
Selepas pertengkaran hebat dengan Anarya, Lasmi tak henti-hentinya mencoba menghubungi nomor Anarya. Entah sudah berapa panggilan ia lakukan, namun tetap nihil. Anarya tak mengangkat ataupun menjawab pesan yang ia kirim.
Lasmi juga mencoba menghubungi ibu mertuanya, tetap nihil. Kegelisahan Lasmi semakin menjadi tatkala sudah dua malam Anarya tak pulang dan keluarga Bramantyo pun tak ada yang mengangkat telepon untuk sekedar memberi kabar.
Tanpa pikir panjang lagi, dengan segera Lasmi mengambil tas dan menggendong Resti yang masih tertidur. Malam itu, ia nekad menerjang angin malam menuju rumah kediaman mertua dengan naik sepeda motor.
Pukul 22.40 ia tiba di depan rumah besar berpagar tinggi. Segera ia turun dari sepeda motor, tanpa menunggu lama tangannya segera masuk ke sela-sela jeruji pagar. Ia tekan berkali-kali bel yang ada di sisi dalam pembatas pagar besi dengan dinding pagar.
"Ma! Mama! Buka pintu, Ma! Mama!" teriak Lasmi berulangkali, Resti yang mendengar suara keras di telinganya menggeliat kemudian membuka mata dan menangis.
"Ma ... buka pintu, Ma. Tolongin Lasmi!" Tangan Lasmi menggoyang kuat pagar besi itu.
Setelah lebih dari dua puluh menit berusaha, akhirnya pintu terbuka. Sesosok wanita tengah baya datang tergopoh-gopoh untuk membukakan pagar.
"Lama amat! Capek tahu nggak teriak-teriak dari tadi nggak cepetan dibukain pintu. Dasar pembantu malesan, kerjaannya tidur mulu! Enak banget makan gaji buta!" maki Lasmi kepada Bik Sanah.
"Maaf, Non. Saya ...."
"Pegang ini," perintah Lasmi sembari menyerahkan Resti yang masih menangis ke gendongan Bik Sanah.
Ia bergegas memasuki rumah dengan teriakan kerasnya memanggil Bu Bram dan berhenti ketika ia dapati ibu mertuanya mulai menuruni anak tangga.
"Ma, Mas Narya belum balik juga. Aku nggak mau dia ninggalin aku, Ma. Aku takut kalau sampai dia menceraikan aku. Tolong, bantu Lasmi, Ma."
Bu Bram masih bersikap datar tanpa ekspresi. Ia pandangi menantu yang selama ini sangat ia sayangi, menantu yang ia pilih karena mampu menyelamatkan usahanya dari kebangkrutan.
"Lasmi, Mama akan usahakan membantu. Tapi Mama tidak bisa janji berhasil atau tidaknya." Helaan nafas terdengar, ada sesuatu yang menahan dan sesak di hati.
"Kenapa Mama sekarang pesimis?"
"Lasmi, kita salah."
"Nggak, Ma. Kita nggak salah. Lasmi selama ini menderita batin. Lasmi hanya ingin mendapatkan hak Lasmi untuk bahagia."
"Cukup, Nak. Maafkan Mama yang tak mampu mengarahkanmu bagaimana cara mendapatkan hati Anarya."
__ADS_1
"Apa maksud Mama?"
"Seharusnya dengan menjadi ibu yang baik bagi Nesa, kamu sudah bisa mengambil hati Anarya."
"Ma, Mama kenapa? Mama baik-baik saja, 'kan?" Lasmi mengeryitkan dahi, memandang ibu mertua penuh selidik.
"Sudahlah, Lasmi. Jika kamu ingin mendapatkan hati Anarya kembali, berubahlah. Dekati Nesa dan jadilah ibu yang baik untuk anak itu."
"Ini nggak benar, Ma. Lasmi nggak sudi menyentuh anak haram itu." Nada sinis begitu terlihat dalam perkataan Lasmi.
"Cukup, Lasmi. Dia bukan anak haram, dia cucuku. Kita selama ini sudah salah, jadi kita harus mulai dengan lembaran baru. Jadilah ibu yang baik untuk Nesa dan Resti, karena itu kunci untuk mengambil hati Anarya."
Netra Lasmi membeliak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia mendekat dan memperhatikan wajah Bu Bram, ada yang ingin ia temukan dari sorot netra wanita senja itu.
