
Aluna terdiam dengan tatapan mata kosong tertuju pandanganya ke arah televisi. Sejujurnya Aluna ingin menyampaikan apa yang bergelut di hati dan fikiranya semenjak pulang sekolah.
" Luna, kok diem aja? Ayah tau kalau ayah salah , karena pemilihan sekolah itu ayah mengikuti saran dari beberapa relasi kerja dan pegawai ayah yang anaknya juga bersekolah disana nak . Kalau kamu merasa tidak nyaman besok kita cari sekolah lainya " ujar Ferdi
" Heemhm begini yah , aku hanya minta waktu dan apabila nanti aku tidak bisa bertahan di sekolah itu , biar Luna tinggal sama nenek dan kakek di Bandung ya " Luna tidak ada pilihan lain selain bersekolah bersama ke tiga sahabatnya.
Mira hanya menjadi pendengar supaya suasana beku antara ayah dan anak segera mencair . Mira sangat jarang melihat sikap anak gadisnya yang menjadi aneh seperti hari tadi. Mungkin memang ini masa penentuan jati diri Aluna.
Dia tidak bisa selamanya mengikuti kehendak orang tua. Namun Ferdi dan Mira adalah orang tua yang bijaksana, mereka menerima keputusan Aluna selama keputusan itu baik untuk anaknya.
Untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di Bandung bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi pernah sebelum perpindahan sekolah Mita dan Ferdi membahas masalah ini. Dan ternyta apa yang dikhawatirkan oleh mereka sebelumnya terjadi, Aluna tidak bisa menerima sekolahnya sekarang.
" Sebetulnya Ayah dan bunda peranah berencana agar kamu tidak ikut pindah ke Jakarta, selain sekolahmu hanya tinggal 2 th Ayah juga tidak tega melihat kamu harus berpisah dengan kawanmu , Bunda bercerita perpisahanmu sangat sulit "
" Iya sayang, tapi kamu tau sendiri kan kakek baru sakit . Kamu juga tau kalau kakek gak mau kalau kamu diantar supir makanya Bunda memutuskan untuk tetap memindahkan kamu ke sini " Tambah Mira menjelaskan kepada Aluna.
" Harusnya Bunda sama ayah bilang sama aku dari kemaren dong, aku kan bisa nyetir sendiri sekalipun itu sangat terpaksa daripada seperti ini . Duh bunda sih gak tau sekolahnya kaya apa " Lagi -lagi Luna mengeluhkan keadaan sekolah barunya.
" Eehhh tadi Bunda udah minta ayah untuk kesekolahanmu lho, emang sih bunda hanya batin aja . Maklumin kalau kamu jadi kata gitu. Emangya murid - muridnya gimana sih ?" tanya Mira penasaran
__ADS_1
" Ya gitu deh bund, ngeliat anak - anak yang dari style dan gaya bicaranya sok banget aku tu udah illfeel "
" Apa kamu besok sekolah naik mobil sendiri aja sayang kan bisa diajak bareng sekalian temen kamu tadi , eh siapa namanya Ayah lupa ?"
" Jenny yah " jawab Luna
" Nah itu kamu sudah punya teman sayang " Mira dengan senyum lebar merasa senang kalau anaknya sudah mendapat teman di sekolah barunya.
" Ogah ah yah , tah sendiri tadi aku suruh ayah di deket angkot- angkot. Jenny aja pulang sekolah naik anggklt " tolak Aluna.
" hahahhaha lhok kok sampai kaya gitu sih, kamu tu masih dilema kaya SMP dulu ya ?"
" Duh bunda jadi penasaran deh pengen ngerti kaya apa teman -teman di kelasmu. Ya pokoknya Bunda sama ayah janji deh kalau kamu nggak kerasan berarti balik ke Bandung "
" Serius ya Bund " wajah yang tadinya murung seketika menjadi merona bahagia .
" Maaf bu berasnya ada dimana ya " Bi Yanti memutus pembicaraan mereka
" Oh iya bi Yanti aku tunjukin tempat- tempanya ya di dapur belakang, tapi nanti bisa bibi pindah lagi sesui kenyamanan bibi " Mira melanggakah kaki menuju dapur kotor yang kemudian diikuti oleh Yanti.
__ADS_1
*Adzan Magrib
Sementara itu lainya bersiap menuju Mushola di lantai dua, Ferdi mematikan televisi dan mengajak anak-anaknya untuk segera berwudhu terkecuali Mira karena dia masih berhalangan. Mira menemani bi Yanti di dapur sambil memasukan belanjaan tadi kedalam kulkas dan kitcenset*.
" **Bi yanti nanti kalau sholat diatas , disna ada mushola "
" Baik bu nanti saya di kamar saja , bu nanti saya diajarin ya cara pakai alat- alat nya soalnya di tempat kerja yang lama belum pakai kaya beginian " bi Yanti Sambil menunjukan tanganya ke arah mocrowave .
" Iya bi beres deh, nanti angetin lauknya paki microwave aja bi sambil bibi nanti aku ajarin. Bibi kalah sudah selesai langsung sholat dulu ya jang ditunda - tunda " jawab Mira.
" Baik bu Mira " Yanti merasa senang mendapat juragan yang masih muda, santai juga baik hati.
########
Sebelumya yanti menjadi pasisten di keluarga orang batak dia merasa nggak nyaman namun karena membutuhkan biaya untuk membantu suaminya maka dia mau tidak mau harus bertahan .
Kebetulan sekali waktu belanja dia ditawari pekerjaan sama teman sesama asisten rumah tangga, yang bekerja di rumah saudara Herdi. Dia langsung menyanggupi tanpa berfikir panjang.
Yanti melihat kehidupan Siti yang sama - sama bekerja menjadi asisten rumah tangga tapi dia terlihat bekerja lebih nyaman tidak sepertinya selalu tetekan dengan juragan yang galak dan tidak pernah kebeneran**.
__ADS_1