
Setelah begitu lama, akhirnya Sinta mampu ditenangkan oleh Daniel. Dan hari pun semakin pagi, Daniel yang menjaga tiga wanita itu berpamitan untuk pergi kembali.
"Tunggu Daniel," ujar Sinta.
Banyak hal yang masih tidak aku mengerti disini, tolong jangan mencoba membodohi aku," ucap Sinta.
Tidak ada yang mau membodohi siapa pun disini Sinta, Kemampuan mu memang aku yang berikan, tapi ketahuilah sebenarnya dasar itu sudah ada dalam dirimu," jelas Daniel.
"Urusan gue udah selesai, gue bakal pergi sekarang," jelas Senja.
"Apa Lo bakal pulang kedesa Lo?" tanya Sinar.
"Belum tahu, tapi gue butuh tenangin diri lagi," ucapnya lagi.
"Sinta gue bahagia punya muka ini sekarang," ucap Senja.
Setelah mengatakan itu Senja langsung meninggalkan mereka semua disana, sementara Sinar masih disana bersama Sinta dan Daniel.
"Sekarang apa saya perlu pergi tuan?" tanya Sinar.
"Tugas mu sudah selesai, pergilah," jawabnya.
Hal itu semakin membuat Sinta plongak-plongok, dia semakin kebingungan sekarang, begitu banyak yang terjadi disini.
Sinta yang mengira jika dirinya yang pemain, tetapi dia salah dia hanya alat disini.
"Kalau ingin tau semuanya maka ikut lah," ucap Daniel.
Sinta mengikuti Daniel dari belakang, keingintahuannya tentang semua ini membuatnya harus mengikuti Daniel.
Walau dia sendiri belum bisa memutuskan untuk bisa percaya dengan siapa, tapi dia sendiri juga tidak memiliki jalan lain untuk mengetahui jawabannya.
Setelah berjalan cukup panjang, Daniel sampai di tujuannya, sebuah gubuk didalam hutan yang Sinta sendiri belum pernah menginjakkan kakinya disini.
"Tempat apa ini?" tanya Sinta.
"Kita bisa bicara disini, tanpa takut di dengar oleh orang lain," sahut Daniel.
Sinta duduk di dalam gubuk tersebut. Melihat disetiap sudutnya, begitu banyak sarang laba-laba dan keheningan hutan membuat bulu kuduknya sedikit merinding.
__ADS_1
'Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Daniel.
"Semuanya," sahutnya.
"Baiklah, aku akan ceritakan dari awal kita bertemu," jawabnya lagi.
"Pertemuan kita murni saat itu, tapi saat aku menawarkan segalanya kepada mu dan kau menerima setiap syarat yang aku berikan, aku tahu banyak kebencian yang ada dalam dirimu." Jelas Daniel.
"Dan saat aku tahu, kau menikah dengan seorang pria, aku sangat terkejut kau bisa melanggar aturan itu, jujur aku marah disana. Karena yang awalnya aku hanya ingin memanfaatkan mu, kau malah lancang dengan segala itu.," tambahnya.
"Apa, jadi gue cuman sebagai alat untuk balas dendam?" tanya Sinta.
"Awalnya Sinta, kebencian yang terdapat dalam hatimu sangat besar, maka dari itu kemampuan itu begitu lengket pada mu, tanpa kau sadari kau bisa menggenggam sebelah bumi ini," jelas Daniel.
"Lalu, kenapa lo lepaskan gue?" tanya Sinta.
"Sederhana jawabannya, Kau bukan orang yang jahat sebenarnya, Jhon membuat kesalahan, dengan menyabotase guna-guna yang kau berikan kepada Erwin, dia membuat dirimu sadar akan kesalahanmu selama ini," tambahnya.
"Setelah aku tahu jika Jhon adalah pamanmu, aku ingin balas dendam lewat mu Sinta untuk melenyapkan Dia, untuk melenyapkan Jhon." Tambanya lagi dan lagi.
"Tapi kau berpihak padanya, kau begitu bodoh dengan percaya pada orang licik itu, dia sudah merencanakannya terlebih pada saat dia tahu jika Jihan akan pergi selamanya dari bumi ini," jelasnya lagi.
"Jhon tahu Roh Jihan selalu melindungi Erwin, setelah dukun itu mati Jihan melepaskan Erwin dan dia akhirnya pergi untuk selamanya." tambahnya.
