Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Chapter 10 Pertemuan


__ADS_3

Keesokan hari ....


Lasmi kembali ke toko kue D&D untuk menjemput Daneela. Semua rancangan sudah tersusun rapi dalam otaknya. Saat mobil yang dikemudikan Pak Karmin menepi, terlihat Daneela yang telah siap menunggu di depan toko.


Melihat Lasmi yang melambaikan tangan dari dalam mobil, Daneela segera menghampiri.


"Sudah siap?" tanya Lasmi dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Daneela hanya tersenyum masam, tak ingin menanggapi pertanyaan Lasmi yang ia rasa hanya sekedar basa-basi dan penuh sandiwara.


'Sungguh memuakkan!' batin Daneela. Ia kemudian meminta Pak Karmin membuka pintu depan mobil, rasanya ia tak sudi duduk bersebelahan dengan wanita culas dan munafik itu.


"Kamu tidak duduk di sini?" tanya Lasmi setelah melihat Daneela memilih duduk di sebelah Pak Karmin. Ada raut kecewa merasa diabaikan. Namun, demi lancarnya misi yang sedang ia jalankan, ia memilih untuk diam.


"Jalan, Pak!" perintah Daneela ke Pak Karmin tanpa mempedulikan pertanyaan Lasmi.


"Baik, Non. Ehm ... maaf, Non Lasmi. Kita langsung kembali ke hotel atau mau kemana dulu?"


"Langsung saja ke hotel, Pak. Ada yang tidak sabar ingin ketemu Nesa," jawab Lasmi sambil melirik Daneela, tetapi yang disindir tak merespon sedikit pun.


Suasana hening, hanya deru mobil melaju diselingi suara klakson dari beberapa kendaraan lain. Pagi itu jalanan tak terlalu padat, jam orang berangkat kerja telah lewat sehingga tak banyak kendaraan pribadi lalu lalang.


Senyum Lasmi sepanjang perjalanan menuju hotel mengembang dari bibir merahnya. Ia tak menyangka semua rencana berjalan lancar dan lebih mudah dari yang ia bayangkan. Daneela dengan senang hati justru menerima tawarannya untuk mengambil Nesa kecil.


Di depan, duduk Daneela dengan perasaan tak sabar ingin bertemu Nesa, putri saudara kembarnya. Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari mulut, seolah ada beban yang ingin ia lepas.


Daneela terpaksa menyetujui rencana Lasmi karena demi Bu Rani, sang ibu yang terluka. Wanita yang kini usianya telah memasuki masa senja namun masih terlihat gurat kesedihan di wajah tuanya sering membuat hati Daneela teriris pilu.


Kepergian Daneesa menorehkan luka yang begitu mendalam bagi sang ibu. Ada duka yang tak ingin pergi dari dalam hati wanita itu, luka itu enggan sembuh dan terus saja menganga. Bulir bening itu juga masih saja membasahi pipi, pertanda ia masih meratapi kepergian buah hatinya.


Setiap melihat Bu Rani duduk di kursi goyang kesayangannya sambil memeluk potret Daneesa, hati dan perasaan Daneela serasa tersayat sembilu tajam. Terlebih ketika rintik bening mengalir di pipi Bu Rani, hatinya semakin teriris.


Cukup sudah delapan tahun Daneela menyaksikan kepedihan yang dirasakan ibunya. Ia pun berniat menemui Anarya untuk meminta Nesa kecil sebagai pengobat kerinduan sang ibu kepada Daneesa.


Sebelum menemui Anarya, Daneela ingin ke makam Daneesa sebagai permintaan ijin kepada saudara kembarnya, namun justru tanpa sengaja ia bertemu dengan Anarya di makam Daneesa.


Cukup lama Daneela memperhatikan Anarya saat itu. Dari balik pohon yang tak jauh dari tempat Anarya mematung di hadapan pusara Daneesa, Daneela menunggu waktu yang tepat untuk menemui Anarya.


Daneela terpegun melihat begitu terlukanya Anarya atas kepergian Daneesa. Ternyata, cinta Anarya terhadap Daneesa masih begitu besar. Rasa sesal yang begitu dalam tampak jelas larut dalam tangis histeris Anarya yang tak menyadari kehadirannya.


