Sengaja turun ranjang

Sengaja turun ranjang
Bab 7


__ADS_3

Julukan apa yang pantas kita sebut dengan seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.


Sinta benar-benar gila, dia sangat terobsesi kepada Erwin, iya obsesi! obsesi yang sangat gila, bukan cinta namanya jika kita membuat orang terpaksa untuk menerimanya.


Tidak hanya melenyapkan kakaknya, memberikan kegadisannya pun dia rela demi mencapai tujuannya.


Dengan merubah penampilannya Sinta mulai melakukan ritual demi ritual yang ada, Daniel mengajarkannya setiap ilmu yang dia punya.


Dari mulai membuka mata batin Sinta, itu sangat membuat dia semakin peka dengan adanya makhluk lain di sekitarnya.


Lalu melakukan ritual lainnya juga, mandi kembang, membaca mantra dan bertapa hingga 40 hari lamanya sambil berpuasa.


"Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Daniel, sambil merapikan rambut Sinta.


"Aku semakin percaya diri, aku semakin kuat aku akan taklukkan dia dengan tanganku sendiri," ujarnya.


"Sekarang aku akan kembali," tambahnya.


Sinta yang telah berhasil melakukan setiap ritual yang ada, menjadi bertambah sombong dengan dirinya, dia merasa dia semakin hebat dan kuat.


Dan kali ini dia akan membuat Erwin bertekuk lutut padanya, dia akan pastikan Erwin mencintai nya.


Oya, Daniel kamu pernah bilang, bahwa kamu akan kasih tau siapa orang dibalik mati nya Romo?" tanya Sinta.


"Pulang lah ke rumahmu dan kau akan mendapatkan jawabanmu di sana!" ucapnya.


Sinta bergegas kembali kerumahnya dia harus mencari tahu kenapa dukun itu tiba-tiba mati secara mengenaskan.


Sampai nya dirumah, dia bergegas masuk ke kamarnya dan mencari suatu klue disana, dan dia mengitari setiap sudut rumah untuk mencari sebuah petunjuk disana.


Jhon yang baru masuk, mencium bau lain dari dalam rumah, secara perlahan dia masuk kerumah dan ketika sampai di dapur dia melihat Sinta yang sangat berbeda penampilan.


"Sinta kenapa kamu disini, dari mana kamu?" tanya Jhon.


Paman, Sinta menatap mata pamannya dan menembus kedalam fikirannya, disana dia mengetahui segalanya.


"Jadi paman, yang telah membunuh Romo, paman yang sudah membuat aku kehilangan Erwin." jelasnya lantang.


"bukan saya, tapi dirimu sendiri, keangkuhanmu, kesombonganmu sangatlah tidak wajar," ucapnya.


"Dari mana kau mendapatkan kekuatan ini, seharusnya kau tidak melakukan itu, itu sangat keji, dilaknat sama Tuhan."


"Sudah lah! paman tidak perlu mencampuri urusanku, Kalau tidak ingin menyesal." ancam Sinta.


"Tidak seharusnya kamu mengancamku, Sinta!" ucap Jhon.

__ADS_1


...****************...


Sinta menemui Erwin dirumahnya, dia meminta maaf atas segala yang telah di perbuatanya.


Dia menyesali yang telah terjadi, dia sadar jika dirinya telah banyak berdosa pada kakaknya dan Erwin.


Sinta juga meminta maaf kepada kedua orang tua Erwin dan keluarga yang lain, Setelah dari sana dia akan meninggalkan kota ini.


"Aku akan pergi menyusul mama mas," ucapnya.


"Tapi aku tidak akan bisa pergi dengan tenang jika kamu belum memaafkan aku, jadi mohon terimalah rasa penyesalan ini," pintanya.


"Sudah Sinta, ini semua telah terjadi sebaiknya kamu jangan lakukan ini berdirilah, tidak pantas kamu sujud di hadapan ku seperti ini," ucap nya sambil mengangkat Sinta berdiri.


"Sebagai ujuk rasa maaf ku, kamu mau ya temani aku makan," pinta Sinta.


Erwin tidak menjawab satu kata pun, dia memang sudah memaafkan Sinta, tetapi rasa sakit nya masih saja di rasakannya.


"Ayo lah mas, hanya kali ini saja," bujuk Sinta.


"Baiklah Sinta,"


Erwin akhirnya menerima undangan makan malam dari Sinta, dia tidak menyadari bahwa undangan makan malam itu adalah kiamat bagi dirinya.


Setelah malam tiba, Sinta yang telah tiba lebih dulu di restoran sengaja menyiapkan segalanya, banyak makanan yang dipesan nya disana.


