya dengan bertanya kembali.


"Alah... paman gak usah berlagak gak tahu," ucap Sinta.


"Hahaha, Sinta-sinta! begitu lancang mulut mu! apa yang telah di janjikan oleh si kaparat itu?" tanya Jhon.


"Jadi benar semua ini ulahnya paman?" tanya Sinta sekali lagi.


"Kalau memang iya kenapa! kamu gak suka, atau kamu mau balas semua yang telah terjadi," ucap Jhon.


"Sungguh licik," ucap Sinta.


"Bukan saya penjahatnya, tapi kamu.. kamu yang tega melenyapkan nyawa kakakmu sendiri hanya untuk orang seperti Erwin," jelasnya.


"Ha... paman yang ingin menghabisi Erwin bukan!" tanya Sinta.


'Erwin dan Jihan saling mencintai, apa salah nya jika saya menyukai Jihan," jelas Jhon.

__ADS_1


"Itu sangat salah besar paman," sahut Sinta.


"Kamu dengar ya Sinta, kamu yang mempunyai penyakit hati begitu dengki dari kecil apa yang tidak kamu dapatkan, dan ketika besar kamu juga ingin milik kakakmu, najis!" ucap Jhon.


"Sinta terdiam mendengar kalimat dari Jhon, semua yang dikatakan oleh Jhon ada benarnya, Sinta memang tidak begitu baik selama ini, tapi Jhon juga tidak pantas begitu.


"Lalu apa mau paman, apa paman juga ingin melenyapkan aku, apa paman juga ingin mengirim aku keneraka?" tanya Sinta.


"Tidak secepat itu Sinta, aku masih membutuhkan mu, aku akan kasih keringanan dan aku akan bebaskan Erwin dari pengaruh guna-guna yang aku Kirim, asalkan!" jelas Jhon.


"Asalkan apa?" tanya Sinta.


"Asalkan kamu mau membantu ku menghabisi Daniel," pinta Jhon.


"Kasih satu alasan kenapa aku harus bantu kamu, kasih satu alasan kenapa Daniel harus menjadi tumbalnya?" tanya Sinta.


"Daniel teman lamaku, dia tidak bilang jika dia juga mempelajari ilmu itu, demi wanita yang dia cintai dia mempelajari semuanya, tapi setelah dia mendapatkan kemampuan itu dia tidak boleh menikah dengan kekasihnya," jelas Jhon.


"Terus apa hubungannya!" tanya Sinta.


"Hubungannya adalah kekasih nya itu, orang yang aku cintai dan dia sangat tega membunuh wanita itu, hanya karena wanita itu ingin memiliki kehidupan yang lain,"ucap Jhon.


"Sinta sudah lah, tidak perlu berbasa-basi, jika kamu setuju maka lakukan, jika tidak kamu boleh pergi," ucap Jhon.


"Bukannya Paman menyukai Jihan sejak lama, lalu kenapa paman mencintai wanita lain!" tanya Sinta.


"Wanita itu,_ sudah lah Sinta jangan banyak tanya, sekarang berikan jawabanmu," ucapnya.


"Tidak paman, aku tidak akan mengorbankan siapapun lagi, jika paman melenyapkan aku lakukan saja, seperti yang kau mau," ucap Sinta.


"Bedebah, awas kau," teriak Jhon.


Sinta pun pergi dari sana, dia menghindari Jhon dengan pergi kearah lain, setelah itu Sinta kembali keruangannya untuk mencari sesuatu disana.


Saat hampir menemukannya, tiba-tiba Jhon kembali keruangannya itu membuat Sinta menjadi hampir ketahuan.


Saat Sinta hampir ketahuan, Erwin datang menyelamatkan Sinta.


"Mas Erwin," ucap Sinta.


Sstt," ucap Erwin menyuruh Sinta diam.


Mereka kabur dari sana, dan disaat dirasa telah aman mereka berhenti berlari.


"Kenapa mas, kenapa kau kesana?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Aku punya setiap jawaban yang kau inginkan," ucap Erwin.


"Jawaban apa, apa Erwin bersekongkol dengan paman?" tanya Sinta.


"Maaf Sinta, aku benar-benar minta maaf," ucap Erwin merasa bersalah.


"Aku sungguh enggak percaya mas, aku kira kamu benar-benar kehilangan kak Jihan, tapi sepertinya kau,_" ucap Sinta.


"Aku benar mencintai Jihan," jelas Erwin.


"Lantas apa, apa buktinya begitu banyak orang sok suci yang aku temui, begitu banyak orang yang berpura-pura sedih seakan kehilangan Jihan, membuat aku merasa bersalah," jelas Sinta.


'Sinta dengar kan aku, aku akan ceritakan semuanya, banyak hal yang gak kamu tahu," ucap Erwin.


"Apa yang gak aku tau!" tanya Sinta.


"Baiklah Sinta aku akan ceritakan dari awal," ucap Erwin.


"Pertemuan ku dengan Jihan bukan suatu yang kebetulan, semua sudah di atur oleh Jhon paman kamu, keinginan Jihan untuk menikah lebih cepat, sangat kami harapkan, sesuai rencana dan akhirnya aku datang kerumah kamu untuk pertama kalinya, dan disaat itu aku sudah tau kalau kamu adalah adik dari Jihan," ucap Erwin.


"Kamu benar-benar brengsek," ucap Sinta yang begitu marah.


"Wajar kamu marah Sinta, tapi saat menjalani hari-hari bersama Jihan, perasaan cinta mulai tumbuh dihatiku, aku sangat bahagia bersamanya.


"Saat aku tahu Jihan tengah sakit aku mengira bahwa Jhon yang melakukannya, aku begitu marah dan sangat murka, aku ingin menantang Jhon dengan menikahi Jihan dalam keadaan sakit, tapi dia malah meninggalkan aku seorang diri," jelas Erwin.


"Jhon sangat marah, kenapa aku menikahi Jihan, Jhon sangat murka, dia membalas semua nya dengan membunuh ayah ku," ucap Erwin.


"Ayah mu, telah tiada!" tanya Sinta.


"Iya Sinta," ucap Erwin.


"Aku semakin gak ngerti begitu banyak misteri yang ada, aku semakin gak tahu harus percaya sama siapa, maaf mas aku gak tahu harus apa," jelas Sinta.


Sinta menangis dan berjalan entah kemana, kekalutan dirinya membuatnya menjadi tidak terkendalikan dia berjalan terus dan terus sampai entah kemana.


"Kak, maaf... maaf kan aku jika waktu bisa di ulang aku tidak akan meminta siapa pun dari mu, jika boleh aku hanya ingin bersama mu seperti dulu kak," ucap Sinta sambil melihat keatas langit.


Sinta yang terus memanggil nama Jihan, dia semakin terus mengucapkan maaf kepada Jihan.


"Kak Jihan... maaf kan aku, tolong maafkan aku... kembalilah kak, kembali lah...," pinta Sinta.


Sinta terus berteriak di tengah hutan sambil melihat keatas langit, perasaan bersalahnya sangat membuatnya menyesal dan semakin kalut, semakin dia menjadi tidak tahu harus bagaimana lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2