Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 13


__ADS_3

Aku duduk termenung memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Entah berapa kali aku menangis sehingga mataku sangat bengkak. Jauh dari praduga, Ali tak bisa banyak membantuku sebab dia lebih takut sama Bos.


Pintu terdengar di buka seseorang, rupanya si Bos dengan beberapa anak buahnya. Dia menyuruhku mengemasi barang-barang ku. Aku sedikit lega meski tak tahu akan di bawa kemana. Betapa terkejutnya aku, diantara beberapa tumpukan baju aku menemukan sebuah handphone kecil.


Ali mengerdipkan matanya agar aku tak bersuara. Untunglah tak ada yang melihatnya, aku kemudian menaruhnya di lipatan baju. Aku tersenyum ke arahnya sebagai tanda terima kasih.


***


Aku sudah berada di dalam mobil di apit anak buah Bos. Ali tak ikut denganku sebab Bos tak mengijinkannya. Mungkin mereka berpikir Ali akan membantuku untuk kabur.


Mobil melaju dengan cepat menuju sebuah apartemen. Setibanya di sana, aku disuruh turun dan menaiki tangga darurat. Tampak orang India dan Bangladesh berlalu lalang. Aku terus diapit menuju sebuah kamar.


"Saro ..." teriakku. Tampak di dalamnya ada sahabatku itu. Kami saling menangis dan berpelukan, sudah 10 hari kami berpisah kini aku bertemu kembali dengan sahabatku.


Mereka meninggalkan kami berdua seraya berucap bahwa aku dan Saro akan di jual ke mucikari 3 hari lagi. Tak lupa pula mereka kembali mengunci pintu. Bahkan tampak menggembok pintu teralisnya.

__ADS_1


Aku membuka tas pakaianku dan mengeluarkan handphone. Di dalamnya sudah terdapat kartu Digi dan pulsa sebesar 10RM. Aku mengucap syukur beberapa kali, begitu juga Saro.


Kami mulai menghubungi keluarga di kampung dan mengatakan kepada mereka kalau kami baik-baik saja agar mereka tak mengkhawatirkan kami. Bahkan ada beberapa saudara juga yang berbicara dan meminta mengirimkan sejumlah uang secepatnya sebab mengira kalau kami memiliki banyak uang.


Aku dan Saro mendaftar di SMS grup mencari jodoh. Kami mulai mempunyai beberapa kenalan lelaki dalam sehari. Lumayanlah, dengan sedikit rayuan ada memberi pulsa gratis sambil meminta pertolongan kepada mereka.


***


Beberapa orang bersedia menolong kami. Mereka menyuruhku mencari alamat apartemen ini. Saro sibuk mencari di kamar Pi'i sedangkan aku bertugas mencari di laci meja. Akhirnya aku menemukan sebuah bill sewa apartemen sedangkan Saro hanya menemukan kunci pintu tapi kunci pintu besinya tak berhasil di temukan. Aku tersenyum lega dan memberitahukan mereka.


Rupanya alamat yang ku berikan salah. Banyak dari mereka mengumpat sebab mengira kami menipunya. Alamat itu mengarah ke pemilik apartemen ini dan mereka menyerbu rumah itu. Alhasil mereka di usir dan di kejar anjing si empunya rumah.


Namun setelah ku hubungi tak ada yang mengangkat sebab sudah larut malam. Aku akan mencobanya esok hari.


***

__ADS_1


Tepat pukul 9 pagi, aku menelepon Kedutaan kembali. Alhamdulillah ... terdengar suara di seberang sana, seorang perempuan dengan tutur kata yang lembut. Aku menceritakan keadaanku dan meminta pertolongannya.


Mereka merespon dan bersedia menolong kami. Aku dan Saro sibuk mencari alamat apartemen ini dengan penuh ketegangan. Keringat tanpa henti mengucur dari keningku, tak lupa juga aku menyebut Asma-Nya. Rupanya pertolongan Allah itu nyata, tiba-tiba netraku menangkap tumpukan di lubang kecil langit-langit apartemen. Segera aku menumpuk kursi agar bisa menjangkaunya sedangkan Saro bertugas memegangi kursi agar aku tak terjatuh.


Alhamdulillah, atas ijin-Nya aku berhasil mengambilnya. Rupanya itu semua bill listrik. Disana tertera alamat apartemen ini. Aku dan Saro berloncat kegirangan dan segera mengirimkan alamat itu ke Kedutaan.


Terdengar pintu di ketuk dengan keras. Saro membukanya, terlihat 5 orang polisi Diraja Malaysia menyuruh membuka pintu besi. Saro sangat ketakutan bahkan tak bisa menjawab. Mereka menanyakan Pasport namun ku jawab kalau kami tak memilikinya dan ku jawab juga kalau kami di sekap.


Pintu besi di tendangnya dengan keras namun tak membuahkan hasil. Untunglah petugas Kedutaan datang di saat waktu yang tepat. Mereka mengatakan kalau kami sudah meminta perlindungan sebelumnya. Akhirnya polisi itu tidak menangkap kami dan membantu pencarian pemilik apartemen ini.


Sudah 1 jam pencarian berlangsung, Pi'i dan si Bos berhasil di temukan. Mereka di bentak agar segera membebaskan kami.


***


Kami semua tiba di kantor polisi Putra Jaya dan dimintai keterangan. Aku dan Saro menjawab dengan sebenarnya dengan di dampingi pihak Kedutaan. Polisi tidak bisa menahan kami karena sudah menjadi kewenangan Kedutaan.

__ADS_1


Aku kemudian di tempatkan di ruang berbeda. Ada sekitar 10 orang yang mengintrogasi ku secara bergantian. Aku menjawab sesuai kenyataan dan jawaban ku sama dengan sebelumnya. Setelah keluar dari ruangan tersebut, aku di sambut pelukan oleh kakak cantik itu. Dia bersyukur sebab jawabanku tidak ada yang berbeda.


Aku dan Saro di bebaskan kemudian di bawa ke Kedutaan namun nantinya harus tetap menghadiri persidangan selama 3 kali. Kakak cantik itu mengingatkan agar jawaban ku nanti tidak berbeda, sebab kalau sampai ada yang salah akan berakibat fatal. Mereka akan di bebaskan, namun aku dan Saro yang akan menggantikannya.


__ADS_2