Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 17


__ADS_3

Satu persatu sudah banyak yang pulang ke tanah air karena kasusnya telah selesai atau hanya kasus ringan. Aku menjadi sedikit lega karena dengan begitu tanggung jawabku sedikit berkurang.


Namun itu hanya bertahan sementara sebab banyak pula yang datang. Bahkan melonjak drastis, terpaksa sebagian ada yang di pindahkan ke Rumah Kita. Disana sudah ada Staff yang mengelolanya.


Seringkali setiap ada perpindahan terjadi konflik. Mereka beranggapan kalau akulah yang memilihnya, padahal yang memilih adalah Staff terkait. Banyak yang menjadi kurang suka bahkan begitu sangat membenciku. Tak jarang pula ada yang diam-diam ingin menjatuhkan ku.


Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya menjalankan tugas yang terkadang mendapatkan tekanan juga. Itulah resiko bekerja, hanya tampak mudah bagi orang lain.


***


Hari Sabtu merupakan jadwal mengecek gudang stok makanan. Tak lupa pula aku membuat daftar barang-barang atau makanan yang sudah habis. Tadi pagi Staff terkait memintaku untuk segera membuat laporan.


Setelah selesai, segera aku bergegas menuju ruang Staff. Beliau kemudian menyetujui serta menandatangani berkas yang aku berikan.


Sepulang dari ruang Staff, aku melanjutkan tugasku yang lain tanpa mengenal lelah. Meski kadang aku masih saja mendapatkan kritik pedas karena melakukan kesalahan.

__ADS_1


Tepat pukul 7 malam aku kembali ke Shelter. Segera aku membersihkan diri dan bersiap untuk menemani Staff terkait untuk belanja keperluan Shelter. Sedangkan untuk Shelter, sudah ada ketua kamar masing-masing yang menjaga agar tidak terjadi keributan.


Akupun berangkat bersama Beliau. Kami berbelanja di Pasar borong Kuchai Lama. Dengan cepat aku berlari memilih barang yang sesuai dengan daftar berharap agar cepat sampai di Shelter.


Kini sudah ada 3 troli besar aneka barang keperluan Shelter. Cukuplah untuk persediaan selama seminggu. Rasa kantuk pun hilang sebab aku bisa melihat pemandangan dan menghirup udara segar.


Pukul 3 dini hari aku tiba kembali. Semua barang masih di mobil, jadi aku harus membangunkan semua temanku untuk mengangkat belanjaan kecuali mereka yang sakit.


Aku berlari menuju shelter melewati beberapa ruangan yang sedang kosong. Meski aku terlihat jahat di mata mereka, namun aku sebenarnya penakut.


Ku ketuk pintunya berkali-kali namun tak ada satupun yang terbangun. Akhirnya ku raih sepatuku untuk mengetuk pintu sambil berteriak se kencang-kencangnya.


Tak lupa mereka membersihkan ikan serta sayuran agar tak membusuk nantinya. Sedangkan untuk makanan kering bisa langsung di masukkan gudang.


Setelah semuanya selesai, aku mengunci stok gudang. Bahkan aku sering juga tertidur di gudang, namun pagi ini aku menuju kamar sebab aku merasa tidak enak badan.

__ADS_1


Beberapa teman yang lain kembali ke kamar masing-masing sedangkan yang mendapat piket memasak harus tetap di dapur.


***


Hari Minggu merupakan jadwal bersih-bersih semua ruangan. Tampak ketua kamar membangunkan yang lain untuk segera bangun.


Aku terbangun juga mendengar teriakan mereka namun tubuhku sepertinya demam. Mak Yati meraba keningku dan segera mengambil uang logam. Dia mengerok ku dengan minyak kayu putih.


Aku melanjutkan tidur kembali sedangkan yang lain melanjutkan bersih-bersih ruangan. Tak ada satupun yang berani membangunkan ku, Mak Yati sudah memberitahu yang lain kalau aku demam.


Aku tertidur pulas tanpa mengetahui ada Staff yang lain datang ke Shelter pagi ini. Tiba-tiba air sudah membasahi wajahku. Aku sangat terkejut bahkan Beliau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Bahkan dia tidak percaya dengan alasan yang aku lontarkan.


Entahlah, aku begitu sakit mendengarnya. Sering kali aku mendengar kritikan pedas namun hanya kali ini yang begitu menyakitkan.


Segera aku berlari menuju gudang, ku kunci pintu agar tak ada yang masuk. Aku menangis di dalamnya. Tak ku hiraukan ketukan Mak Yati. Cuma tempat inilah yang membuatku merasa nyaman.

__ADS_1


Entah berapa lama aku menangis bahkan tak terasa aku tertidur. Sebuah tangan terasa membelai rambutku namun tangan itu terasa sangat dingin. Bahkan terdengar dia mengucapkan terima kasih.


Saat aku membuka mata, tak ada seorangpun ada di dekatku. Hanya ada kulkas dan yang lainnya. Mungkin aku tadi hanya bermimpi.


__ADS_2