
POV Saro
Sudah seminggu aku menempati apartemen ini tanpa Sari. Aku hanya berdua dengan lelaki India ini. Untunglah dia hanya menggoda saja. Aku sangat merindukan Sari, entah bagaimana kabarnya dia sekarang. Mungkinkah dia baik-baik saja, entahlah. Tak ada kabar darinya selama ini. Pernah suatu hari aku menanyakan hal itu kepada Pi'i (sebutan untuk si India ini), tapi dia tak pernah memberitahuku.
Pi'i membuyarkan lamunanku, dia datang dan memintaku untuk membuatkan nasi goreng kesukaannya. Aku bergegas pergi ke dapur.
Nasi goreng kesukaannya sudah ku hidangkan di meja. Ku utarakan niatku untuk bertemu Sari, tapi lagi-lagi dia menggeleng. Mungkin dia sariawan atau sakit gigi sebab dia hanya menggeleng.
Lalu aku beranjak untuk membersihkan lantai, tak lupa pula kamar si Pi'i. Saat merapikan sprei, tiba-tiba Pi'i berdiri di pintu. Dia kemudian mengunci pintu.
Ku hentikan pekerjaanku, rupanya si Pi'i mulai tidak waras. Dia membuka bajunya satu persatu. Aku berpikir keras bagaimana aku bisa selamat. Jika aku berteriak, mungkin si Pi'i akan melukaiku. Kalau aku pasrah, bisa-bisa aku menjadi budak nafsunya.
Oke lah kalau begitu, aku mempunyai cara jitu untuk India ini. Dia tidak waras akupun bisa melakukannya. Aku berdoa semoga Allah mengampuni ku untuk kali ini.
Tanpa berpikir panjang, aku melepas bajuku. Untunglah aku memakai kaos dalam. Dia tersenyum ke arahku. Mungkin dia mengira kalau aku menginginkannya juga.
__ADS_1
Sebelum dia berhasil menyentuhku, aku berbicara lembut dan manja kepadanya.
"Ayo Bang, aku sangat kesepian. Sudah lama aku menginginkannya," ujarku manja.
"Iye ke?" tanya Pi'i menyeringai.
"Iya Bang sebab aku lama menjadi janda, lelaki pun banyak yang tak minat denganku kecuali Abang," jawabku manja lagi.
"Apa hal?" tanya Pi'i penasaran.
Pi'i langsung terperanjat, mungkin dia mempercayaiku. Aku tersenyum dalam hati. Si India ini cepat-cepat memakai pakaiannya dan hendak membuka pintu.
Aku cepat-cepat merangkulnya dari belakang. Kini akulah yang memaksanya agar sandiwara ku tidak ketahuan. Di lepaskannya tanganku secara kasar.
"Ayo lah Bang," rayuku. Aku kembali memeluknya dengan kencang. Kini aku semakin berani.
__ADS_1
"Tak !!!" teriak Pi'i sambil mendorongku agar menjauh darinya.
Aku terus menggodanya bahkan aku lebih genit lagi. Aku juga tak e malu-malu lagi memeluknya padahal bau badannya membuatku mual. Dalam hati, aku terus berdoa agar sesuai rencana.
Akhirnya aku berhasil membuatnya takut. Si Pi'i segera pergi, entahlah dia kemana sebab langkahnya tergesa-gesa keluar apartemen dan menguncinya kembali.
Aku bernapas lega, segera aku memakai pakaianku kembali. Tak sia-sia aku menirukan seperti adegan film yang ku lihat kemarin di televisi.
***
Sudah 2 hari ini si Pi'i tak pulang ke apartemen. Aku tak peduli sebab banyak stok makanan di kulkas. Bahkan di dapur pun banyak stok Mie. Aku tersenyum lega seperti akulah pemilik apartemen ini.
Semoga sandiwara ku kali ini tidak diketahui Pi'i. Kalau sampai dia tahu, bisa habis aku nantinya.
Aku kembali teringat Sari. Aku takut dia mengalami hal serupa denganku tapi dia tak sanggup melawan. Entahlah, seandainya aku ada di dekatnya mungkin tak akan serumit ini.
__ADS_1