Senja Kelabu

Senja Kelabu
Berpisah sementara


__ADS_3

Tangit semakin terik, Akhirnya mereka memilih untuk masuk rumah melanjutkan berbincang- bincang sambil menonton acara talk show di televisi.


Tidak lama Anton datang. Mengucap salam dan bersalaman mencium punggung tangan orang tuang yang ada di situ.


" Sudah pulang " Tanya Farah sambil ditatapnya jam dinding di atas televisi.


" Iya bu ,karena masih awal masuk kelas jadi pelajaranya full " jawab Anton.


Waktu ini tepatnya awal pembelajaran baru untuk Anton setelah dia naik kelas . Seharusnya Aluna pun juga seperti itu. Namun karena kepindahanya masa- masa bersama semua kawan di SMU harus terputus.


Anto hari itu di mintai tolong oleh Herdi untuk mengirim hasil panen untuk keluarga petaninyang bekerja diperkebunanya. Setiap panen selain hasil di setorkan kepengepul Hardi selalu mengutamakam bagian untuk pegawainya terlebih dahulu, Baru nanti sisanya dijual. Uang hasil penjualanya pun juga Herdi santunkan untuk yayasan yang dikelola Mira menantunya.


" Kamu makan dulu Atun sudah menyiapakan dibelakang "pinta Farah


" Nanti saja bu saya masih belum lapar, saya ijin langsung kebelakang ya bu Farah . Mau langsung ke perkebunan . Tadi saya mampir meliihat pengemasan panen sudah selesai " Anton kemudian menyudai dan berpamitan .


Anton menuju kamarnya di belakang yang bersanding dengan kamar Bi Atun, dia mengganti pakaian dan kemudian bergegas meninggalkan rumah Herdi menuju ke perkebunan.


Pukul 12.15


" Bu Farah makan siang sudah saya sajikan di meja makan " ucapan Bi Atun ke Farah.


"Iya tun makasih ya , sudah kamu siapkan Tun yang mau dibawakan untuk Cucuku " jawab Farah


" Sudah bu, sudah saya masukan ke mobil " jawab Atun menyudahi dan melanjutkan ke dapur.


" Sebelum berangakat makan dulu saja Mir, ajak sana suami dan anak - anakmu makan dulu " pungkas kata Farah


" Iya ma , sebentar tunggu mas Ferdi selesai sholat "


Mira tidak sholat karena tadi tamu bulananya datang . Ferdi sedang sholat bersama Papa dan ke dua anaknya.


Tidak lama terdengar langakah serdadu menghamiri Mira, Devan berlari karena nyaris di cubit kakaknya.

__ADS_1


"Uuuuhhh adek tu Bund, nyubit aku duluan "


Aluna mengejar Devan yang melilitkan tubuhnya di pinggang Mira, terus digapainya badan Devan


" Sudah dong sayang jangan gitu " pinta Mira sambil memegang lengan Luna.


" ini yg satu usil yang satu ndak mau ngalah sama adeknya "


Farah yang memperhatikan hanya tersenyum.


"Ya gitu itu Nak, namanya juga saudra kalau belum ada yang nangis 1 belum swru , dulu Tania sama suamimu juga gitu . Mama sih cuma perhatiin asal ndak pake kayu Mama diemin " tanggapan Farah melihat cucunya.


########


Bagi Mira keusilan anak-anaknya itu sering membuat dia khawatir maklum saja dia anak semata wayang . Dia takut kalau hal tersebut terbawa sampai tua nanti.


#########


" Makanya Ma... Mas Ferdi selalu cuek lihat anakya berebut apa aja yang akhirnya pada cubit- cubitan sampai nangis, bilangnya gini biarin aja Bun gak ada anak yang nangis mati . Ngeselin kan ma " Mira mempraktekkan kata - kata suaminya .


"Huuuuaaaaaa hiikkzzz hiiikzzz " Devan menangis karena Luna berhasil membalas cubitan adeknya itu.


" Sini cup cup anak bager kesayangan nenek " Farah menenangkan keadaan sambil memeluk Devan.


"Sekaran semuanya makan kalian nanti kena macet " lanjut ucapan Farah ke anak cucunya.


########


Akhirnya waktunya tiba mereka berpamitan mencium punggung tangan kakek nenek , diciumnya berkali -kali cucu , anak dan menantunya.


Karena Farah dan Herdi akan merasa sangat rindu dengan mereka, sebelumnya setiap saat ingin bertemu tidak perlu tunggu waktu lama. Bahkan hampir setiap hari sepulang sekolah Devan pasti ke rumah kakeknya.


" Pokoknya mama harus sering tefon aku ya Ma " pinta Mira

__ADS_1


Hubungan dengan mertuanya itu bukan seperti anak menantu dan mertua mereka berdua sangat kompak dalam segala hal . Mira merasakan kalau mertuanya itu adalah mama ke dua untuknya. Mira tau mamanya itu tidak pernah mau membuat anak- anaknya kepikiran setiap mendesak pun Mama Farah mengurus masalahnya sendiri.


Mira sudah meninggalkan nomer Hp nya ke bi Atun jadi kalau ada apa - apa Bi Atun biar langsung menghubunginya.


Ferdi duduk didalam kemudi jendela mobil masih terbuka , semua mengantar kepergian Ferdi dan kelurganya hingga di ujung halaman termasuk juga dengan Bi Atun.


Mobilpun melaju perlahan sambil terus melambaikan tangan ke Herdi Farah.


" Dah nenek Dah kakek "


Teriak Devan dan Luna bersautan.


Mobil berlaju melewati perkebunan Herdi yang sangat tebentang luas ,hingga sampai di jembatan pembatas jalan yang menhubungkan dengan desa sebelah


" Bebb beeep beeep "suara klakson bersautan


Terlihat mobil Hitam Land Cruiser keluaran terbaru berhenti tepat di samping mobil Ferdi yang juga berhenti.


" Maaass berenti dulu " Tania berteriak dan menjulurkan kepalanya di pundak kanan Teddy.


Beruntung jalan disitu sepi karena yang melewati hanya mobil dari perkebunan atau dari peternakan , rumah Papabya itu berada lumayan jauh dari jalan raya.


Mereka semua turun dari dalam mobil , saling berpelukan .


" Besok libur main ke kita ya nia " Mira memulai percakapan


" Iya kak Mira besok aq main kesana, baik- baik ya di sana selalu hubungi aku kak . Maaf aku terlamabat kerjaanku baru saja selesai " sambil mwmwluk Mira Tania menjelaskan ketelambatanya datang ke rumah Papanya.


" Ngak apa - apa . namanya juga baru ada kerjaan "jawab Mira.


Teddy dan Fersi sedang bercakap.


" Sudah ya Ted , besok kita lanjut pembicaran di telfon. "

__ADS_1


" iya mas baik. hati -hati dijalan ya"


Ferdi dan keluarganya masuk ke mobil guna melanjutken perjalanan menuju Jakarta.


__ADS_2