
Jhon paman Jihan baru menyadari bahwa Jihan juga mempunyai turunan itu.
"Kenapa aku baru tahu sekarang," gumam Jhon.
Jhon yang tidak menyadari jika keponakannya itu memiliki mata batin, Jhon sangat menyesal, seharusnya dia bisa tahu lebih awal.
Ini semua akibat dia terlalu mendalami ilmunya sehingga dia lupa memperhatikan tumbuh kembang dari keponakannya.
Jihan termasuk keponakan kesayangan Jhon, bukan berarti Jhon tidak menyayangi Sinta, tetapi Sinta memang sangat berbeda dari Jihan.
Sikap tak adil yang sering di lakukan Sinta pada Jihan membuat Jhon sangat prihatin dan kasian pada keponakannya satu ini.
Walau Jihan selalu memberi apa yang adiknya mau, tapi Jhon tahu betul jika di dalam hatinya, Jihan sangat ingin menolak perlakuan dari Sinta.
Jihan yang selalu mengalah dengan Sinta, membuat gadis itu menjadi gelap mata dia rela melakukan apa pun demi tujuannya.
"Harusnya aku bisa lebih paham tentang itu," gumam Jhon.
"Jika dia pasti juga inginkan Erwin," tambahnya lagi.
"Semua sudah terlambat_," Jhon menghentikan ucapannya dan kembali memikirkan segalanya.
"Tidak semua belum terlambat, ini baru dimulai." Jawabnya sendiri.
"Tapi apa tujuan Jihan,"
Jhon yang bingung dengan Jihan, berusaha memilah-milah ucapan Jihan semasa hidupnya.
"Pasti ada petunjuk disini," sekali lagi dia bergumam.
Ditempat lain Sinta yang selalu meracuni Erwin dengan kata-kata yang dikasih oleh Romo, dia hanya ingin membuat Erwin mengikuti keinginannya.
Tetapi semakin dia berusaha semakin ada aja tingkah aneh Erwin yang membuatnya semakin bingung.
Romo dukun yang selalu membantu Sinta juga selalu mencari cara agar Erwin bisa mengikuti mereka sepenuhnya.
Tetapi mereka tidak tahu jika Jihan masih ada di sekitar Erwin, walau Erwin tidak bisa melihatnya tetapi dia selalu mendengar ucapan Jihan.
Jihan yang menyayangi adiknya pasti bisa mengalah sekali lagi untuk memberikan Erwin pada Sinta.
Tetapi Sinta malah main curang padanya, dia tidak berkata jujur pada Jihan, dan membuat Jihan sangat marah ketika mengetahuinya.
Saat roh Jihan telah pergi dari tubuhnya, dia melihat segala perbuatan Sinta selama ini padanya, itu yang membuat dia tidak pergi ke alam baka.
Jihan ingin membuat Sinta sadar dan menyelesaikan segala yang ada di dunia ini.
Dari kecil Jihan memang sudah bisa melihat makhluk tak kasat mata itu, tetapi dia selalu menghindarinya, dia selalu berusaha menjauh kan dirinya dengan hal gaib seperti itu.
Berbeda dari Jhon, jika Jhon sangat menerima segalanya dan mempelajari hal itu. Tetapi, Jihan tidak sama sekali bahkan dia berusaha untuk menutup mata batinnya itu.
Di kediaman rumah Jihan.
"Jhon aku harus pergi, aku tidak sanggup mendengar ucapan dari warga," ucap Sekar ibu Jihan.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Jhon.
"Kerumah Datuk di luar kota, aku harap kamu bisa jaga rumah ini," pinta Sekar.
Dirumah itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi, saat suami sekar meninggal dunia rumah ini terasa begitu hampa baginya.
Tetapi dia selalu tegar karena masih ada kedua anaknya, dan sekarang satu anaknya telah menyusul ayahnya dan yang satunya telah punya kehidupan yang baru.
Sekar merasa, ini saat nya dia meninggalkan rumah dan seisinya, sama seperti yang dia katakan pada suaminya dahulu.
Saat suaminya masih hidup Sekar pernah berkata "jika mas pergi duluan maka aku akan menyendiri seumur hidupku."
"Baik lah jika memang itu yang kamu mau," ucap Jhon.
Dalam benak Jhon, ini lebih baik baginya karena dia bisa menyelidiki kematian Jihan dan perubahan yang terjadi pada Erwin.
Seminggu setelah Sekar pergi menyendiri, Jhon terus berusaha berkomunikasi pada Jihan, dia ingin mengetahui segalanya.
Sementara itu Sinta terus menyirami Erwin dengan guna-guna nya, dari setiap perkataannya dan setiap makanan dan minuman yang Erwin makan.
Kehidupan rumah pun menjadi gelap ,aura yang selama ini terang benderang menjadi gelap gulita seakan kehidupan sudah lama tiada.
Jhon selalu mengadakan meditasi nya sampai dia mengetahui apa yang terjadi pada Erwin selama ini.
"Guna-guna," gumamnya.
"Selama ini Sinta yang melakukannya, Sinta juga penyebab Jihan tiada." gumamnya lagi.
