Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 15


__ADS_3

Hari ini jadwal aku dan Saro untuk menghadiri persidangan di Putra Jaya. Kami akan di temani Kak Rini nantinya. Aku meminta ijin sebentar kepada atasan ku. Segala upaya telah aku persiapkan agar tidak ada kesalahan nantinya termasuk memberikan jawaban yang sama seperti yang kemarin. Saro hanya sebagai saksi jadi nanti dia hanya mengiyakan apa yang aku sampaikan.


Sempat tadi bertemu si Bos dan teman-temannya. Mereka merapatkan kedua telapak tangannya di depan dadanya pertanda mereka ingin meminta maaf kepadaku. Hatiku sempat ingin memaafkan, entahlah tiba-tiba timbul rasa kasihan kepada mereka. Rupanya Kak Rini cepat menyadari perasaanku, dia memberiku arahan supaya jawabanku tidak berubah nantinya dan menyatakan mau memaafkan mereka di depan hakim.


Kami tiba di tempat sidang. Keringat dingin sudah mulai bercucuran. Sidang pun di mulai. Aku menjadi sedikit tegang bahkan kakiku sudah mulai gemetaran. Beberapa pertanyaan di lontarkan dan ku jawab sesuai kenyataan tanpa ada yang berubah sedikitpun dari jawaban sebelumnya.


Sidang berjalan dengan lancar. Syukurlah Saro bisa menjawab dengan lancar, ahh ... rupanya sahabatku itu sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Aku sangat bangga padanya.


Sidang pun selesai, alhamdulillah ... kami memenangkan sidang. Kak Rini tersenyum bahagia sebab usahanya berhasil. Bos dan kawan-kawannya resmi ditahan, terlihat mereka tertunduk lesu mendengar putusan hakim.


Kami pun beranjak pulang. Sepertinya sudah memasuki waktu Dhuhur. Aku dan Saro berpamitan untuk ke Musholla kecil di samping parkiran sedangkan Kak Rini lagi absen. Kami mulai kebingungan sebab tidak ada mimbar untuk menentukan arah kiblat dan juga tidak ada orang yang sholat. Akhirnya menghadap yang menurut kami itu benar.


Di rakaat kedua aku menjadi tidak khusyu', sepertinya banyak yang memperhatikan sholat kami. Sengaja ku percepat sebab aku rasa ada yang aneh. Boabboo, ternyata kami sholat menghadap ke timur sebab kami bertolak belakang dengan yang lainnya.


Aku dan Saro berlari ke arah parkiran. Sungguh sangat malu rasanya, pantas saja tadi terdengar ada yang cekikikan bahkan ada yang setengah berbisik dengan yang lainnya. Kami menceritakan ke Kak Rini dan membuatnya tertawa terbahak-bahak.


Mobil kemudian melaju ke arah Kedutaan. Berulang kali aku kagum melihat pemandangan sekitar, jalanan terlihat sangat bersih. Aku dan Saro takjub saat melihat Twin Tower atau Petronas meski dari kejauhan. Entahlah ... kapan aku bisa memijakkan kaki disana. Aku sangat penasaran apa isi di dalamnya.


***


Pagi ini aku kembali bekerja. Tak terasa aku sudah 3 bulan di perbantukan di bagian Satgas. Suka duka telah aku rasakan selama bekerja namun tak pernah menyurutkan semangatku. Ada banyak kejadian yang membuatku tersenyum bangga.


Tepat pukul 9 pagi Kedutaan sangat sibuk, rupanya akan kedatangan tamu penting yaitu Bapak Ir. Joko Widodo yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Meski tak dapat bertatap langsung namun ada rasa kebanggaan tersendiri melihatnya dari kejauhan.

__ADS_1


Beliau juga menyempatkan sholat Jumat berjamaah di Aula Kedutaan. Banyak yang berebut agar bisa bersalaman dan tak lupa pula mengabadikannya. Namun sayang, Beliau tidak sempat mengunjungi Shelter karena waktunya sangat terbatas jadi aku kehilangan kesempatan istimewa ini.


Aku kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda sebelumnya. Beberapa berkas telah aku persiapkan untuk meminta tanda tangan. Dengan penuh semangat akupun menaiki tangga menuju ruangan


Atasan.


Tak terasa hari sudah menjelang sore. Para Staff sudah banyak yang pulang dan sudah tidak ada orang yang mengantri. Aku membersihkan ruangan dan tak lupa pula menguncinya. Akupun kembali ke shelter.