"Ah, percuma kau menyesal, Narya," gumam Daneela.


Tanpa terasa cairan bening telah keluar dari sudut netranya. Kebencian yang ada dalam hatinya terhadap Anarya dan keluarga Bramantyo selama ini teramat besar. Begitu banyak sayatan luka yang mereka toreh pada Daneesa dan Bu Rani. Namun, saat melihat tangis pilu Anarya, kebencian itu sedikit terkikis.


'Tidak. Aku tidak boleh lemah. Aku harus menemuinya dan meminta Nesa!' seru Daneela dalam hati menghalau sisi lemahnya.


Ia kembali berusaha memantapkan diri untuk menemui Anarya, meminta Nesa untuk ibu yang selama ini terlampau lama dalam kesedihan. Akhirnya, ia keluar dari persembunyian dan melangkah ke arah Anarya.

__ADS_1


"Apa yang kamu tangisi, Anarya?" Itulah pertanyaan yang pertama kali Daneela lontarkan ke Anarya, pertanyaan sinis yang mampu membuat Anarya terhenyak dari tangisnya.


"Da-Da-Daneesa?" Tampak jelas wajah pias dan gugup terlihat dalam riak wajah Anarya saat itu.


Ya, Anarya mengira Daneela adalah Daneesa. Tak ayal kemunculan Daneela membuat kaget pria tampan namun bersahaja itu.


Menurut Daneela, Anarya tak lebih dari seorang pecundang tak bernyali. Ia hanya lelaki lemah yang tak punya kekuatan untuk mempertahankan cinta, ia hanya lelaki yang tunduk pada kedzaliman ibunya.


"Aku tak bermaksud meninggalkannya," sanggah Anarya kala itu.


"Pengecut tak akan pernah bisa mengakui kesalahannya. Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu benar?" Daneela tak kalah sengit menyerang Anarya dengan ucapan pedas, ia tak peduli dengan tatapan penuh kesedihan Anarya.


"Kepergianku bukan untuk meninggalkan Daneesa, melainkan karena ...."


"Tak ada alasan yang bisa mengubah pandanganku terhadapmu. Bagiku kamu adalah pria yang tak bertanggungjawab."


Hening. Anarya hanya mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa diam? Penyesalanmu tak ada gunanya. Tidak hanya Tuhan yang akan menghukummu, tapi aku juga akan memberimu rasa yang lebih sakit lagi!" Ucapan Daneela menyiratkan kebencian yang teramat dalam.


"Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku? Aku ikhlas jika itu bisa menebus rasa bersalahku pada Daneesa."


"Hahaha ... itu terlalu ringan bagimu, Anarya."


"Lalu apa yang kamu mau?"


"Aku akan mengambil anakmu!" ucap Daneela yang membuat Anarya makin terhenyak.


"Itu yang kumau."


"Selama ini aku sudah cukup tersiksa dengan penyesalan ini. Jangan kau tambah lagi dengan mengambil Nesa dariku. Hanya dia yang aku miliki." ratap Anarya dengan airmata berurai.


"Bukankah kamu sudah menikah dan memiliki anak?"


"Aku tak pernah mencintainya. Aku hanya mencintai Daneesa, dan aku tak pernah punya niatan meninggalkan Daneesa. Semua karena mamaku."


Jujur, hati Daneela tersentuh dengan jawaban Anarya. Ia tahu betul bahwa perasaan Anarya juga hancur dan sakit karena takdir yang diciptakan oleh mamanya atas kehidupan asmaranya.


Daneela masih bisa melihat binar cinta itu hanya untuk Daneesa, sungguh kisah cinta yang tragis. Anarya harus hidup dalam bayang-bayang Daneesa dan memaksa diri untuk berkompromi dengan pernikahan tanpa cinta itu.


Namun, kembali Daneela menghalau rasa empatinya itu. Ia buang jauh-jauh rasa kasihan terhadap Anarya.


"Aku akan mengambil Nesa darimu," ucap Daneela sambil berlalu melangkah meninggalkan Anarya.


"Kamu boleh membunuhku, tapi tak akan aku ijinkan kamu mengambil anakku!" teriakan Anarya itu masih sayup terdengar oleh Daneela yang memasuki mobil.