Ya hubungan suami istri yang belum didapat Sinta dari Erwin, dia masih berusaha keras agar semua itu bisa terjadi.
Tetapi Jihan yang selalu berada di sekitar Erwin selalu menggagalkan rencana Sinta.
"Akhh, kenapa sih! kenapa susah sekali mas," keluh Sinta.
Erwin hanya diam saja melihat Sinta marah dan mengguncang tubuhnya.
"Sudah beberapa malam ini Jihan selalu muncul dalam mimpiku," gumamnya lagi.
"Kenapa kak! kenapa kau selalu menggagalkan rencana ku, dimana kau keluar lah," ucap nya marah.
Jihan memang sudah tidak bisa menembus Sinta di dunia nyata tetapi dia masih bisa menggangu Sinta di dalam mimpinya.
Pertolongan Romo kepada Sinta begitu kuat, walau Sinta sering merendahkannya tetapi dia selalu membantunya saat Sinta dalam kesusahan.
Jhon yang sudah mengetahui rencana Sinta ingin menggagalkan dengan merusak rencana dukun itu.
"Apa mau mu!" tanya Romo pada sukmanya Jhon.
"Hentikan segalanya yang telah kau mulai," jelas Jhon.
"Hahaha... tidak mungkin," ledek Romo.
Sukma Jhon dan dukun itu berkelahi sangat sengit, mereka bertarung habis-habisan.
__ADS_1
Setelah sekian lama akhirnya Jhon mendapatkan yang dia mau dan dia pun pergi dari sana.
"Awas kau akan aku balas nanti," ucap Romo.
"Batu mustika," ucap Jhon saat kembali ke raganya.
"Batu mustika ini harus aku simpan dulu," gumamnya dan dia pergi dari sana.
Setelah Batu tersebut ada ditangan Jhon, Romo pun mengalami muntah-muntah yang cukup parah.
Karena batu itu sebagian dari kekuatannya, jadi jika batu tersebut direbut darinya maka dia akan kehilangan tenaganya.
Lama-kelamaan setelah batu mustika itu diambil darinya, Romo sang dukun sakti menjadi melemah dan dia pun kehilangan sebagian dari kekuatannya.
Jhon yang telah mengambil batu tersebut, berhasil menyerap energi yang ada pada batu itu dan mengalahkan Romo hingga sekarang dukun tersebut telah tiada.
Ditempat lain di kediamannya, Sinta yang masih berusaha mendapatkan haknya sebagai istri, seketika gagal karena Pengaruh guna-guna nya hilang.
"Ngapain kamu disini?" tanya Erwin, sambil marah.
"Mas aku istrimu," jawab Sinta.
"Istri! enggak mungkin Sinta, aku tidak pernah menikahimu, aku hanya menikah dengan Jihan." jelasnya.
Sinta yang bingung kepada Erwin, berusaha mengembalikan keadaan dengan membaca mantra yang di kasih oleh Romo.
"Jihan, Jihan... maafkan aku Jihan aku telah mengkhianati mu, istriku," ucap Erwin sambil menangis.
"Aku istrimu mas, kita sudah menikah sebulan setelah Jihan tiada, kamu melamar ku mas, kamu bersedia melakukan turun ranjang itu."Jelas Sinta yang terisak tangis.
"Bohong! kamu memang sengaja melakukan ini, sekarang aku talak kamu,"
Ucapan talak yang keluar dari mulut Erwin membuat Sinta marah besar, kenapa Erwin bisa menyadari segalanya, kenapa pengaruh santet itu hilang.
Sinta akhirnya meninggalkan Erwin di kamar itu sendiri, dia bergegas pergi kerumah Romo untuk menanyakan segalanya pada dukun tersebut.
Sesampainya dirumah Romo, betapa terkejutnya Sinta melihat dukun itu mati secara mengenaskan di tempat ritualnya.
Sinta yang kaget melihat hal itu, sontak meninggalkan tempat itu, dia pergi dengan Isak tangis sambil berfikir kenapa semua itu bisa terjadi.
Kembali ketempat Erwin, Erwin yang masih merasa bingung kenapa dia bisa menerima pernikahan ini, saat melihat sekeliling dia menjadi linglung setelahnya.
Jihan(arwah) yang melihat nya pun merasa senang karena suaminya telah sadar dari pengaruh guna-guna tersebut.
Dan dia merasa waktunya telah selesai disini, Jihan pun menampakkan dirinya kepada Erwin, suami yang di cintai walau usia pernikahan mereka hanya 2 hari saja.
"Mas Erwin, aku bahagia menikah dengan mu, Jangan pernah menyia-nyiakan dirimu hanya untuk aku yang telah tiada, kau harus melanjutkan hidupmu mas, carilah wanita yang lain yang bisa engkau cintai, dan berbahagialah dengannya."
Setelah mengucapkan itu Jihan pun menghilang dari sana.
Jihan, Jihan! kenapa Jihan, kau pergi meninggalkan aku... kenapa!" ucap nya sambil menangis melihat Jihan yang menghilang dari hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1