
Senja di sore ini menjadi saksi betapa kuat cinta yang dimiliki oleh Anarya. Penyesalan yang selama ini menyiksa batin, kini terbayar sudah dengan sejuta kebahagiaan.
Anarya yang sedang mengulas senyum bahagia melihat canda tawa dari dua bidadari dalam kehidupannya, sungguh tak mampu mengungkapkan dalam kata-kata.
Daneela yang asyik bermain air dengan Neesa di pantai tak henti-hentinya tertawa lepas. Jelas sorot penuh suka cita itu menghias rona wajah keduanya.
Anarya begitu lega karena pada akhirnya mampu memberikan kebahagiaan yang nyata dan sempurna untuk buah hatinya. Tangis derita anak kecil itu telah tertebus dengan kasih sayang dari wanita yang teramat ia dambakan.
Sedang mahsyuk menatap Daneela dan Nessa, gawai Anarya bergetar. Ekspresi tidak senang seketika tampak di wajahnya kala melihat nama yang tertera dalam panggilan itu.
"Mau apa lagi dia?" gumam Anarya dengan nada tak suka, jarinya dengan cepat menolak panggilan.
Namun, panggilan dengan nama Lasmi itu kembali muncul. Tak ayal lagi Anarya memblokir nomor itu. Rasa benci begitu menguasai hatinya, hingga kini ia masih belum bisa menerima perlakuan Lasmi terhadap Nessa dan juga Daneesa.
Karena Lasmi, dia harus kehilangan Daneesa untuk selama-lamanya. Karena Lasmi, Nessa harus merasakan pahitnya siksa ibu tiri.
Huff ... Anarya menghela napas panjang. Luka itu masih terasa, ada nyeri yang menjalar jika ia mengingatnya.
Baru saja akan berdiri untuk menyusul Daneesa dan Nessa yang tengah asyik bermain air, gawai kembali berbunyi. Kali ini panggilan dari Bu Bramantyo.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Anarya ketika menerima panggilan.
"Narya, Resti jatuh dari tangga. Sekarang dia di rumah sakit."
"Apa, Ma? Resti jatuh? Terus sekarang di rumah sakit mana?"
"Di Rumah Sakit Harapan, keadaannya kritis. Kamu segera ke sana, ya."
"Iya, Ma. Anarya langsung ke sana."
Setelah menutup panggilan, Anarya melambaikan tangan ke Daneesa agar mendekat. "Ada apa, Mas? Kok, wajahmu cemas begitu?" tanya Daneesa heran.
"Resti jatuh dari tangga, keadaannya sekarang kritis."
"Ya, Tuhan ...." kata-kata Anarya sontak membuat Daneela terkejut sekaligus sedih.
"Dek Resti sakit, Yah?" Nessa yang mendengar penuturan ayahnya menjadi ikut panik.
"Iya, sayang. Kita ke rumah sakit sekarang. Kita harus cepat."
Tanpa membuang waktu mereka langsung masuk ke mobil. Anarya melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan di atas sedang.
Kekhawatiran bergelayut di hati Anarya. Ia merasa bersalah telah mengabaikan Resti hanya demi kebahagiaan Nessa. Ada sesal disertai rasa cemas akan kondisi anak keduanya yang hampir dua bulan ini tak ia jumpai semenjak insiden di pernikahan dia dan Daneela.
Beberapa kali Daneela mengingatkan agar tidak terburu-buru, namun Anarya tak mengindahkan. Ia terus saja mengemudi dengan kecepatan tinggi sehingga hanya dalam waktu dua puluh menit, mobil telah memasuki area parkir rumah sakit.
Dengan langkah panjang setengah berlari, Anarya menuju ruang IGD di mana Resti masih mendapat penanganan. Tampak gadis kecil itu tergolek lemah dengan perban di kepala dan tangan menggunakan gips.
