Senja Kelabu

Senja Kelabu
Episode 3


__ADS_3

flashback


                                                                                        Senja,


aku bahagia mengenalmu, melihat setiap senyummu, candamu,


bahkan marahmu. namun semua itu mungkin akan segera aku


hapus dari hidupku. aku takut terlalu jauh menyakitimu. aku


takut kamu semakin tersiksa karena sikapku. aku bahkan tak


tau, apakah aku dapat membahagiakanmu kelak, jika kita terus 


bersama.


maaf, jika kepergianku ini menorehkan luka untukmu


maaf, karena aku tak bisa menepati janjiku


maaf


maaf


maaf


                                                                                    sweety


Aku masih termangu setelah membaca surat itu. Aku tak dapat mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku tak mengerti mengapa dia memutuskan hubungan ini. Ya hubungan yang sedang berjalan 3bulan. Bahkan merasakan untuk bercanda dan bersuka cita bersama pun tak pernah terjadi.Lagi-lagi aku menyadari betapa biasanya aku, tak istimewa, bahkan mungkin memang tercipta untuk sendiri.


" Ibu, mengapa aku harus kehilangan perasaan sejak aku lahir. Mengapa aku ibu??? "


Bisa dibilang aku tak begitu kecewa, karena tak ada hal istimewa yang aku terima sejak aku dilahirkan. Ayahku bahkan selalu memandangku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan. Kecewa, marah, sakit karena aku lah ibu meninggal saat melahirkanku. Aku menjadi manusia dingin, karena aku tak mendapat perlakuan selayaknya.


Pengasuhku sejak kecilpun telah tiada diusiaku 10 tahun. Dan sejak saat itu, ayah tak memperkejakan asisten lagi. Aku harus belajar menjadi wanita mandiri sejak usiaku 10 tahun. Aku masih beruntung, karena pengasuhku dulu, selalu mengajarkanku berbagai hal mengurus rumah. Dia tidak memanjakanku, aku selalu diberi tugas untuk menngerjakan pekerjaan rumah juga.

__ADS_1


Aku selalu berpikir, suatu saat nanti aku akan pergi dari rumah ini. Bukan karena aku tak betah disini, namun karena aku ingin lebih mengenal diriku sendiri, tanpa harus tertekan dengan dingin dan hampanya hidupku. Entah bagaimana aku bisa pergi, namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk bahagia.


end


#


#


#


" Udah sehat nja? " tanya Bening saat kami mulai menyapu ruangan.


" Udah kok " jawabku singkat seraya mengerjakan tugasku.


Hari ini adalah saat nya mengganti bungan diruangan ibu Delia. Setelah selesai membersihkan ruangan aku pamit pada Bening untuk membeli bunga seperti biasa sambil meletakkan bunga kemarin di meja pantry.


" Aku beli bunga dulu ya ning "


" ati ati ya, kalo jalan sambil lirik kanan kiri, sapa tau dapet cowok cakep "


aku cuma tersenyum mendengar ucapan bening, dan aku segera berlalu dari pantry. Bening walaupun seusiaku, namun dia sudah menikah, walaupun belum dikaruniai anak. Dia selalu menasehatiku buat sedikit tertarik kepada lelaki. Namun aku hanya membalasnya dengan senyum. Aku berjalan keluar tempat kerjaku menuju toko bunga segar yang ada diujung jalan.


Aku segera kembali dan segera merangkai bunga itu dengan semangat. Dan membawanya keruangan bu Delia. Nampakya beliau sudah ada diruangannya.


tok tok tok


" masuk "


kubuka pintu sembari melempar senyum " selamat pagi bu " sambil kuletakkan rangkaian bunga di meja tamu.


" Pagi Senja, terimakasih ya "


" Sama sama bu, saya permisi "


" Silahkan "

__ADS_1


Hari ini aku bekerja seperti biasa, dan tepat jam 5 sore aku bersiap untuk pulang seperti biasa. Karyawan kantor ini pulang jam 4. Dan aku membersihkan seluruh ruangan setelah jam itu, terlihat beberapa karyawan masih dikantor, aku yakin pasti mereka akan lembur. Ku ambil tasku dan bersiap untuk pulang.


" Aku mau traktir kamu makan " kata bening mengagetkanku saat bejalan menuju lift.


" Sekarang? "


dijawab anggukan oleh Bening.


Kita makan siomay disamping kantor, ya tidak harus mewah, yang penting makan. Apalagi untuk anak kos sepertiku. Kami duduk dimeja paling ujung.


" Aku mau tanya sesuatu " ucap bening


" Jadi kamu ngajak aku makan karena ada sesuatu?" tanyaku pada tanpa menjawab pertanyaannya.


" Sebernernya sih gak juga, tapi sekalian "


" hmmm... lalu "


" Sampai kapan kamu bakal menutup hati sih? "


" Kenapa tanya gitu ning?? "


" Ya karena aku pikir kamu perlu bahagia, perlu sesuatu untuk menghidupkan warna warna lain, kamu juga berhak untuk di ncintai dan mencitai "


" Aku belum terpikir untuk itu, aku masih pengen sendiri. Aku juga merasa gak ada cowok tertarik. "


" Pasti ada nja, hanya kamu aja yang gak peka dan lebih menutup diri. Kamu pasti bisa nja "


" Makasih ning, aku akan jatuh cinta disaat yang tepat. Percayalah "


" Pasti nja, aku pasti yakin kamu akan bahagia "


Setelah selesai makan, kami pulang ketempat masing - masing. Dan sepanjang perjalanan, aku memikirkan kata - kata Bening.


aku yang gak peka dan menutup diri

__ADS_1


Benarkah aku tidak peka?? apa aku terlalu tertutup seperti yang dikatakan bening??? bukankah selama ini aku bersikap wajar??


Ahh... aku saja yang terlalu terbawa ucapan Bening mungkin.


__ADS_2