'Tidak. Ini tidak benar. Dimana sorot angkuh itu?' batin Lasmi.
"Whats happend with you, Mom?"
"Aku menyesal sudah membunuh kebahagiaan putraku," lirih Bu Bram dengan menahan bulir bening di sudut netra.
"Apa itu artinya ... Mama akan membiarkan Anarya mernceraikan aku?"
"Ma, kenapa Mama diam? Itu artinya Mama tak akan melakukan apapun jika Anarya menceraikan aku?"
"Sekarang pulanglah, biar nanti Mama coba untuk bicara dengan Anarya."
"Janji ya, Ma. Aku nggak mau kehilangan Anarya. Apalagi sekarang ini aku hamil lagi, Ma."
Bu Bram terhenyak, sejurus kemudian ia tatap lekat Lasmi penuh selidik.
"Serius kamu hamil?"
"Iya, Ma."
"Ini bukan akal-akalan kamu, 'kan?"
__ADS_1
"Apa maksud Mama?"
Bu Bram tak menjawab. Ia hanya melangkah menuju sofa.
"Mama menganggap Lasmi berbohong?"
"Sudahlah Lasmi, sekarang pulanglah. Nanti aku akan berusaha bicara dengan Anarya. Aku lelah untuk saat ini."
"Ma, tolong ban-," ucapan Lasmi terpotong, Bu Bram mengangkat tangan mengisyaratkan kepada Lasmi untuk diam.
Dengan langkah gontai Lasmi menyingkir dari hadapan Bu Bram. Ia tak mampu memaksa bicara kepada wanita yang selama ini menjadikannya menantu kesayangan.
Setelah mengambil Resti dari gendongan Bik Sanah, Lasmi meninggalkan rumah keluarga Bramantyo dengan rasa takut menggelayut. Siapa lagi yang akan membelanya?
***
Sekembalinya dari rumah keluarga Bramantyo, Lasmi masih belum bisa tidur. Sebentar ia keluar rumah, menatap kegelapan berharap Anarya pulang. Nihil.
"Di mana kamu, Mas? Jangan buat aku khawatir begini," ucap Lasmi seraya menghempas tubuh ke kursi depan rumah.
Beberapa kali ia mengusap telapak tangan untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang, merapatkan kembali jaket bulu, kemudian bersedeku di atas kursi.
"Kamu sudah keterlaluan, Mas. Membiarkan aku sampai seperti ini. Apa tak cukup kamu siksa batin aku selama menikah denganmu? Aku hanya menikah dengan ragamu, bukan hatimu. Sungguh itu sangat menyakitkan." Lasmi mulai terisak.
Hatinya begitu sakit, teramat sakit. Semenjak ia tahu secara diam-diam Anarya masih suka mendatangi makan Daneesa. Semakin sakit saat tahu bahwa lelaki yang ia cinta ternyata masih menyimpan foto wanita masa lalu di dompetnya.
Bahkan saat tidur dengannya, nama Daneesa yang ada dalam igauan alam bawah sadar Anarya. Lasmi semakin tak terima ketika tahu bahwa kasih sayang Anarya ke Resti berbeda, Anarya lebih memprioritaskan Nesa daripada Resti.
Sudah lima tahun Lasmi mencoba bertahan dengan rasa tidak nyaman itu. Semakin hari ia tak mampu lagi membendung setiap sayatan luka yang ia rasa ketika menyaksikan suami yang ia nikahi memandangi wajah dalam potret masa lalu.
Sakit.
Lasmi meremas lengan kursi, gejolak emosi begitu membuncah dan ingin ia luapkan. Ia berdiri, kembali menatap kegelapan. Dengan membabi buta ia lempar kursi yang ia duduki hingga memporak-porandakan tatanan pot yang menjadi sasaran kemarahannya.
Teriakan Lasmi menggema, memecah keheningan malam. Tangis histeris berulang kali terdengar, menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada.
__ADS_1
Lasmi kini merasa kalah. Ia tak lebih dari seorang budak cinta yang terus mengharap iba dari sang pemilik hati. Harapan untuk tetap memiliki Anarya seutuhnya kini semakin menjauh, haluan hidup semakin tak berarah.
"Lasmi, kamu telah kalah," gumam Lasmi diiringi tangis pilunya.