Sedangkan Lasmi masih terisak dalam rengkuhan Bu Bramantyo yang mencoba menenangkannya. Melihat kehadiran Anarya, Lasmi terhenti dari tangisnya. Sorot mata kesedihan begitu tampak memenuhi tatapan yang seolah meminta simpati.
__ADS_1
"Mas ... Resti, Mas ...." Lasmi menghambur memeluk Anarya, membuat lelaki itu kaget dan canggung.
"Lasmi, kamu tenang dulu." Anarya mendorong pelan tubuh Lasmi, bagaimana pun ia tak enak jika Daneela melihat.
"Mas, Resti butuh darah. Ini masih menunggu pemeriksaan tes golongan darah Resti, sebentar lagi dokter ke sini lagi."
"Baiklah, kita tunggu. Semoga darah kita ada yang cocok dengan Resti, jadi tidak perlu mencari ke PMI," ujar Anarya yang diiyakan dengan anggukan dari Lasmi.
Tak berapa lama seorang perawat datang, ia membawa hasil tes darah milik Resti. "Maaf, Bu. Ini hasil tes golongan darah Adek Resti. Darah yang dibutuhkan adalah golongan darah O, mungkin Ibu atau keluarga lain ada yang golongan darahnya O?"
"Golongan darah Resti O, Sus? Apa tes itu tidak salah?" tanya Anarya dengan tatapan heran dan penuh tanya.
"Tes tersebut sudah benar, Pak. Jika sudah ada yang mau mendonorkan darah, mohon ikut saya ke ruang sebelah untuk pengambilan darah." Perawat itu menjawab sembari tersenyum ramah.
"Tunggu, Sus. Ini tidak mungkin, darah saya A dan istri ... ehm ... maksud saya, ibunya Resti golongan darahnya B. Jadi, tidak mungkin ...."
"Mas, cukup. Yang terpenting sekarang kita dapatkan dulu pendonor, Resti sangat membutuhkan saat ini." Lasmi mencoba menghentikan ucapan Anarya yang dalam kebingungan.
"Oke, tapi setelah ini kamu harus jelaskan semuanya!" tantang Anarya sembari berlalu.
Anarya melangkah keluar, ia menemui Daneela dan Nessa untuk berpamitan mencari darah ke PMI. Dilihatnya Daneesa yang sedang duduk di kursi tunggu, ia memeluk Nessa yang sesenggukan karena menangis khawatir dengan kondisi adiknya.
"Bagaimana keadaan Resti, Mas?" tanya Daneela yang seketika berdiri kala melihat Anarya.
"Dia butuh darah. Ini aku mau ke PMI untuk mengambil darah."
"Memangnya golongan darah Resti apa?"
"Kalau begitu aku saja, aku juga O."
"Kamu yakin?"
Daneela hanya mengangguk, kemudian menarik lengan Anarya dan menggandeng Nessa. Langkah mereka menuju ruang jaga perawat.
Sesampainya di sana, Daneela mengutarakan niatnya untuk mendonorkan darah. Setelah melalui pemeriksaan, akhirnya pengambilan darah dilakukan.
Ya, mau tidak mau darah Daneela kini mengalir di dalam tubuh Resti. Lasmi yang mengetahui siapa pendonor darah untuk anaknya, hanya bisa tertunduk tanpa dapat berkata apapun.
Sudah pasti Lasmi hanya bisa diam karena ia tak punya pilihan lain, karena baginya nyawa Resti lebih penting. Apalagi saat ini dalam hatinya pun tak tenang karena setelah ini akan banyak pertanyaan dari Anarya yang harus ia jawab.
****
Lima hari kemudian.
"Kondisi Resti sudah semakin membaik, sekarang jelaskan kenapa golongan darah Resti bisa berbeda dengan kita?" cecar Anarya ke Lasmi yang baru saja menebus obat dan hendak masuk ke ruangan tempat Resti dirawat.
"Ya mana aku tahu?" Lasmi berusaha tak ambil pusing.
"Lasmi! Tolong, kamu jujur dengan aku. Resti itu anak aku atau bukan?"
