
Air mata tak dapat ku bendung lagi. Aku berusaha untuk kuat dan bekerja seperti biasanya kembali. Meratapi pun percuma sebab sudah terlanjur masuk ke negeri ini. Aku mulai membersihkan kamar mandi dan kamar Mem.
Setelah semuanya selesai, aku menuju lantai bawah kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda sebelumnya. Tak lupa aku mengambil bakpao dan beberapa buah sebab perutku mulai menyanyikan lagu khasnya. Meski bakpao ini hampir tak memiliki rasa dan keras, namun bisa menjadi penolongku saat kelaparan.
Sambil menikmati bakpao rasa kapas, aku tersenyum juga mengingat Mem saat terjatuh. Terlihat memegang pinggulnya sambil merintih kesakitan. Ahh, terlalu cepat karma itu berlaku.
***
__ADS_1
Suara deru mobil membuat aku tersentak dari lamunan. Aku cepat-cepat membersihkan mulutku dan kembali ke pekerjaanku semula.
Tampak Mem membawa seorang perempuan. Rupanya dia orang Indonesia juga sebab perawakannya tak jauh berbeda denganku.
Dia memperkenalkan diri, Saropah namanya dan berasal dari Sampang. Sebelas dua belas lah denganku, dia juga tak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Aku sangat bahagia sekali serasa bertemu keluarga saja.
Setelah Mem meninggalkan kami, aku pun mengenalkan nama peralatan satu persatu. Kadang aku tersenyum sebab aku dulunya juga hancur dalam berbahasa Melayu.
__ADS_1
***
Mem makin stress dengan ulah kami, apalagi Saro Madura asli. Setiap Mem bertanya apapun dia menjawab dengan bahasanya. Akupun tertawa melihat mereka adu mulut, sebab satu sama lain berbeda bahasa.
***
Kami hanya seminggu bekerja bersama. Mem kemudian mengirim kami untuk membersihkan rumah teman dan saudaranya. Sehari di beri jatah 2 rumah, pulangnya kami harus kembali bekerja di rumah Mem.
__ADS_1
Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan. Saro pun sepertinya tidak sanggup, apalagi saat pagi tidak ada sarapan untuk kami.
Aku dan Saro di tugaskan membersihkan rumah Datuk. Rumahnya megah bak istana. Lantai duanya pun ada yang dari kaca tembus pandang, sungguh sangat menakutkan. Kami tidak bisa melangkah, hanya mematung saja di tempat. Saro beberapa kali menyembah minta ampun seraya menangis.