
"Awalnya gue tidak punya apapun, yang gue punya hanya rasa iri dan ingin melenyapkan siapapun yang mencoba menggagalkan keinginan gue. Semua orang gue lawan, entah itu orang lain, saudara gue, orang tua gue, bahkan kakak yang sangat menyayangi gue sepenuh hatinya." Jelasnya sambil menangis.
"Terus apa selanjutnya!" tanya Sinar.
"Rasa iri ini membuat gue mati, gue gak mau berada ditubuh ini lagi, berjanji akan melenyapkan semua orang yang menggangu gue, Gue berurusan sama dukun, gue buat semua tetangga gue menjadi penyakitan," ucap Sinta yang tidak bisa menahan air matanya.
Lalu," tanya Senja.
"Saat melihat Lo pertama kali di jembatan, gue melihat Jihan disana, gue... gue memang ingin bunuh diri waktu itu, gue sangat marah gue sudah menjadi orang yang sangat menjijikan. Tapi karena Lo, gue merubah pikiran gue, gue gak tahu apa Jihan bereinkarnasi atau Lo saudara kembarnya atau Lo cuman hanya mirip dengan nya saja," jelasnya lagi.
"Makanya Lo datang kesini?" tanya Sinar.
"Iya... paman gue termasuk orang yang mendapatkan ilmu spiritual sejak lahir, dia yang memberikan alamat kesini, gue gak tau kenapa alamat itu bisa salah. Dan ini, batu ini! batu yang buat makhluk itu lenyap, batu ini gue dapat saat gue dirumah Daniel," ucapnya.
"Daniel, siapa dia?" tanya Senja.
"Daniel orang yang membantu gue, saat gue hampir gila waktu itu, dia yang memberikan semua ini pada gue dan gue menggantinya dengan perawan yang gue punya." tambahnya lagi.
"Gila Lo," celetuk Senja.
"Gue memang gila, hati gue gak bekerja dengan baik, semakin dewasa membuat gue semakin iri hati, penyakit hati yang gue tanam semakin membunuh gue, siapa pun itu dan termasuk gue, jika sudah tidak bermanfaat maka dia harus mati, itu janji gue." jelasnya lagi dan lagi.
"Tapi Lo masih hidup sekarang?" tanya Senja.
"Ya kan itu karena Lo Senja, Lo begitu mirip dengan kakaknya, sehingga dia sampai disini." ucap Sinar.
"Gue mau dengar tentang Daniel, emang dia sehebat itu?" tanya Senja.
Daniel! dia hampir sama dengan gue. Karena memiliki motif yang sama, dia turunin gue ilmu yang dia punya, tapi semua itu gue langgar, dia menjadi marah dan balik ingin memusnahkan gue." tambahnya.
Kenapa Lo langgar?" tanya Senja lagi.
__ADS_1
Dengan nafas panjang Sinta menceritakan lagi masa lalunya, " gue menikah, dengan pria yang gue sihir untuk mencintai gue seorang. Itu membuat dia menjadi murka, sehingga dia ingin gue lenyap, dan pusaran itu dia yang buat."
"Lalu apa hubungannya dengan batu Lo pegang?" tanya Sinar.
Batu ini gue ambil dari ruangan terlarang milik Daniel, sebelum gue pergi dari sana dia sempat bilang kalau bulan purnama akan menjadi akhir gue. makanya waktu saat pertama kita bertemu, gue sudah sedikit curiga dan ga sia-sia kan batu ini gue ambil," jelasnya sambil tertawa.
"Karena batu ini milik Daniel dan pusaran itu juga dia yang buat, jadi Lo ingin bilang kalau Makhluk itu tau jika batu itu milik Bos nya," ucap Sinar yang mencoba mencerna ucapan Sinta.
"Bisa jadi begitu," sahut Sinta.
"Terus kita kemana?" tanya Senja.
