
Akhirnya Mahmud berhasil menangkap ku kemudian menghempaskan tubuhku ke kamarnya. Aku terus menjerit memohon iba tapi dia tak menghiraukan bahkan beberapa kali menamparku.
Aku mencoba terus melawan sambil meminta pertolongan Allah. Mahmud terus menyeringai atas kemenangannya.
Alhamdulillah, Ali datang di saat yang tepat. Dia menghajar Mahmud tanpa ampun dan mengancam akan melaporkannya ke Bos. Mahmud kemudian pergi entah kemana.
Ali bergegas mengambil selimut untuk menutupi tubuhku sebab bajuku banyak yang terkoyak. Dia membantuku keluar dari kamar terkutuk itu. Berulang kali aku mengucapkan terima kasih kepadanya.
Ali membuatkanku segelas teh hangat. Aku meneguknya beberapa sambil terus terisak. Ali berjanji untuk segera mengadukannya ke Bos sebab dia berkata bahwa aku ini calon istri bos.
"What ..." seketika aku langsung tersedak. Teh yang rasanya manis berubah menjadi sangat pahit. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Bos sedangkan selisih usiaku sangat jauh. Lebih pantas aku menyebutnya "Bapak" malah lebih muda bapakku yang di kampung. Namun Ali menyarankan ku agar menerima semua itu agar aku bisa selamat.
__ADS_1
***
Malam itu semuanya berkumpul kecuali Mahmud, mungkin dia tak berani pulang. Rupanya Ali sudah mengadukan semuanya ke Bos. Si Bos marah besar bahkan mengancam membunuhnya jika berani mendekatiku.
Bos juga mengumumkan kalau Minggu depan kami akan menikah di kuil. Aku jadi lemas seketika sebab aku tidak mempunyai rasa apapun terhadapnya.
Aku memutuskan masuk ke kamar. Seperti biasa, aku tidur di pojok ruangan. Namun aku tidak benar-benar tidur, lebih tepatnya aku menangis. Rupanya si Bos mendengar tangisanku. Dia mendekati dan membelai rambutku namun aku menepis tangannya .
***
Pagi ini aku ditemani Ali kembali. Semua orang sudah pergi ke tempat kerjanya masing-asing.Ali ternyata tak bisa membantuku sebab dia takut sama Bos. Dia hanya menyarankan untuk minta pertolongan kepada Tuhanku saja. Tak henti-hentinya aku berdoa supaya aku menemukan jalan keluar.
__ADS_1
Pernah aku berpikir untuk mengakhiri hidup saja, namun aku teringat Emak Bapak. Ku urungkan niatku itu, aku harus bisa keluar dari apartemen ini.
****
Sudah 5 hari ini Bos tak memberiku jatah makan, bahkan setiap Ali pun di bawa Bos entah kemana. Aku benar-benar sendiri. Saat kehausan, aku hanya bisa minum di kran tempat cuci piring. Untunglah tanpa sepengetahuan yang lain, Ali menyelipkan beberapa keping roti yang di taruhnya di tempat sampah.
Terdengar pintu di buka seseorang, rupanya Bos pulang lebih awal. Dia tersenyum dan menyentuh daguku. Ku tepis tangannya dengan cepat. Dia kemudian menanyakan apa pilihanku dan ku jawab dengan pasti kalau aku lebih memilih mati daripada menikah dengannya dan meninggalkan agamaku.
Aku di dorongnya ke tembok dengan keras. Dia mengatakan kalau aku bodoh dan tak tahu membalas budi. Di telponnya teman yang membawa Saro sebab lusa aku dan Saro akan di jual ke mucikari.
Melawan rasanya tak mungkin sebab aku tidak mempunyai tenaga yang kuat. Aku harus mencari cara yang tepat agar aku dan Saro bisa selamat.
__ADS_1
Dia sekarang tak segan menyiksaku karena aku tidak menuruti keinginannya. Setiap pertanyaan yang terlontar, aku jawab kalau aku tidak akan pernah menerimanya.