
Uli sudah menghubungi Ryan sebelumnya, hingga membuat Ryan mempercepat pekerjaannya agar ia bisa pulang lebih awal.
Sesampainya Uli dikontrakan Ryan, pintu dibuka Uli langsung berhambur ke pelukan Ryan dengan tangis yang sejadi-jadinya.
....
"Hey... Sebenarnya ada apa sih, enggak biasa-biasa nya elu kaya gini sama gue. Apa yang terjadi dan apa yang udah elu liat sampe-sampe histeris kaya gini" tanya Ryan bingung.
Uli hanya menangis dan terus menangis tanpa ia melepaskan pelukannya.
"Ya sudah kalo elu belum siap cerita enggak apa-apa, kalo elu udah siap gue bakal setia dengerin cerita elu" ucap Ryan seraya mengelus rambut Uli.
Ryan merasa Uli sudah mulai tenang, ia pun melepaskan pelukannya dan mendudukan Uli ditepi kasur.
Kedua tangan Ryan mengatup pipi kecil Uli dan menyeka sisa-sisa air mata yang terus mengalir.
"Tunggu sebentar gue ambilkan minum" ucap Ryan yang bergegas pergi kedapur untuk mengambilkan minum dan hanya mendapatkan anggukan dari Uli.
"Minum dulu airnya, kalo sudah merasa tenang coba ceritakan apa yang sudah terjadi" ucap Ryan lembut.
"Gue enggak mau pulang, gue mau disini" ucap Uli dengan nada sember dengan air mata yang terus mengalir.
Kenyataan yang begitu pahit sehingga membuat Uli sulit menerima kenyataan yang sesungguhnya.
"Iya enggak apa-apa lu disini aja, nanti gue panggil yang lain kesini biar bisa nemenin elu juga ya... " jawab Ryan yang masih terus mencoba menenangkan Uli.
__ADS_1
Ketika Uli mulai merasa tenang ia pun mulai bercerita semua kronologi pemergokan Axa sedang bersama wanita lain.
Ryan yang mendengarkan cerita Uli tidak kaget, karna sebelumnya Ryan sudah pernah bilang bahwa ia melihat Axa bersama wanita disebuah tempat makan, tetapi Uli tidak pernah percaya semua perkataan sahabatnya itu.
Cinta memang buta sehingga membutakan mata dan hati Uli. Tak sedikit teman-teman Uli yang sudah memberi tahu kalau kekasihnya itu sering pergi dengan wanita lain, tapi Uli selalu saja percaya dan yakin jika kekasihnya itu tidak seperti yang mereka kira.
Ryan hanya mengelus-elus punggung Uli agar ia sabar dan tabah. tak terucap sepatah katapun dari mulut Ryan.
"Harusnya gue percaya sama kalian sama apa yang sudah kalian bilang sama gue, tapi gue masih aja percaya sama laki-laki berengsek itu" kata Uli seraya membaringkan badannya diatas kasur.
"Sudahlah semua sudah terjadi, sekarang elu sudah tau kebenarannya kan. Gimana pun nanti kedepannya gue harap elu bisa ngelupain dia dan terus melanjutkan hidup elu. karna elu pantas bahagia Ul" Ucap Ryan
"Makasih ya elu udah nenangin gue".
"Owh iya anak-anak sebentar lagi kesini, elu istirahat dulu pasti capek kan" Ryan melangkah menuju ruangan depan untuk menunggu teman-temannya yang juga teman Uli.
"Mana Uli?" tanya Wulan
"Dikamar lagi tidur" Jawab Ryan
"Gue liat ya" Wulan melangkahkan kaki menuju kamar.
"Jangan bangunin dia, dia baru saja istirahat" Ryan yang mewanti-wanti Wulan.
Setelah Wulan melihat keadaan Uli ia kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain diruangan depan.
__ADS_1
"Gimana dia enggak bangun kan?" tanya Ryan hawatir.
"Dia pules banget, sebenernya apa sih yang terjadi. Apa dia melihat apa yang kita lihat kemarin? tanya Wulan
"Iyah seperti itulah kira-kira " jawab Ryan santai
"Sudah gak usah khawatir dia baik-baik saja ko" Ryan sambil menyalakan rokoknya.
Mereka berempat berbincang mengenai banyak hal sesekali terdengar tawa diantara mereka.
Uli yang merasa haus perlahan membuka matanya dan menghampiri suara-suara yang didengarnya.
"Hey sayang sudah bangun? maaf ya kalo suara kita membangunkan kamu" Ucap Wulan seraya menarik Uli untuk ikut duduk.
"Aku haus mangkannya kebangun" jelas Uli.
"Elu udah enakan Ul? " tanya Aji hawatir dan hanya mendapatkan anggukan dari Uli.
Malam kian larut Uli dan Wulan menuju kamar untuk tidur dan beristirahat. Sedangkan ketiga pria masih melanjutkan obrolannya diruangan depan.
Bersambung...
Semoga sukak sama ceritanya ya kakak, jangan lupa Like
😁😁😁
__ADS_1
👍👍👍