
Aku dan Saro menapakkan kaki di pintu gerbang Kedutaan. Tampak bangunan yang kokoh dengan simbol Garudanya. Di bagian depan terdapat tiang bendera pusaka yang berkibar dengan megahnya. Aku seketika menangis melihat sang Saka Merah Putih, serasa aku sudah berada di tanah airku.
Bapak security membawa kami memasuki ruang Shelter atau penampungan. Tampak ada seorang cewek datang membukakan pintu, rupanya dia Ketua Shelter ini. Kami diperiksa satu persatu dan mencatat biodata serta permasalahannya. Dia menjelaskan peraturan Shelter satu persatu bahkan dilarang menggunakan handphone. Terpaksa aku ikhlaskan handphone bututku disita.
Setelah semuanya selesai, kami memasuki ruangan. Ada banyak sekali orang Indonesia disini. Kami memperkenalkan diri dan tak lupa pula bersalaman. Di ruangan ini ada 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, tempat jemur baju, aula serta dapur. Setiap kamar dilengkapi beberapa kasur lantai yang berisi 2 orang. Aku kemudian di tempatkan di bilik 2 sedangkan Saro di bilik 1. Tak apalah aku berpisah dengannya toh masih di ruangan yang sama. Tak lupa pula aku dan Saro mendapat jatah seragam yang harus di pakai siang hari.
Shelter ini juga di lengkapi dengan cctv dan ruang cek kesehatan. Jadi setiap minggunya ada jadwal dokter Indonesia yang mengecek kesehatan kami.
Aku mendapat jatah keranjang baju. Segera aku merapikan beberapa bajuku dan setelahnya aku mulai mendekatkan diri ke teman-teman yang lain. Mereka menjelaskan jadwal shelter setiap harinya dan apa saja yang harus dilakukan saat bangun tidur dan setelahnya termasuk jadwal piket memasak.
***
Kebersamaan mulai ku rasakan meski kami berbeda suku. Ada yang dari Aceh, Kalimantan, NTT, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, Manado, dll.Aku tidak bisa menyebut dari Sabang sampai Merauke sebab aku tak menemukan orang Papua disini.
__ADS_1
Permasalahan yang dihadapi pun beragam, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang rumit. Bahkan ada yang di siksa majikan dan tak mendapatkan gaji sepeserpun. Adapula beberapa yang sempat dilecehkan.
Setiap hari aku bangun pagi-pagi sekali agar bisa mandi dengan leluasa. Shelter ini ada sekitar 150 orang sedangkan kamar mandi hanya ada 3. Telat bangun sedikit saja, aku harus mandi bersamaan dengan yang lain. Kadang 1 kamar mandi berisi 6 sampai 7 orang. Aku pendatang baru jadi aku masih sedikit risih jika harus mandi bersama.
Pukul 6 pagi semuanya harus berkumpul dan harus selesai mandi serta bersih-bersih. Kami melakukan senam bersama agar kondisi badan tetap bugar. Jika ada yang telat, Ketua Shelter tak segan-segan memberikan hukuman.
Selesai berolah raga, kami melanjutkan sarapan. Tampak barisan panjang mengantri nasi dan minuman, bagi yang sudah mendapat jatah langsung duduk berjejer di depan kamar. Mereka sarapan sambil mengobrol satu sama lain. Ada yang berbahasa Sunda, Madura, Jawa, Batak, dll. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mempelajari bahasa daerah yang lain.
Tepat pukul 8 pagi kami berkumpul ke Aula. Ustadzah datang memberikan dakwah serta mengadakan istighosah bersama. Sedangkan yang non Muslim kembali ke kamar, mereka sudah ada jadwal tersendiri ke Gereja. Ada pula yang berangkat kerja sebab sebagian ada yang di perbantukan, termasuk ketua Shelter yang mempunyai hak untuk keluar masuk shelter dan salah satu pemegang handphone.
Selesai Istighosah semua kembali ke kamarnya masing-masing sebab sangat di larang keluar dari ruangan ini tanpa ijin. Di luar sangat ramai antrian orang-orang yang mengurus dangur, mencuci baju bahkan hanya mengobrol saja. Sedangkan yang mendapat tugas memasak harus kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang dan malam.
***
__ADS_1
Ketua Shelter hari ini rupanya membawa kabar gembira. Beberapa orang dengan kasus ringan di panggil ke kantor untuk mengurus kepulangannya. Mereka tampak gembira dan saling berpelukan. Besok pagi mereka harus bersiap untuk Check Out Memo ke Putra Jaya.
Aku dan Saro mendengar kabar baik juga. Kami akan menggantikan posisi orang yang segera akan pulang. Aku di perbantukan bagian Satgas sedangkan Saro di bagian Visa. Besok pagi kami harus bersiap untuk memulai bekerja.
Ahh ... tak sabar rasanya menunggu pagi. Jarum jam seperti sangat lambat berdetak bahkan malam pun terasa sangat lama dari biasanya. Memejamkan mata serasa begitu berat membayangkan aku bekerja esok pagi.
***
Aku dan Saro sudah bersiap untuk memulai pekerjaan baru. Tak lupa aku menyemprotkan parfum agar lebih percaya diri. Rambutku sudah tertata rapi dan lurus, tadi aku mandi jam 3 setelah itu rebounding ala-ala Shelter. Rambut di biarkan sedikit basah kemudian temanku menyetrika rambutku sedikit demi sedikit secara perlahan dengan handuk. Lumayanlah bisa bertahan sehari.
Aku melakukannya secara bergantian dengan lain dan secara sangat hati-hati sekali. Pernah ada teman yang melakukannya saat masih mengantuk, alhasil rambutnya terbakar dan sedikit botak tentunya.
Aku dan Saro menuju tempat kerja masing-masing. Aku dan Ketua Shelter memasuki ruangan Satgas. Dia memperkenalkan aku dengan Staff yang bertugas disana. Mereka menjelaskan tugas-tugas yang harus aku kerjakan mulai dari interview setiap orang yang datang hingga meminta tanda tangan ke bagian Konsuler.
__ADS_1
Setiap hari aku naik turun tangga melayani orang yang akan membuat SPLP sebab kehilangan Pasport. Ada juga yang akan mengurus surat-surat kepulangan dengan membawa balita yang lahir di Malaysia. Mereka harus melengkapi persyaratan yang di perlukan, seperti Sijil kelahiran dari JPN (Jabatan Pendaftaran Negara) yang di legalisir oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia, Paspor ayah dan ibu yang masih berlaku, surat nikah (jika surat nikah berasal dari Negara lain harus melegalisir surat nikah tersebut ke Kedutaan tempat yang mengeluarkan surat nikah tersebut dan di legalisir ke Kemlu Malaysia), dan dokumen Asli dan di fotokopi sebanyak 2 rangkap.