Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 5


__ADS_3

Aku terdiam mematung memandangi paku-paku di hadapanku. Entah otakku harus bekerja bagaimana lagi. Baru kali ini aku mendengar paku bisa dimasak sedangkan di kampung untuk bahan bangunan, belum lagi bilis alias semut disuruh masukkan dalam kulkas.


Aku mulai membersihkan paku-paku itu takut ada yang berkarat nantinya. Satu hal yang terlintas di pikiranku, mungkin si Mem mau coba ilmu barunya.


Ahh ... aku jadi takut untuk makan bakpao disitu lagi, nanti Mem jadi tambah kuat untuk meremukkan tulang-tulangku.

__ADS_1


Segera ku percepat kerjaanku dan ku tata rapi di meja makan. Untung saja semuanya cepat selesai. Tak lama kemudian terdengar beberapa langkah kaki menuju dapur.


Tubuhku bergetar, tampak Mem terbelalak melihat hidangan di meja. Teriakan Mem yang memekakkan telinga membuat tubuhku semakin bergetar,keringat bercucuran, bahkan jantungku serasa berhenti berdetak.


Dengan terbata-bata, ku jelaskan apa yang ada di meja serta perintah Mem sebelumnya. Mem mengangkat pakis kuat-kuat beserta ikan teri yang ada di kantong plastik. Tiba-tiba Mem tertawa terbahak-bahak bahkan sampai menangis. Setelah aku mencerna, yassalamm ... ternyata paku itu pakis dan ikan bilis itu ikan teri. Akupun lemas seketika, dan hari ini aku selamat.

__ADS_1


Hari ini tampak langit sangat cerah, ku bersihkan lantai sambil bersenandung ria. Apalagi Mak Lampir sedang keluar, terlihat tadi menunduk beberapa kali di depan pintu sebelum mengeluarkan mobilnya. Sebelumnya aku mengira dia mau menunduk kepadaku saat menyapu, ternyata Mem lagi sembahyang sebelum keluar rumah.


Pintu gerbang terdengar berdecit, tumben si Mem pulang lebih awal. Mem terlihat buru-buru memasuki rumah bahkan terlihat menangis. Aku tidak berani bertanya sebab mulutku penuh dengan bakpao.


Ku tempelkan telingaku di pintu kamar, terdengar Mem berbicara dengan seseorang. Untung saja berbicara Melayu jadi aku sedikit mengerti, katanya Mem bertemu mantan suaminya bersama mantan pembantunya. Boabboo lalala, ternyata Mak Lampir bisa sakit hati juga.

__ADS_1


Pintu tiba-tiba terbuka, tak kuat aku menahan tubuhku. Aku terjerembab di kaki Mem dan bersimpuh di kakinya. Saat ku mendongak, tampak Mem begitu menakutkan. Terlihat di kedua sisi matanya menghitam, sama seperti mata kuntilanak dengan rambut berantakan. Semuanya terasa gelap, entah aku tertidur atau pingsan.


__ADS_2