
Saro sangat mengagumi cowok itu, bahkan tak henti-hentinya tersenyum. Baginya dialah Tao Ming Tse yang di film Meteor Garden meski menurut Saro dia kutuan.
Aku yang pertama mengagumi malah Saro yang seperti kesurupan. Akibatnya pekerjaan lama mau kelar sebab Saro hanya sibuk tersenyum, sedangkan lelakinya seperti bergidik ngeri. Mungkin dia mengira kami sudah gila.
***
Dua rumah hari ini terselesaikan, kami di jemput Mem agar kami tak kabur. Sebelumnya aku meminta dibelikan beberapa perlengkapan mandi dan Mem menurutinya. Rupanya Mem bukan memberikan secara gratis, terbukti dia menyodorkan lembar kasbon. Gajian saja belum pernah aku merasakan, malah hanya kasbon yang selalu aku terima.
Pukul 19.00 kami sampai rumah Mem. Aku dan Saro harus menyetrika baju Mem sekeluarga serta membersihkan ruangan. Kami di perbolehkan istirahat saat semuanya sudah beres.
Saro sepertinya sudah tak tahan, sudah beberapa kali mengajakku untuk kabur. Aku belum pernah mengiyakan sebab aku sama sekali tidak tahu arah, bahkan arah kiblat pun sampai sekarang masih bingung.
Kami hanya tidur selama 3 jam, rupanya Saro bermimpi lelaki tadi pagi. Terdengar cekikikan Saro sambil mendengkur, entahlah dia bermimpi apa. Aku jadi kesal dibuatnya, akhirnya ku sumpal mulutnya dengan kain.
***
Pagi ini kami bangun lebih awal agar bisa sholat subuh. Kami sholat bergantian sebab Mem membenci ibadah kami.
__ADS_1
Hari ini kami sepi orderan jadi hanya membersihkan rumah Mem saja. Bahkan nanti malam kami berencana untuk kabur. Tanpa sepengetahuan Mem, sudah beberapa hari ini kami menggunakan ponsel pemberian orang India. Kami mencari informasi pekerjaan yang tepat untuk kami sebab selama ini kami tak pernah menerima gaji.
Malam pun tiba, kami pura-pura tertidur. Saat tertidur nanti, Saro mendapat tugas mengunci kamar Mem sedangkan aku mengunci kamar anaknya.
Kami mulai beraksi, ku kunci kamarnya perlahan begitu juga Saro. Setelah selesai, kami berjinjit ke arah pintu utama. Aku sangat kesusahan mencari kunci sebab ada 2 tumpuk kunci. Sedangkan Saro, dia hanya sibuk memakan bakpao. Sebab kalau dia ketakutan pasti bawaannya mau makan.
Lama sekali menemukan kunci yang cocok. Aku sangat gemetaran, apalagi celanaku terasa sudah mulai basah. Aku sudah tak memperdulikan lagi, yang terpenting aku bisa kabur. Tinggal 1 tumpuk kunci lagi yang akan aku coba.
Segala doa aku ucapkan bahkan tanpa sadar doa makanpun aku ucapkan berkali-kali.
Aku terus berusaha mencari kunci sedangkan Saro terlihat sedikit santai dengan makanannya. Entahlah apa yang ada di pikirannya. Mungkin sudah konslet gara-gara cowok itu.
Akhirnya pintu berhasil di buka. Aku menutupnya perlahan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku ingat Saro. Rupanya dia masih duduk di depan persembahyangan. Ku tarik telinganya agar cepat keluar, sebelum menjerit aku sudah membekap mulutnya dengan bakpao.
Aku berhasil keluar dari pintu utama. Kini tinggal pintu gerbang yang belum aku buka. Aku teringat sesuatu kalau pintu gerbang ini bisa di buka secara otomatis. Remotnya ada di kotak kecil depan persembahyangan. Aku mengendap kembali mencari remote dan akhirnya ketemu juga.
Akhirnya aku berhasil membuka pintu gerbang. Cukup hanya di lewati tubuh kami, akupun memencet agar tertutup kembali.
__ADS_1
Aku dan Saro berlari sekuat tenaga ke arah Barat menurutku. Tak lupa pula melepas sandal. Tiba-tiba ada 3 ekor anjing cokelat dan hitam mengejar kami. Alhasil kami semakin lari sekencang-kencangnya untunglah kami menemukan sebuah ranting dan akhirnya mereka kabur.
Kami merasa sangat lelah setelah berlari begitu lama. Akhirnya aku memutuskan istirahat sejenak untuk menarik napas di depan rumah yang menurutku sangat familiar.
Sebentar, ternyata rumah ini rumah Mem. Kami berlari sekuat tenaga ke arah barat terus muncul dari sebelah timur rumah Mem. Rupanya kami hanya berlari memutari kawasan rumah Mem.
Aku dan Saro saling bertatap. Tanpa menunggu aba-aba, kamipun berlari lagi entah ke arah mana.
Tibalah kami di pinggir jalan raya dan melihat sebuah taksi. Kami langsung masuk dan menutup taksi. Rupanya taksi India. Didalamnya terdapat 2 lelaki India. Mereka sangat terkejut atas kedatangan kami, mereka mengira kami mau merampok.
Aku jelaskan perlahan dan mereka mau menolong. Taksi pun melaju entah kemana, kami mengira pastilah mereka orang baik-baik.
Tibalah di sebuah apartemen kumuh. Hanya aku yang di suruh masuk sedangkan Saro di bawa teman yang satunya. Mereka berjanji akan memberi gaji untuk bisa pulang ke Indonesia.
Di dalam sebuah kamar apartemen, terdapat 2 kamar. Masing-masing kamar di huni 4 orang lelaki bertato. Aku sangat ketakutan takut mereka berbuat keji.
Aku perempuan seorang diri dan harus rela melewati hari-hari ku dengan para lelaki ini. Ibarat aku hidup di kandang singa, bahaya mengancam dari segala sisi.
__ADS_1