Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 4


__ADS_3

Teriakan Mak Lampir alias Mem berhasil membuyarkan lamunanku. Aku segera berlari masuk dan mengunci pintu gerbang. Tampak Mem berkacak pinggang dan terlihat seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Mem sangat yakin kalau aku lah pelaku yang menghabiskan bakpao beserta buah-buahannya di tempat persembahyangan. Sumpah serapah terlontar bahkan satwa kebun binatang pun disebutnya satu persatu.


Abboabbo lalala, hatiku sangat sakit. Entah muncul keberanian darimana, ku balas makian pula.


"Abbuh Mem, majuh lah mun akekettah setiah," jawabku sembari mengusap air mata. [Abbuh Mem, ayo kalau mau berkelahi sekarang]


"Awak cakap apa hal?," tanya Mem emosi.

__ADS_1


"Taoh lah Mem, tak omes engkok riah lah," jawabku kesal. [Entahlah, aku sudah capek dengan semua ini]


"@π÷£°£∆£}£}," jawab Mem dengan bahasa Cina.


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku di dorong hingga terjatuh. Belum puas sampai disitu, Mem menarikku ke kamar mandi, di guyurnya hingga aku basah kuyup. Mem meninggalkanku begitu saja dan berlalu pergi.


Hari sudah menjelang sore. Seperti biasa aku menyiram bunga serta membersihkan taman kecil. Di depan pintu gerbang, terlihat ada seorang cewek berkulit sawo matang sepertiku. Aku memanggilnya untuk sekedar berbasa-basi tentunya hanya bisa bertatap di gerbang pembatas. Dia bekerja di sebelah rumah Mem, Wati namanya. Dia bercerita kalau dulu suami Mem selingkuh dengan pembantunya. Bahkan dulu Wati sering mendengar pembantu sebelumnya disiksa bahkan kabur. Mungkin itu salah satu alasan mengapa sangat membenciku karena dendam kesumat dengan perempuan Indonesia.


Untung saja aku cepat-cepat kembali ke pekerjaanku semula. Mem datang bersama anak-anaknya.

__ADS_1


"Hei Sari, petang ni you masak paku ye,jangan lupa tau ikan bilis masukkan dalam peti sejuk!," teriak Mem.


" Tapi Mem ... ," tanyaku.


" Tak payah banyak soalan," jawab Mem ketus.


Otakku berpikir keras, aku yang memakan bakpao dan buah di persembahyangan kenapa Mem juga yang kesurupan. Aku terdiam mematung, sedangkan otakku tak mampu bekerja dengan sempurna. Bukan itu saja, si Mem bahkan menyuruhku memasukkan semut (bilis) ke dalam kulkas.


Aku beranjak ke dapur, bingung harus bagaimana. Tak lupa aku membawa beberapa ekor semut. Bagiku, paku ya paku untuk bahan bangunan. Rasanya mustahil kalau dimasak. Apa tidak rontok giginya Mak Lampir itu. Entahlah, mungkin Mem punya ajian untuk makan paku seperti pertunjukan Reog di kampungku.

__ADS_1


__ADS_2