"Terserah Lo berdua, tugas gue udah selesai disini, gue akan pulang dan terus melanjutkan perjalanan gue. karena dengan cara itu, gue bisa menebus segala yang pernah gue lakukan, dengan cara itu gue bisa mengobati sedikit demi sedikit rasa penyesalan gue," jelasnya lagi.
Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu, Jembatan yang panjang itu kembali normal setelah makhluk yang meneror mereka lenyap ditangan Sinta.
Perjalanan yang sangat melelahkan membuat Sinta semakin sadar jika betapa kejamnya dia dulu, sekarang yang hanya bisa dia lakukan adalah penebusan dosa.
"Jihan orang baik, jika gue meminta Erwin dengan baik-baik pasti Jihan akan memberikannya," gumam Sinta yang berjalan keluar dari jembatan itu.
"Setidaknya Jihan hanya sakit hati saja, dia tidak akan mati seperti sekarang," ucap Sinta yang tersenyum melihat masa lalunya.
"Tapi jika waktu bisa diulang gue gak akan ngelakuin itu, gue gak akan tega melakukan Turun Ranjang kepada ipar gue sendiri, hahaha." gumamnya yang berpikir jika waktu bisa terulang.
Dan disini gue, bersama dua orang gembleng, kita akan melanjutkan kehidupan kita, dimana dan kapan pun serta dalam keadaan apapun." gumam Sinta sambil menggandeng kedua tangan teman barunya sambil melanjutkan Perjalanan mereka.
Mereka berjalan ditengah jembatan yang hampir roboh seiring dengan langkah kaki mereka, tapi mereka tidak takut dan perduli sama sekali.
Bahkan mereka tidak ingin melihat kebelakang, mereka terus berjalan dan berjalan menuju awal dari jembatan ini.
Dan ketika mereka hampir di awal jembatan itu, rintangan pun mulai berdatangan mengganggu mereka, seakan tidak perduli mereka terus melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Mereka menyusuri jalan itu dengan senang hati, seakan tidak memiliki beban di pundaknya, walau rintangan menghadang mereka terus saja berjalan tanpa memperdulikan segalanya.
"Sedikit lagi," ujar Sinar dan Senja sambil menatap Sinta yang berada di antara mereka.
"Mereka sedikit melebarkan langkah kaki dan melompat ke ujung jembatan itu bersamaan dengan itu jembatan yang Kokoh dan besar itu pun menjadi runtuh sesaat.
Mereka pun tertawa lepas dan berpelukan bersama-sama, lalu memandangi jembatan yang runtuh sebagai bentuk keberhasilan mereka.
"Tidak disangka, kita bisa keluar dari sana," ucap Sinar.
"Ehmm, perjalanan yang sangat menyenangkan," sahut Senja sambil menarik nafas panjang.
Gue senang bisa kenal kalian, mungkin kita gak akan ketemu lagi, dan gue pasti akan merindukan kalian," jelas Sinta.
Sinta, maafin gue ya, Lo kesini karena muka ini, tapi gue begitu benci sama Lo karena muka ini juga, gue berharap kita bisa ketemu lagi," pinta Senja.
Gue juga ingin kita ketemu lagi," ucap Sinar.
Sinta hanya tertawa mendengar itu semua, dia seakan memiliki saudaranya kembali.
Jangan operasi ya, biar kalau kita ketemu gue bisa tetap lihat kakak gue di wajah Lo," pinta Sinta.
Gak akan, gue akan bangga punya wajah ini," jelas Senja yang langsung memeluk Sinta.
Hari semakin siang, dan mereka berpisah disini, sementara Sinta akan kembali kerumah untuk bertemu pamannya, sedangkan dua gadis yang sudah dianggap Sinta sebagai saudaranya mereka juga melanjutkan perjalanan menuju Air terjun.
Mereka berpisah dengan mengambil dua arah sambil tersenyum dan berharap akan bisa bertemu lagi, mereka yakin akan mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang terbesit di dalam benak mereka.
Tentang wajah baru milik Senja dan tentang Air terjun semua akan terungkap nantinya.
Bersambung...
__ADS_1