
Aku beranjak ke luar gudang, tak lupa aku menguncinya. Kejadian penyiraman tadi membuatku sangat terpukul. Entahlah, mungkin aku tidak berarti bagi mereka.
Ku langkahkan kaki melewati dapur dengan perasaan tidak menentu. Sepertinya tidak ada yang peduli, bahkan teman yang biasanya selalu ada dan memberikan solusi seakan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Pintu kamar ku buka dengan pelan, banyak yang melihatku dengan tatapan aneh. Aarggggh ... aku berteriak dalam hati. Aku memang tak berguna sama seperti yang di ucapkan orang tadi.
Segera aku menuju kasur dan tak lupa menutup wajahku dengan bantal dan kembali menangis. Kenangan bersama Saro melintas di benakku dan tangisku pun menjadi.
Beberapa teman masuk ke kamar, namun tak ku pedulikan mereka. Toh mereka juga tidak peduli terhadapku. Aku membalikkan badan memunggungi mereka.
Sungguh di luar dugaan, mereka bergotong royong menggotongku ke samping dapur. Disana beberapa kran air di hidupkan dan meletakkan ku di bawahnya. Dan byuuuurrrr ... beberapa ember air di siramkan terhadapku.
Tak lupa pula mereka melumuriku dengan tepung dan beberapa telur. Lengkap sudah penderitaan ku kali ini.
"Happy Birthday," teriak mereka serempak.
Aku sangat kaget mendengarnya sebab aku sendiripun lupa dengan ulang tahunku. Entahlah, darimana mereka mengetahui hari lahirku. Namun yang pasti aku sangat terharu.
Kami pun tertawa bersama dan saling menyiramkan air. Ahh ... rupanya cara membuat bahagia itu sederhana.
"Hei ... awas kalian ya!," sebuah teriakan lantang mengagetkan kami semua.
Seorang perempuan berlari dari kamarnya tak lupa dia membawa handuk. Ya ... dia merupakan seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan yang pernah aku jitak.
__ADS_1
Dia mengejar satu persatu teman yang menyiram ku bahkan tak segan memukulnya. Dia tidak terima aku di perlakukan seperti itu mungkin beranggapan kalau aku sedang di siksa.
Tubuhku mulai di bersihkannya sambil menangis. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya. Akupun menjadi terharu, meskipun dia mengalami gangguan kejiwaan namun mempunyai rasa peduli terhadapku.
Kemudian aku di bawa masuk ke kamar namun dia tak berhenti mengoceh. Aku hanya bisa tersenyum bahagia dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Terlihat senyum sumringah menyungging dari bibirnya.
***
Rutinitas berjalan seperti biasanya, melelahkan memang namun semua harus di jalani dengan penuh semangat. Aku pasti bisa melewati semua ini.
Hari ini ada penyuluhan tentang Narkoba dari BNN Jakarta. Semua sibuk mempersiapkan diri untuk ke Aula. Sudah menjadi hal lumrah jika ada suatu kegiatan mereka saling bertukar alat kosmetik, bahkan kadang juga bertukar pakaian. Kekeluargaan sangat terasa disini meski kami berbeda daerah, ras, dan suku.
Setelah semua selesai, kami berangkat bersamaan ke Aula sebab acara hampir di mulai. Mereka semua terlihat sangat cantik dan rapi.
Acara pun selesai, kami bersiap kembali ke Shelter. Tak lupa kami di berikan hadiah berupa buku tentang Narkoba dan tas secara gratis.
Tiba di Shelter, kami kembali ke rutinitas seperti biasa. Ada yang melanjutkan piket memasak, bahkan ada yang membuat keterampilan. Kemarin sempat ada yang berkunjung ke Shelter dan mengajari kami beberapa keterampilan handmade.
Aku kembali melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum rampung. Hampir saja selesai, gawaiku berdering menyanyikan lagu Rindiani kesukaanku.
Seorang perempuan dengan 2 anak-anaknya dan masih ada yang dalam kandungan sudah berdiri di pintu utama Shelter. Anaknya sangat tampan seperti wajah orang timur, hidungnya mancung dan memiliki mata yang indah.
Aku mulai memberikan beberapa pertanyaan agar bisa di jadikan laporan. Dia bersuami orang Bangla dan dia menikah di Malaysia secara Sirri.
__ADS_1
Dia menangis sesenggukan sambil menjelaskan kronologinya. Dia sebenarnya tak ingin pulang ke tanah air namun dia tak memiliki pasport alias kosongan. Dia tidak mau selalu di kejar polisi apalagi dalam keadaan hamil dan anaknya masih kecil.
Tak berapa lama suaminya menyusul dan meminta maaf kepadanya. Bahkan lelaki itu menyembah kepada sang istri dan bersedia ikut ke Indonesia. Ahh ... aku jadi terbawa suasana dan menitikkan air mata.
Namun takdir berkata lain, rupanya negara Bangladesh masuk daftar Blacklist jadi tidak bisa masuk ke Indonesia. Terpaksa mereka harus terpisah, entahlah bagaimana caranya mereka bisa bersatu.
Untunglah mereka mempunyai biaya sendiri jadi bisa cepat proses pemulangan. Mereka hanya menginap beberapa hari di Shelter.
***
Shelter mengajariku arti sebuah Bhinneka Tunggal Ika, bahkan aku bisa mengerti tentang kepedulian dan kesabaran. Tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
Hari ini resmi aku di pindahkan menemani anak Atasan karena orang sebelum ku melakukan kesalahan fatal. Untunglah Beliau mau memaafkan dan Beliau mempercayaiku untuk menggantikannya.
Shelter mengajariku arti sebuah Bhinneka Tunggal Ika, bahkan aku bisa mengerti tentang kepedulian dan kesabaran. Tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
Di Shelter juga aku bisa bertemu dengan orang penting di negeriku. Banyak yang dari kalangan atas menyempatkan diri mengunjungi Shelter, memberikan penyuluhan bahkan membagikan buah tangan.
Dengan langkah berat aku meninggalkan shelter. Aku membawa sebagian pakaian ke tempat kerjaku yang baru. Namun tak terlalu jauh juga jaraknya jadi aku bisa mengunjungi Shelter jika ada waktu luang.
Di tempat yang baru aku tidak pernah mendapat tekanan bahkan Beliau memberikan kebebasan. Meski demikian aku sangat merindukan teman-temanku.
Beliau juga membawaku keliling Malaysia. Hampir setiap hari aku jalan-jalan menghirup udara segar dan menikmati keindahan negara ini.
__ADS_1