***


Pagi ini ada kabar mengejutkan, Saro akan segera dipulangkan ke Indonesia. Besok pagi, Saro dan ketua Shelter akan mengurus COM. Dia terlihat sangat bahagia sebab akan segera bertemu keluarganya. Aku hanya bisa menitikkan air mata sebab nama ku tidak ada di daftar.


Tiba-tiba aku di panggil Staff bagian Konsuler. Betapa aku sangat bahagia berharap akan di pulangkan juga. Namun takdir berkata lain, aku di tugaskan untuk menjadi ketua Shelter dan pekerjaanku segera di gantikan dengan teman yang lain.


Aku berusaha memahami segala tugas yang di berikan termasuk mendapat tambahan tugas berbelanja segala keperluan shelter di pasar borong. Lumayanlah bisa menghirup udara luar nantinya.


***


Pagi ini aku resmi mengantikan ketua Shelter yang lama. Segala sesuatunya aku kerjakan dengan sepenuh hati. Saat siang hari aku harus bolak balik shelter dan kantor. Lumayanlah bisa mengurangi timbunan lemak di tubuhku.


Rupanya semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi harus menghadapi orang banyak. Di shelter ada bermacam-macam suku bahkan beraneka ragam tingkah laku.


Ada yang mengalami gangguan kejiwaan, orang sakit, hamil bahkan membawa anak-anaknya. Tak lupa pula ada yang berpura-pura mengalami gangguan kejiwaan supaya cepat di pulangkan.

__ADS_1


Namun ada beberapa juga yang dari majikan mengalami gangguan kejiwaan sampai di shelter bisa sedikit membaik. Alhamdulillah aku mempunyai cara untuk sedikit memulihkannya.


Konflik pun kadang timbul di tengah-tengah kami, seperti ada kesalahpahaman ucap dan tingkah sehingga menimbulkan keributan. Tak jarang juga ada yang saling berkelahi. Aku juga manusia, seringkali emosiku memuncak jadi aku menghukum keduanya dan tak jarang pula aku memarahinya. Entahlah, mungkin karena efek capek dan tekanan juga.


***


Saat tengah malam, gawaiku berdering begitu nyaring. Sengaja aku mengeraskan volume deringnya agar aku lebih mudah terbangun saat ada panggilan masuk. Rupanya pihak Security yang menelepon. Di depan ada orang yang datang meminta perlindungan ke Kedutaan.


Tampak seseorang perempuan paruh baya. Dia berhasil kabur dari majikan karena mengalami penyiksaan berat. Untunglah ada orang yang menolong dan mengantarkannya ke Kedutaan.


Tampak telinga kanannya sudah tidak ada dan yang sebelah kiri hanya ada sisa sedikit. Kedua kelopak netranya terdapat bekas luka yang menghitam bahkan setelah aku periksa seluruh badannya tanpa sadar aku menitikkan air mata.


Dia menceritakan bahwa kedua payudaranya telah di seterika majikan. Seluruh tubuhnya ada beberapa bekas pukulan juga. Akupun bertanya penyebab majikan melakukan hal itu, ternyata tak jauh beda dengan pengalaman ku.


Segera aku menyuruhnya untuk masuk ke kamar yang sudah aku tunjukkan dan aku kembali ke tempat tidurku. Belum aku berhasil memejamkan mata, gawaiku kembali berdering. Ada lagi orang yang datang. Meski dalam mengantuk berat, aku bergegas kembali ke pos Security.


Seorang perempuan muda yang hanya tampak lekukan tulang-tulangnya terlihat duduk di kursi roda. Dia tak bisa menunjukkan identitas bahkan tak berbicara sedikitpun. Sepertinya ada seseorang yang sengaja membuangnya.


Dari tubuhnya menyeruak bau yang kurang sedap dan berhasil membuatku mual. Setelah aku periksa, Ya Allah ... ada bagian vital yang mengalami infeksi bahkan keluar nanah dan darah. Aku membawanya masuk dan membangunkan ketua kamar 4 agar menyiapkan kasur khusus orang sakit.


Aku berlari ke gudang untuk mengambil Diapers dewasa agar yang lain bisa merawat tanpa merasa jijik. Tak lupa pula aku membawa wewangian agar baunya sedikit berkurang.


Tak terasa sudah pukul 3 dini hari. Aku kembali ke kamarku untuk istirahat sejenak. Aku berhasil memejamkan mata selama 30 menit. Namun telingaku mendengar pintu di ketuk seseorang, tampak temanku yang mendapat piket memasak sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Aku menuju stok gudang dapur untuk menyiapkan bahan-bahan memasak untuk sarapan dan makan siang. Setelah itu aku menyiapkan beberapa laporan data shelter untuk di laporkan kepada Staff terkait.


__ADS_2