Saat itu, Daneela belum punya keberanian untuk mengambil paksa Nesa kecil. Ia hanya bisa menggertak, namun belum berani bertindak.

__ADS_1


Tetapi kini, Daneela tidak menyangka ternyata Tuhan memberi jalan untuknya meski melalui ide Lasmi yang memang tak menginginkan Nesa bersamanya.


****


Tak terasa mobil yang membawa Lasmi dan Daneela telah memasuki halaman hotel. Setelah meminta Pak Karmin menghentikan mobil di depan pintu hotel, Lasmi pun turun dan diikuti Daneela.


Kembali hati Daneela berdetak lebih kencang, keraguan tiba-tiba saja menyergap menyelimuti pikirannya. Bayangan penolakan Nesa terhadap dirinya terpampang dalam pikirannya. Kemarahan Anarya pun tak luput dari pikirannya.


Lift bergerak menuju lantai 6, dimana kamar Bu Bramantyo dan Nesa menginap. Kaki Daneela semakin berat untuk melangkah keluar dari pintu lift, sampai-sampai Lasmi yang menyadari sikap Daneela segera menarik lengan Daneela yang masih terpekur di dalam lift.


"Ayo, kamu ingin ketemu dengan keponakanmu, 'kan?"


"I-iya. Tapi bagaimana jika ia menolakku?"


"Berlakulah kamu seolah kamu benar-benar mamanya!" titah Lasmi meyakinkan.


"Ingat, jangan buat kesalahan yang menjadikan Nesa tak mau ikut denganmu. Ikuti rencana kita yang sudah aku jelaskan," lanjut Lasmi mengingatkan Daneela.


"Ya, aku tau."


"Bagus."


Langkah kaki mereka semakin mendekati pintu kamar. Sayup-sayup terdengar suara dari dalam, suara yang mengisyaratkan bahwa orang di dalam sedang asyik bercengkrama bahagia.


Kembali langkah Daneela terhenti ketika melihat pintu kamar yang terbuka sedikit. Hatinya berdegup tak beraturan.


"Masuklah," ajak Lasmi.


Tatapan Daneela langsung tertuju pada sosok gadis kecil bermata bulat bening itu. Ingatannya seolah kembali ke dua puluh tahun yang lalu, saat ia dan saudara kembarnya masih anak-anak.


"Nesa, kenapa kamu begitu mirip mamamu, Nak?" Batin Daneela yang tak kuasa menahan airmata.


Segera ia peluk gadis kecil itu, ia tumpahkan kerinduannya selama ini. Kerinduan pada sosok Daneesa, saudara yang menghabiskan masa kecil bersamanya. Ia dekap Nesa dengan erat seolah tak ingin kehilangan lagi.


Nesa yang sebelumnya sudah didoktrin oleh Lasmi dan Bu Bramantyo segera menyadari bahwa yang kini memeluknya adalah mamanya. Ia pun membalas pelukan wanita yang baru sekali ia temui.


Setelah beberapa waktu, Daneela mulai merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Nesa. Tangan kanannya mengusap puncak kepala Nesa penuh kasih.


"Sayang, ini mama, Nak."


Nesa hanya bisa mengangguk sambil tersedu. Beberapa kali ia usap airmatanya dengan punggung tangan. Namun tangisnya segera terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Sejenak ia memperhatikan wajah wanita di hadapannya. Wajah yang sepertinya pernah ia lihat. Dahi Nesa mengernyit seolah sedang mengingat sesuatu.


"Ma ...."


"Iya, Sayang?"


"Apa kita pernah ketemu?"

__ADS_1


Pertanyaan Nesa membuat Daneela menautkan alis berfikir. Sedangkan Bu Bramanto dan Lasmi terhenyak kemudian saling pandang. Lasmi mengedikkan bahu menjawab isyarat netra Bu Bramantyo.


Kebingungan menghias raut-raut wajah mereka. Mencoba menebak menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya telah terjadi sebelum mereka bertemu. Pertanyaan Nesa menyisakan rasa penasaran yang memenuhi benak semuanya.


__ADS_2