Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 16


__ADS_3

Ku hempaskan tubuhku di kasur berharap tak ada orang yang datang lagi di saat jam tidur. Seharian ini aktifitas sangat padat dan menguras tenaga dan pikiran.


Tadi siang kedatangan orang lagi, kondisinya tidak parah namun mengalami gangguan kejiwaan. Aku tak bisa mendapatkan informasi apapun sebab hanya mematung saja.


Saat ini aroma kasur dan bantal lebih menggoda dari aroma masakan. Mungkin hanya butuh 5 detik saja aku sudah bisa tertidur pulas bahkan mendengkur.


Gawaiku berdering menyanyikan lagu "Rindiani" kesukaanku. Terdengar suara seseorang di seberang sana.


"Sari, kamu sudah tidur ya?," tanyanya.


"Iya Pak, apa ada orang datang lagi?," aku berbalik tanya.


"Tidak ada tapi coba kamu keluar kamar sebentar dan cek temanmu. Dia sepertinya lagi belajar menjadi model," dia menjawab sembari tertawa.


Rasa penasaran mengalahkan kantukku. Segera aku bangun dan memastikan. Aku periksa kamar satu persatu namun sepertinya mereka tertidur semua sebab lampu kamar mereka tidak ada yang menyala.


Aku kemudian memeriksa ruangan yang lain. Tampak seseorang berdiri di depan CCTV sambil melenggak-lenggok ala model. Segera aku berlari ke arahnya sebab dia tanpa memakai sehelai benangpun.


Pantas saja yang lagi bertugas mengecek CCTV tertawa cekikikan. Ingin rasanya aku tertawa tapi takut dosa.


Segera ku raih tangannya agar menjauh dari CCTV namun dia menolaknya dengan kasar. Aku kemudian meraih kain terdekat untuk menutupi sebagian tubuhnya meski itu hanya kain lap.


Segala upaya telah dilakukan namun tetap mengalami penolakan. Untunglah ada Mak Rani yang bangun untuk sholat Tahajjud. Dia membantuku menyeret orang tersebut untuk kembali ke kamarnya.


Tiba-tiba dia menamparku dengan sekuat tenaganya. Tubuhku sedikit oleng sebab mendapat perlakuan secara tiba-tiba. Aku hanya manusia biasa, tak dapat juga menahan emosi.

__ADS_1


Dengan bantuan temanku, aku menyeretnya ke kamar mandi. Aku kemudian beranjak mengambil sebuah cermin dan menyuruhnya untuk bercermin beberapa saat sambil terus memarahinya.


Rupanya dia menangis namun aku tak menghiraukannya. Mak Rani terus menahan tangannya agar tak memberontak sedangkan aku menyabuni seluruh tubuhnya. Seperti lagu Maggi Z, namun ini sedikit ralat judul yaitu Mandi Sabun Tengah Malam. Meski menggigil aku terus menyiramkan beberapa gayung air.


Setelah semuanya selesai, aku dan Mak Rani membawanya ke kamar. Mak Rani membantu memakaikan bajun sedangkan aku bertugas memoles wajahnya. Cantik juga pujiku terhadapnya, dia kemudian merangkulku sambil mengatupkan kedua bibirnya. Entah apa yang di ucapkan sebab nyaris tak terdengar.


***


Sejak kejadian itu dia sedikit bisa ku ajak berkomunikasi. Lumayanlah meski hanya tersenyum bahkan mengangguk saja. Sebelumnya dia hanya mematung dan membuang hajat sesuka hati.


Lambat laun dia mengalami perkembangan. Mulai dari mau makan sendiri hingga tidak sembarangan buang hajat.


Ku dekati secara perlahan sambil menggali informasi tentangnya. Dia mendekati telingaku seraya berbisik. Namanya Yati, berasal dari provinsi A.


Ku jitak kepalanya keras-keras, pembalasan dari tamparan dia kepadaku. Aku mengira dia mendapat penyiksaan dari majikan, rupanya karena asmara terlarang.


Seseorang berteriak memanggilku. Aku cepat berlari ke tempat asal suara. Perempuan yang datang dalam keadaan sakit kemarin sekarang makin parah.


Aroma tak sedap menyeruak dari tubuhnya. Aku kemudian mengambil masker dan tak lupa pula sarung tangan. Dokter kemarin sudah mewanti-wanti demikian.


Rupanya penyakitnya tak kunjung membaik bahkan ada yang membusuk. Segera ku telepon Atasan meminta ijin untuk di bawa ke Hospital.


Tak berselang lama, Ambulans pun datang. Karena tak bisa bergerak, akhirnya kami menggotongnya ke tandu.


Aromanya kembali menyeruak tapi tak menyurutkan langkah kami.

__ADS_1


Sebuah lipatan foto terjatuh saat tubuhnya diangkat. Tampak seorang perempuan sangat cantik dengan pakaian yang begitu feminim. Sepertinya lokasi foto tersebut berada di sebuah club malam dengan beberapa foto minuman di depannya.


Di belakang foto, terdapat beberapa nomor. Segera ku hubungi mereka satu persatu berharap salah satu dari mereka mengenalnya. Namun setelah aku menceritakan ciri-cirinya, mereka semua menutup telepon dan mengaku tidak kenal.


Akhirnya kabar duka datang, dia tak berhasil selamat karena penyakitnya lumayan parah. Menurut Dokter, penyakit ini belum ada obatnya.


Karena tidak mengetahui nama, alamat, serta asalnya maka pihak Kedutaan memutuskan untuk mengubur di Malaysia.


Semua anggota shelter sepakat untuk mengadakan doa bersama. Kami membaca Yasin bersamaan, setelah selesai salah satu dari kami mengalami kesurupan.


Tubuh Mak Yati di rasuki perempuan tadi. Dia menangis sesenggukan dan meminta maaf kepada semuanya.


"Aku minta maaf ya, aku memiliki kesalahan kepada kalian semua," ucapnya lirih.


"Iya," jawab kami serempak.


"Aku sangat menyesal atas perbuatanku. Ingin aku bertobat tapi semuanya sudah terlambat," ucapnya seraya sesenggukan menangis.


Kami semua menjadi iba mendengar penuturannya. Setelah berpamitan, Mak Yati pun sadar kembali. Masalah rupanya tak sampai disitu, beberapa teman yang lain bergantian kesurupan.


Rupanya penghuni Shelter yang sudah meninggal mulai menunjukkan keberadaanya. Ada juga yang bertingkah seperti anak kecil.


Untunglah salah satu dari kami memiliki sedikit keahlian jadi masalah bisa teratasi. Dengan berbekal bawang putih, mereka bisa kembali sadar.


Usai sudah acara malam ini, aku menyuruhnya untuk kembali ke masing-masing kamarnya. Bau semerbak bunga juga mulai tercium dari berbagai sudut. Akupun berlari ke kamar setelah semuanya di pastikan sudah tertidur.

__ADS_1


__ADS_2