
3 hari lagi aku akan kembali ke Shelter sebab Beliau akan pulang ke tanah air. Acara perpisahan pun mulai dilakukan oleh rekan-rekan Beliau.
Sore ini aku diajak menghadiri acara perpisahan di Restoran Jepang. Tampak beberapa tamu penting sudah berada di kursi mereka masing-masing.
Ternyata terasa sangat berat aku melangkahkan kaki di tengah orang-orang penting seperti ini. Ingin rasanya aku pulang saja, tapi itu tidak mungkin sudah terlanjur berada disini.
Bahkan aku tidak memiliki rasa percaya diri sedikitpun, bagaikan seperti butiran debu saja (menurut versi lagu). Sepertinya nanti aku akan kesusahan saat menelan makanan karena rasa canggung ini.
Keringat pun mulai bercucuran padahal sebelumnya aku sudah mandi terlebih dahulu. Tak lupa pula aku menyemprotkan minyak nyong-nyong agar tubuhku selalu wangi. Namun sekarang malah di basahi dengan peluh yang tak hentinya menetes.
Beberapa dari mereka menyapa dan memberikan tempat duduk untuk ku, namun aku memilih meja yang hanya terdiri dari beberapa orang saja. Tak lupa pula aku memberikan senyum termanis yang aku punya saat ada yang menyapa.
Aku pun duduk dengan gaya slow motion. Tampak mereka saling berfoto untuk di jadikan kenangan. Sedangkan aku hanya terdiam mematung menyaksikannya.
Ingin rasanya aku pergi ke toilet, namun rasanya serba salah karena harus melewati sekumpulan dari mereka terlebih dahulu. Akhirnya aku memilih terdiam memandangi mereka.
__ADS_1
Tak berselang lama, datanglah kak Rini juga. Aku sedikit lega sebab dia memilih duduk di dekat ku. Dia yang selalu memberikan senyuman dan selalu riang, membuat ku merasa nyaman berada di dekatnya.
Dia pun mengajakku ngobrol dan bercanda satu sama lain. Akhirnya Kak Rini bisa mencairkan suasana hati ku yang beku akibat grogi.
Beberapa makan lezat pun mulai berdatangan satu persatu. Aneka sea food yang sangat menggugah selera tepat berada di hadapanku. Tampak jejeran kepiting tertata dengan indah lengkap dengan sausnya. Waw ... ingin segera aku menikmatinya namun aku menahan diri agar tidak mempermalukan diri sendiri.
Selesai hidangan tertata rapi, mereka mulai memfoto makanan. Aku pun meraih gawaiku dan menirukan mereka. Setelah selesai, aku menguploadnya ke akun sosial media milikku. Biarlah yang melihatnya akan ngiler seperti aku sekarang ini (padahal aku hanya numpang).
Aku pun bisa menikmati makanan yang tersedia. Hal yang membuat ku bingung lagi dengan tidak adanya air putih. Aku membisikkan ke Kak Rini, namun dia malah menawariku Thai Tea. Oh No ... aku sudah merasakan sebelumnya yang membuat tenggorokan ku tercekat.
Ternyata aku salah menilai sebelumnya, mereka sebenarnya tidak membedakan ku. Mungkin hanya perasaan ku saja yang terlalu berlebihan. Akhirnya kami pun foto bersama dan saling bercanda.
***
Selesai acara, aku dan Beliau pun menuju Kondominium kembali. Aku kemudian melanjutkan merapikan ruangan ini sebab akan di serahkan ke pemiliknya esok pagi.
__ADS_1
Beberapa barang ku kemas dalam plastik dan membuang yang tak terlalu penting. Semua ruangan ku bersihkan dan menatanya se rapi mungkin.
Sedih rasanya harus berpisah dengan orang sebaik Beliau. Sebenarnya Beliau ingin mengajakku ke Singapura, namun aku hanya memiliki SPLP. Aku bisa tertahan disana dan di deportasi sebab hanya berlaku untuk satu kali perjalanan saja.
Keesokan paginya aku ikut mengantar ke Bandara. Aku tak bisa menahan kesedihan, tak terasa aku menangis mengiringi kepulangan Beliau.
Sepulang dari bandara, aku menuju Shelter dan membawa semua barang-barang ku. Setiba disana, aku sudah tidak mempunyai hak sebagai Ketua Shelter sebab sudah ada yang menggantikannya.
Segala tugas ku sudah dialihkan kepadanya saat aku berada di Kondominium. Aku menjalani hari-hari di Shelter mulai dari awal kembali, seperti baru memasuki Shelter.
Aku pun hanya bisa bertahan selama sebulan sebab Atasan menawari ku untuk pulang. Sungguh aku sangat bahagia mendengar berita ini. Segera aku mengiyakan tawaran tersebut.
Sejumlah gaji ku terima dengan lapang dada. Bahkan aku bersiap mengurus Check Out Memo (COM) agar cepat selesai. Tak lupa pula aku membeli tiket kepulangan dan memilih harga yang termurah.
Tak lupa pula aku meminta berfoto dengan beberapa orang yang selalu memberiku support saat bekerja. Mereka orang penting tapi tak menganggap ku dengan sebelah mata. Orang-orang yang berjasa mengajariku dari awal hingga akhir. Tak segan mereka memberikan kritik agar aku menjadi lebih baik.
__ADS_1
Kini aku tinggal menunggu jadwal keberangkatan menuju tanah air. Aku menangis saat mengucapkan perpisahan kepada teman yang lain. Tak pula aku memberi semangat agar tak mudah goyah dengan apapun yang terjadi.