Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 1


__ADS_3

ku merupakan gadis Jawa Timur berbahasa Madura. Aku bertekad merantau ke negeri Upin Ipin agar bisa mengubah nasib. Aku akhirnya berani menempuh lewat jalur belakang,dari Surabaya-Tanjung Belawan. Aku selama 3 hari di Belawan mengurus surat-surat kemudian naik Ferry ke Klang, Malaysia.


Di Klang pun aku di sambut Ejen dan langsung di antar ke majikan. Aku sangat bahagia sekali. Sesampainya disana,aku langsung bekerja ke majikan Cina tanpa menguasai bahasa Melayu sedikitpun.


"Sari, tolong awak ambik tu kasut ya lepas tu you sapu itu lantai," teriak si Mem.


"Siap," jawab Sari semangat.


Tak lama kemudian aku membawa keset. Histeris lah si majikan. Aku pikir kasut\=keset. Baru awal kerja sudah kena marah. Si Mem (Mom) keluar dengan kesal. Entah dia memaki apa soalnya pakai bahasa Cina.


Aku cepat-cepat membersihkan lantai dan mencabut rumput di halaman kecil lantai 2. Setelah semuanya selesai, aku membuangnya ke tempat sampah. Tak lupa juga aku membakarnya. Aku pikir mungkin dengan hal ini majikanku bisa sayang. Aku sangat kagum terhadap tempat sampah orang Cina. Bentuknya bagus, ada ukiran naga bahkan ada bekas bakar kertas. Pikirku itu tempat sampah modern.


Belum sampai di pintu utama, sudah ada teriakan dari tetangga. Sudah banyak yang berkumpul, bahkan ada yang menelepon majikan. Tak lama kemudian majikan datang.


"Sari,you tahu tak apa yang you buat?" bentak majikan.


"Tak Mem," jawabku tertunduk.


"Itu tempat orang Cina punya sembahyang!!!".


Aku hanya bisa tertunduk, majikan tanpa hentinya mengomeliku. Entah apa lagi nanti. Ku lanjutkan kembali membersihkan lantai bawah. Si Mem entah pergi kemana, mungkin dia stres menghadapiku.


Aku menuju kamar mandi untuk mencuci baju. Astaga,aku tidak bisa pakai mesin cuci. Jadinya aku cuci pakai tangan seperti di kampung. Dulala, majikan stres akupun ikut stres.

__ADS_1


*******


Tak terasa aku sudah 2 minggu bekerja. Sudah bisa mengerti kasut,cawan,sudu,peti sejuk,dkk. Satu hal lagi yang bikin aku pusing. Si Mem bilang kalau tadi pusing-pusing buat makan angin bawa kereta pula. Ku pikir si Mem ini stres terhadapku sampai makan angin terus sampai nelan kereta api juga. Ku tepok jidat berkali-kali sambil melongo. Setelah di jelaskan dengan isyarat, yassalamm ternyata putar-putar untuk jalan-jalan naik mobil. Tak lama kemudian, akupun pingsan.


****


Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Banyak kata yang mirip dengan bahasaku namun memiliki arti yang berbeda. Kadang aku tertawa sendiri mengingat perkataan namun memiliki arti nyeleneh.


Suatu ketika Mem menyuruhku membelah tembikai. Betapa terkejutnya aku, menurut bahasaku tembikai memiliki arti pecahan genteng.


Dohlala ... ternyata tembikai itu semangka. Hampir aja aku mencari pecahan genteng, untung saja si Mem cepat menunjukkan bendanya.


Aku sampai pusing belajar bahasa Melayu setiap harinya. Tapi mau tanya aku takut Mem marah kepadaku. Selama ini aku tak pernah melihat dia tersenyum ke arahku.


Kami memasuki mobil, namun lagi-lagi aku tidak bisa membuka pintu mobil. Makian pun terdengar jelas di telinga. Sungguh sakit rasanya namun aku berusaha tak memasukkannya ke dalam hati.


Biarlah aku sakit hati yang penting nantinya aku bisa kirim uang gajian ke Indonesia. Cukup aku yang merasakan agar keluargaku kebutuhannya tercukupi.


***


Kini aku tiba di sebuah Vihara. Di dalamnya terdapat patung Budha yang begitu besar dengan banyak hio di depannya. Aku menatap kagum dan menghormati agama lain.


Ada satu benda yang membuatku kaget. Sebuah naga besar yang terbuat dari kue tart tampak menghiasi ruangan. Ingin rasanya aku mencoba sedikit namun Mem malah mendelik ke arahku

__ADS_1


Segera aku menyalami teman Mem tersebut. Dia sangat ramah dan berkesan sangat baik. Mem menitipkan ku kepadanya karena dia akan pergi sebab ada kepentingan.


Dia mulai mengajakku ngobrol dan tak lupa menyuruhku untuk membersihkan ruangan ini. Segera dia menunjukkan tempat penyimpanan alat kebersihan agar aku bisa cepat memulai bekerja.


Aku pun mulai membersihkan ruangan secara perlahan. Salah menyenggol sedikit saja, aku bisa menjatuhkan barang-barang berharga.


Dengan gerakan slow motion, aku mengelap semua bnda yang ada di ruangan ini. Meski aku beda keyakinan, namun aku tidak bertingkah untuk menjahili mereka.


Pekerjaanku kini hanya tinggal sedikit. Dia tampak puas melihat kinerjaku. Tampak dia tersenyum menatapku seraya membawa makanan kecil.


Akupun duduk menikmati makanan yang dia sediakan. Ingin rasanya aku bekerja di tempat ini saja, namun sepertinya tidak mungkin. Mem pasti akan menjemputku dan membawanya kembali ke rumahnya.


Tak terasa kini semua pekerjaanku telah selesai, namun Mem belum datang menjemputku. Akhirnya aku menunggu dan kemudian tertidur karena tubuh ini sangat lelah.


Aku bermimpi indah. Tampak seorang laki-laki muda datang menghampiriku dan menyatakan jatuh cinta kepadaku.


Ahh ... aku tersipu malu saat hendak menjawabnya. Tiba-tiba hidungku terasa sangat gatal. Dan huaccciimmmm ... sebuah bulu kemoceng berhasil masuk ke lubang hidung ku.


Rupanya Mem sudah berdiri dan berkacak pinggang ke arahku. Segera aku duduk kembali dan tertunduk takut. Mem datang disaat waktu yang kurang tepat dan membuyarkan mimpi indah ku.


Untunglah teman Mem menjelaskan kalau pekerjaan aku telah selesai. Hingga Mem tidak jadi memarahiku.


Mem pun mengajak aku pulang. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih untuknya. Kemudian aku memasuki mobil dan bersiap menuju rumah Mem kembali.

__ADS_1


__ADS_2