"Lo bohong Daniel, mana mungkin Jhon paman yang sangat menyayangi keponakannya, dia sangat peduli padaku, Lo tidak perlu membuang waktu untuk omong kosong ini," Jelas Sinta.
"Aku Tidak berbohong Sinta, aku berkata jujur, aku tidak mungkin membohongimu," ucap Daniel.
"Lalu kenapa saat itu Lo bilang kalau bulan purnama adalah akhirnya dari diri gue?" tanya Sinta lagi dan lagi.
"Hal itu supaya kau tidak pergi, aku sudah berusaha mencari keberadaanmu, dan saat aku tahu kau sedang berada di air terjun itu lantas aku menyusul mu kesana," jelasnya lagi dan lagi.
"Asal kau Sinta, jika kau menginjakkan kaki sedikit aja pada air terjun itu, makan saat itu tubuhmu akan melepuh dan itu juga rencana dari si kaparat itu," tambah Daniel.
Sinta tidak tahu harus percaya apa tidak, tapi dia tidak ada pilihan lain, dia harus membuktikan sendiri, terkadang yang di ucapkan oleh Daniel ada benarnya juga.
"Gue mau pulang, gue mau tanya langsung pada paman," ucap Sinta.
"Percuma Sinta, dia sudah tidak ada disana," sahut Daniel.
__ADS_1
"Terus apa yang harus gue lakukan, ini semua memang kesalahan gue, mungkin ini memang sudah pantas gue dapatkan, jika saja turun ranjang itu tidak terjadi maka gue..gue tidak kehilangan kakak gue," jelas Sinta sambil menangis.
"Sudahlah tidak usah menangis, tenangkan dirimu, jika pun turun ranjang itu tidak terjadi, Erwin yang akan lenyap Sinta, Jhon sudah menumbalkan Erwin untuk menggantikan tempatnya menikahi Jihan, setelah menikah Erwin juga pasti akan mati," jelas Daniel.
Dan Jhon akan menggantikan tempat Erwin menjadi suami Jihan," tambahnya.
Sinta akhirnya pergi mengikuti Daniel, entah apa yang terjadi selanjutnya dirinya juga belum tahu, yang jelas semua akan terungkap jika dia bertemu dengan Jhon nanti.
...****************...
Sudah seminggu Sinta berdiam diri didalam kamar tanpa keluar sedetik pun, Daniel yang sudah membawanya pulang untuk tinggal bersamanya sementara waktu merasa bingung dengan apa yang terjadi.
Tapi Daniel selalu memberi semangat kepada Sinta, dia sendiri yang masih mempunyai masalah dengan orang lain, sekarang dia harus lebih dulu menyelesaikan masalahnya terhadap Jhon musuh lamanya.
Daniel yang masih berusaha mencari keberadaannya Jhon, terus bermeditasi untuk mengetahui tempat persembunyian dari Jhon.
Jhon yang masih berpindah-pindah tempat membuat Daniel susah untuk melacaknya.
"Aa-ahhkkk... "teriakan Sinta.
Daniel berlari kekamar Sinta untuk melihat kondisinya, Sinta yang semakin sulit di tenangkan harus di Totok oleh Daniel supaya bisa tenang.
Timbulnya rasa kasian terhadap Sinta membuat Daniel menjadi serba salah, dengan apa yang sudah dia lakukan sekarang.
"Sinta sudah seminggu lebih kamu begini," gumam Daniel.
"Semua ini gara-gara Jhon si kaparat itu, aku harus cepat menemukan keberadaannya sekarang." Gumamnya lagi.
Daniel memulai meditasinya kembali, dia mencoba mencari di setiap pandangan batinnya, dia berusaha masuk lebih dalam ke alam bawah sadarnya.
Saat dia sudah hampir menemukan titik terang dari tempat persembunyian Jhon, Jhon kembali menghilang lari seperti biasanya.
"pengecut... Kalau berani hadapi aku," gumam Daniel dalam meditasinya.
"Jangan lari kau sialan," jelasnya lagi.
Daniel yang masih berusaha untuk mengejar Jhon di dalam meditasinya, Sementara Sinta yang sudah mulai sadar, dia keluar mencari Daniel untuk menanyakan kembali segalanya kepada Daniel.
Bersambung ...
__ADS_1