Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 19


__ADS_3

Aku mulai beradaptasi dengan pekerjaanku yang baru. Tentunya harus dengan penuh semangat.


Meski aku tinggal di Kondominium, namun aku tidak menyalahgunakan kepercayaan Beliau. Aku tetap memegang amanah meski mendapatkan kebebasan.


Bahkan aku bebas menggunakan handphone. Di tempat ini aku hanya menemani Beliau tanpa harus memasak. Hanya membersihkan ruangan saja dan mencuci. Itupun menggunakan mesin cuci.


Ruangannya pun hanya terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur serta ruang tamu. Jadi hanya butuh waktu sebentar saja untuk membersihkannya. Sehabis itu aku tidak mempunyai kegiatan selain menemani anaknya dan menonton TV.


***


Aku sangat bahagia menyambut pagi. Segera aku membersihkan diri sebab aku akan diajak jalan-jalan ke Chow Kit. Tak sabar rasanya untuk menikmati indahnya negara Malaysia ini.


Aku dan Beliau sudah berada di dalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tak hentinya aku berucap syukur, terlihat pemandangan sekitar yang begitu indah. Tampak bangunan megah berdiri kokoh berjejer di sepanjang jalan ini. Bahkan tampak juga Petronas yang menghiasi dan menambah keindahan negara ini.


Dulu aku hanya melihat dan mengagumi Petronas dari gambar baju tetangga yang pulang bekerja dari Malaysia. Kini sejauh mata memandang, aku bisa melihatnya secara langsung pucuk Petronas. Terima kasih Ya Allah, aku bisa mewujudkan mimpiku yang dulu.


Seperti tak percaya dengan yang aku lihat sekarang. Beberapa kali aku mencubit lenganku, takut ini hanyalah mimpi. Namun terasa sakit, berarti ini adalah sebuah kenyataan.


Tak terasa kami sudah tiba di Chow Kit. Terlihat banyak toko Indonesia yang berjejer di sepanjang jalan ini. Aku merasa seperti di pasar Indonesia saja bahkan aku mendengar beberapa lagu dangdut yang di putar oleh sebuah toko kaset.


Bahkan beberapa kuliner yang tak asing bagiku juga tersedia disini. Banyak warung yang menyediakan soto, pecel, bakso, sate, dll. Aku dan Atasanku masuk ke sebuah warung sate. Boabboo ... ternyata penjualnya asli Madura. Rasa satenya tak kalah enaknya dengan yang di Jawa.


Mereka sangat antusias melayani kami. Akupun mengeluarkan bahasa andalanku yaitu bahasa Madura. Mereka terlihat sangat senang dan kamipun menjadi semakin akrab. Rasanya seperti bertemu kerabat jauh saja. Yang paling membuatku bahagia adalah, saat pembayaran aku mendapatkan diskon sebesar 50%.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pembayaran, kami memutuskan untuk berjalan kaki kembali. Kami menyusuri beberapa toko tradisional, membeli beberapa obat dan jamu asli Indonesia. Ternyata harganya tidak terlalu mahal, bahkan hanya selisih sedikit saja.


Aku sungguh menikmati suasana ini, Chow Kit rasa kampung halaman. Disini juga terdapat beberapa bank asal Indonesia, jadi memudahkan jika ada yang mau kirim uang ke kampung halaman.


Seharian aku menikmati Chow Kit namun tak menimbulkan rasa lelah. Kemudian kami melanjutkan dengan mencoba menaiki kereta Monorail. Sebenarnya aku merasakan takut tapi kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan ini. Akhirnya aku memberanikan diri dan yeay ... rasa takutku berganti dengan kebahagiaan.


Tak terasa hari sudah sore. Aku dan Beliau memutuskan untuk kembali ke Kondominium.


Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir ke sebuah restoran Steamboat. Yassalamm, ketika terlihat sumpit aku menjadi teringat kembali saat Mem dulu mengajakku makan di sebuah restoran.


Untunglah isinya beberapa seafood jadi tak terlalu asing meski ada beberapa bumbu yang rasanya aneh di lidah. Entahlah ... bumbunya yang aneh atau aku sendirilah yang aneh.


Setelah selesai makan malam, kami bersiap pulang menuju Kondominium. Di sepanjang perjalanan aku mengucapkan syukur atas kebahagiaan hari ini.


***


Aku memasuki kamarku, begitu juga dengan Beliau. Tak lupa aku membersihkan badan dulu sebelum tidur dengan air hangat.


Setiba di kamar, gawaiku terdapat notifikasi dari teman yang di Shelter. Aku tiba-tiba merindukan mereka. Aku berniat akan menemui mereka besok.


Aku merebahkan tubuhku di kasur yang empuk ini. Tak terasa aku tertidur pulas. Sudah seharian aku jalan-jalan, terasa sangat capek bahkan badanku terasa sakit semua. Hal itu sebanding dengan kebahagiaan hari ini.


***

__ADS_1


Hari ini Beliau libur sebab hari Minggu.


Aku bersiap menuju Shelter namun aku tak mendapatkan ijin sebab akan pergi jalan-jalan lagi.


Aku pun mengangguk tanda setuju. Beliau mengajakku ke Pusat perbelanjaan. Jadi terpaksa aku urungkan pergi ke Shelter.


Kami pun tiba di sebuah pusat pembelanjaan. Sebelumnya aku takut jika menaiki eskalator namun tidak untuk kali ini. Rasa takut itu hilang, mengingat tempat ini sangat tinggi. Setelah berpikir keras, nanti bisa copot kakiku jika terus melewati tangga.


Beberapa barang sudah terbeli, kini saatnya makan. Tibalah saatnya makan siang. Aku memesan sebuah menu, sepertinya sangat enak sebab gambarnya sangat menggiurkan.


"Kamu yakin mau makan ini?," tanya Beliau.


"Iya Bu, saya yakin," jawabku meyakinkan.


"Ya sudah kalau begitu," jawab Beliau lagi.


Tak butuh berapa lama pesananku pun tiba. Yassalamm, akhirnya aku bisa tahu apa itu salad yang sebelumnya aku memang tidak mengerti. Aku kira makananku keren sesuai namanya. Namun di piring hanya terdapat sayuran yang di atasnya terdapat mayonaise.


Terpaksa aku memakannya karena menahan malu. Beliau tersenyum melihatku sambil menyuruhku menghabiskannya. Boabboo ... hanya kecut yang terasa di lidah. Bahkan cacing perutku terdengar memprotes.


Setelah makan, kami melanjutkan menonton sebuah film. Beliau membeli beberapa tiket masuk untuk kami. Aku pertama kalinya memasuki ruangan seperti ini. Di dalamnya terdapat TV besar, lebih tepatnya seperti layar tancap namun disini di sediakan kursi. Kalau di kampung harus membawa alas sendiri-sendiri.


Banyak remaja yang sudah memasuki ruangan. Pusat perbelanjaan ini ternyata di lengkapi fasilitas layar tancap juga. Lumayanlah bisa bernostalgia kampung halaman.

__ADS_1


__ADS_2