Senja Di Ufuk Malaka

Senja Di Ufuk Malaka
Bab 10


__ADS_3

Angin mendesir kencang, memasuki kamar apartemen ini. Aku jadi teringat Saro, mungkinkah dia bisa betah di tempat barunya. Si ketua yang sopir taksi itu, meninggalkan aku bersama satu orang temannya yang kebetulan seorang pengangguran.


Ku panggil dia Ali, dia pemuda Bangla. Kulitnya pun lebih bersih dari 7 temannya. Untunglah dia tidak berani macam-macam sebab si Bos sudah memperingatinya agar tak mendekatiku, begitu juga dengan yang lain.


Aku mulai membersihkan apartemen mereka. Sungguh sangat kotor, apalagi saat membersihkan kamar mandi dan dapur. Aku selalu ingin memuntahkan isi perutku tapi aku selalu tahan sebab takut menyakiti mereka.


****


Sudah 3 hari aku bekerja kepada mereka. Semuanya sudah bersih dan tertata dengan rapi. Pukul 19.00 mereka berkumpul semua. Kadang aku merasa takut juga sebab aku hanya perempuan seorang diri. Tak henti-hentinya aku berdoa agar Allah melindungiku.

__ADS_1


Aku tidur di pojok ruangan kamar si Bos. Dia menyuruhku tidur dekat dengannya namun aku tolak dengan halus. Menurut Bos, kamar dia adalah tempat paling aman buatku sebab mereka takut kepadanya.


Aku hanya tidur sembari duduk sebab bagaimanapun juga aku belum sepenuhnya percaya dengan Bos. Ku tutupi badanku dengan selimut agar Bos tidak melihat lekuk tubuhku.


Rupanya semuanya sesuai harapan. Esok paginya aku mendapati tubuhku sama seperti semula. Bos pun masih mendengkur. Aku kemudian bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka.


***


Ali kemudian pamit untuk membelikan aku roti, kini tinggallah aku seorang diri. Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. Rupanya si Mahmud (nama buatanku) yang baru pulang bekerja. Dia melihatku dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Terdengar di luar hujan turun dengan derasnya. Aku berlari menutup pintu yang terhubung dengan jemuran.


Sepasang tangan melingkar di pinggangku, saat aku menoleh ternyata si Mahmud berani memelukku dan mengenduskan hidungnya. Aku berusaha melepaskan tangannya. Untunglah aku dekat vas bunga, ku hantam dengan benda tersebut.


Darah mengucur dari pelipisnya, dia semakin marah. Aku berlari sambil menangis dan melemparkan dengan benda yang ada.


Dia seakan tidak merasa ada penghalang dan tak menggubris teriakan ku. Aku menjerit dan menangis, tak lupa pula aku menyebut asma-Nya. Berharap sang Khalik segera menolong ku.


Kini aku terpojok di salah satu kamar. Tak bisa aku pergi kemanapun. Ku peluk lututku sembari menutup mata bahkan pasrah dengan keadaan yang ada.

__ADS_1


Dia semakin mendekatiku sambil menyeringai bak singa yang siap menerkam mangsanya. Aku semakin memeluk lututku erat.


Sebuah tangan kasar menarikku, namun aku mencoba sekuat tenaga untuk bertahan dalam posisiku.


__ADS_2