Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 3


__ADS_3

Meski tak tahu arah kiblat, aku selalu menjaga sholat. Entah menghadap kemana, hanya menurut feeling saja. Tak pernah juga aku mendengar adzan jadi aku ikuti jadwal seperti di kampung. Mem kurang suka aku sholat bahkan pernah melarangnya. Tak ku hiraukan ancaman dia, kadang aku sholatpun di kamar mandi tentunya aku keringkan dulu lantainya.


Pernah aku sholat tahajjud di kamar, tiba-tiba ada teriakan dari anak majikan di depan pintu. Lampu memang sengaja ku matikan. Mereka lari tunggang langgang bahkan ada yang terjatuh. Seketika juga aku menjerit, aku kira ada hantu beneran. Boabboo, ternyata aku yang di kira hantu.


Mem marah besar, sumpah serapah keluar dari mulutnya. Tak mau kalah, aku juga memakinya tapi pakai bahasa Madura tentunya. Si Mem membalas memakiku dengan bahasa Mandarinnya.


****


Pagi seperti biasa aku menyiapkan sarapan roti. Tak lupa juga aku mendapat jatah sisanya. Perutku memang ori Indonesia, kalau belum ada nasi bagiku itu hanya pengganjal perut saja.

__ADS_1


Setelah semuanya pergi, ku mencoba cari sesuatu yang bisa aku makan. Saking pelitnya, Mem mengunci tempat penyimpanan beras. Di kulkas pun cuma ada air dan sosis anak-anaknya.


Bagaikan di ujung tanduk, terpaksa ku masak mie. Baru sesendok saja lidahku sudah nyurot bin keriting (mengkerut). Maklum, lidahku masih perdana berkenalan dengan mie laksa.


****


Satu persatu patung mereka aku bersihkan. Tak lupa juga aku sambil berbicara sendiri dengan mereka. Tiba-tiba aku mempunyai sebuah ide cemerlang. Satu persatu bakpao di tempat sembahyang ku lahap dengan cepat, bahkan buah-buahannya pun juga.


***

__ADS_1


Esok paginya, aku mempunyai ritual yang sangat di tunggu-tunggu yaitu ritual buang sampah. Sengaja ku perlambat kakiku agar bisa berlama-lama di luar. Tampak berjejer rumah-rumah mewah dengan para anjing-anjing mereka. Udara begitu menyegarkan. Tampak abang-abang Bangla mengangkut sampah sambil tersenyum genit ke arahku.


Belum selesai melamun ria, terdengar teriakan Mak lampir memekakkan telinga.


"Sari ... dasar betina degil !," teriak Mem.


Seketika aku terkesiap dengan teriakan yang begitu memekakkan telinga. Teriakan yang membuat bulu kudukku merinding. Bahkan terasa menembus jantung hingga ulu hati.


d y

__ADS_1


__ADS_2