Sinta memegang Segelas es jeruk lalu memasukkan sesuatu kedalam nya dan membaca ritualnya, dan meletakkan kembali gelas itu ketempat meja Erwin.


Erwin pun datang dengan menggunakan jas yang rapi, dia ingin memahami Sinta dengan memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua, walau bagaimanapun Sinta adalah adik iparnya juga.


"Ehh! mas Erwin, ayo duduk mas!" pinta Sinta yang telah menyiapkan segalanya.


"Ini kamu semua yang menata?" tanya Erwin.


"Ia mas, aku ingin malam ini bisa spesial, ini bentuk ucapan maaf aku ke kalian semua, terimakasih kamu sudah mau datang mas," jelasnya.


Mereka mulai menyantap semua makan yang ada di atas meja dan tidak lupa pula es jeruk tadi, Sinta meminta Erwin untuk meminum es jeruk itu terlebih dahulu.


Sinta ingin Erwin meminum nya dengan alasan itu adalah es jeruk yang sangat enak di resto ini.


"Minumlah mas, ayo minum!" gumam Sinta didalam hatinya.


Erwin pun menenggak es jeruk tersebut hingga habis, keluar cahaya merah dari gelas itu dan Erwin pun menelan cahaya merah tersebut hingga habis.


Sinta sangat senang dan hampir tidak bisa menahan dirinya, dia begitu gembira sebentar lagi rencananya berhasil.

__ADS_1


Sinta yang telah berada di kediaman nya Daniel, sangat tidak sabar menunggu hingga besok pagi, karena saat itulah semua akan bekerja dan Erwin akan kembali pada Sinta.


Sinta yang sebelumnya memutuskan untuk pulang, telah mengurungkan niatnya, dia tidak ingin setiap rencananya digagalkan oleh Jhon pamannya.


Secara pamannya telah mengetahui siapa dia dan apa tujuannya selama ini, jadi dia kembali lagi kerumah Daniel lalu memutuskan untuk tinggal disana.


...****************...


Kringgggg...


Kringgggg....


Sinta yang masih tidur, terbangun lalu mengangkat telfon nya seraya telefon berbunyi sangat kencang.


"Hallo!" ucap Sinta yang masih mengucek matanya.


"Hallo, Sinta kamu dimana?" tanya mas Erwin.


"Mas Erwin, kenapa mas telfon pagi-pagi begini telfon, aku baru aja bangun," ucap Sinta yang pura-pura bingung.


"Kamu jangan pergi Sinta, aku ingin menemui sebentar, ada yang ingin aku bicarakan," jelasnya.


"Ada apa Mas, aku harus buru-buru takut ketinggalan pesawat," ujar Sinta, yang berpura-pura.


"Kamu tunggu aku sebentar ya, aku susul kesana," ujar Erwin yang langsung menutup telfonnya.


Sinta langsung tersenyum mendengar ucapan Erwin, gadis ini bangun dari tempat tidur nya dan bergegas mandi.


Seolah akan pergi, Sinta membawa koper besar menaiki taksi menuju bandara.


Erwin dan Sinta bertemu Di kafe dekat bandara, Erwin pun mengutarakan isi hati nya, bahwa dia tidak ingin Sinta pergi, karena dia akan tetap melanjutkan pernikahan nya bersama Sinta.


Aku mohon kamu jangan pergi Sinta," pinta Erwin sambil memegang kedua tangan Sinta.


Tapi mas! aku memang harus pergi, setidaknya ini yang bisa aku lakukan sekarang, untuk mengobati rasa bersalahku," ucap Sinta memelas.


"Aku sudah kehilangan Jihan Sinta, aku juga tidak ingin kehilangan kamu lagi, aku tarik semua perkataan ku pada mu Sinta, kamu masih tetap istriku sekarang dan selamanya,"


Betapa bahagianya Sinta mendengar kalimat itu keluar dari mulut Erwin, karena hal yang selalu di nantikan nya, sekarang sudah menjadi kenyataan.


"Kamu yakin mas! tapi kamu kan tidak mencintaiku, jangan mengasihani ku mas," ucap Sinta yang semakin mendramatisir.


Aku juga mencintaimu, aku sangat menyayangimu Sinta, aku mohon tinggal lah demi aku," pinta Erwin.


Erwin yang telah masuk dalam perangkap Sinta, memohon agar Sinta selalu bersamanya, setelah kejadian tadi malam, Erwin merasa bahwa dia sangat mencintai Sinta dan tidak bisa berjauhan darinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2