Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 8


__ADS_3

Aku mulai membersihkan kamar Istri Datuk sedangkan Saro bagian kamar anak-anak Datok. Kami telah berjanji, apapun yang kami temukan nantinya tidak akan mengambilnya sedikitpun meski berlian sekalian.


Di dalam kamar tersebut terdapat ruang kerja dan home teater. Aku sangat takjub melihat tv sebesar layar tancap. Belum pernah aku melihat tv sebesar ini sebelumnya. Setelah itu baru tempat tidur. Ada sebuah ruangan ganti baju juga setinggi dinding, setelah itu baru kamar mandi. Duaduh lalala, di dalam kamar mandi pun ada pot bunga beserta beberapa koran. Mungkin luas kamar mandi 4x luasnya dari kamar tidurku di kampung. Juga terdapat bak mandi besar alias bathup yang dulu aku tidak mengerti itu untuk apa.


Sedangkan Saro, mungkin sama kagetnya dengan aku. Aku selesai membersihkan kamar Istri Datuk pun dia tak kunjung keluar. Karena penasaran akupun mencari ke kamar sebelah. Boabboo ... si Saro cuma duduk termenung, ku pikir dia merenungi nasibnya ternyata takut ketinggian. Tadi dia sempat membersihkan jendela dan melihat ke bawah.


Untunglah si empunya rumah termasuk sabar, dia hanya tersenyum. Tak lupa pula memberi kami makan dan menyelipkan beberapa lembar Ringgit untuk di tabung.

__ADS_1


***


Satu rumah sudah selesai, kini kami diantar ke rumah yang satunya lagi. Untunglah rumahnya tak terlalu besar hanya di huni seorang bapak dan anak lelakinya. Setelah melihat fotonya, duhh amboii. Wajahnya begitu tampan seperti pemain Meteor Garden. Hatiku berdetak tidak karuan, rupanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Untunglah si Saro cepat menepuk pipiku, kami pun tertawa.


Terdengar suara langkah kaki menuju kamar yang kami bersihkan, kemudian masuk tanpa permisi. Rupanya cowok yang ada di dalam bingkai foto. Duhh ... aku jadi lemas seketika. Saat dia mengajak kami bersalaman, duhh ibarat kopi dan susu. Kulitnya seperti susu sedangkan aku kopinya. Saro juga tak kalah kagumnya, dia tertegun dan tak mau melepaskan tangannya.


Lelaki tersebut hanya menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Abbe, empian pola benyak kotonnah gih?" tanya Saro lagi. (Kamu banyak kutunya ya)


Saro hanya tersenyum memandang lelaki tersebut sampai lupa akan tugas utamanya. Entah lelaki itu berbicara apa, Saro seperti terhipnotis melihat ketampanan lelaki tersebut.


Aku mengguncang tubuhnya berkali-kali, tak lupa juga membasuh mukanya agar segera cepat tersadar.


Ahh ... Si Saro rupanya kena demam Bucin. Memang sih lelaki itu sangat tampan tapi rasanya tidak mungkin mereka akan bersatu.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Jujur aku sedikit mengaguminya juga, tapi aku tidak berlebihan seperti itu. Cukuplah hati yang tahu.


__ADS_2