__ADS_1
"Mas! Tega, ya, kamu bicara seperti itu! Kalau sampai Resti denger, dia pasti akan sedih karena ayahnya tak mau mengakui dia sebagai anak!" Lasmi menaikkan nada suara sebagai bentuk rasa kesalnya.
"Kalau dia anak aku, golongan darah pastinya tidak akan berbeda. Paling tidak sama kayak kamu atau aku."
"Iya, aku tahu. Tapi di dunia ini semua bisa saja terjadi jika Tuhan sudah berkehendak!"
"Hahaha ... sejak kapan kamu mengenal Tuhan, Lasmi? Hati saja kamu tak punya, apalagi imam," ledek Anarya yang semakin membuat wajah Lasmi merah padam menahan kesal.
"Tapi Resti memang anak kamu! Sejahat-jahatnya aku, aku tidak pernah menghianati kamu! Kamu tahu bagaimana aku sangat mencintai kamu, Mas ... hiks, hiks, hiks ...." Seketika derai bening itu meluncur ke pipi Lasmi.
Melihat Lasmi yang menangis, Anarya justru bingung. Lasmi memang benar, ia terlalu mencintai Anarya dan tak mungkin mendua. Tapi perbedaan golongan darah antara ia dan Resti sangat mengganggu pikirannya.
"Lasmi, tolong berhenti menangis. Aku benar-benar hanya ingin tahu kenapa darah Resti berbeda dengan kita."
"Kenapa kamu tidak minta penjelasan ke dokter, mungkin saja dokter lebih tahu kenapa golongan darah Resti tidak sama dengan kita."
"Baik. Tapi jika jawaban dokter tidak dapat menjawab perbedaan itu, maka fix kamu hamil dengan orang lain."
Seketika wajah Lasmi berubah kala mendengar ucapan Anarya, kemarahan tampak jelas di raut wajahnya.
Plak!
Tak disangka sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Anarya. Sorot mata garang bak singa yang hendak menerkam mangsa.
"Dengar, ya, Mas. Kalau sampai terbukti Resti anak kamu, maka kamu harus kembali padaku dan tinggalkan Daneela. Bagaimana? Deal?"
"Sampai mati aku tak akan pernah kembali pada iblis betina seperti kamu!"
Suasana memanas, meski ucapan mereka tanpa teriakan, namun penekanan pada setiap ucapan menunjukkan bahwa mereka sedang menahan amarah yang sebenarnya telah mencapai batas sabar.
"Terserah apa kata kamu, yang pasti iblis betina ini telah memiliki dua anak dari lelaki bodoh yang tak bisa melihat cinta tulus."
"Lasmi!"
"Apa? Mau menampar? Ayo, kalau berani!" Lasmi menantang Anarya yang tangan kanannya telah terangkat ke atas siap menyasar pipi Lasmi, namun ia urungkan.
Anarya semakin kesal, ingin ia marah kepada Lasmi. Namun, mengingat ada darah dagingnya yang bersemayam di kandungan Lasmi, ia menjadi tak tega menyakiti wanita itu.
"Bu, haus ... Bu, Ibu di mana?" Terdengar suara Resti dari dalam ruangan rawat inap.
"Maaf, Mas. Aku harus mengurus Resti, kamu terserah ... mau tetap di sini untuk menghibur Resti atau mau pergi ke istri barumu!" Lasmi segera membuka pintu dan membiarkan Anarya yang masih diam terpegun.
Anarya terduduk lemas di kursi tunggu, banyak tanya dalam hati. Ia tak mampu mengambil kesimpulan bahwa Resti bukan anaknya, karena mungkin saja dalam persilangan genetika akan menghasilkan gen baru.
Namun, jika benar Resti bukan anaknya, maka itu artinya ia telah dipecundangi oleh Lasmi dalam kurun waktu lebih dari delapan tahun. Bisa jadi, anak yang ada dalam kandungan Lasmi saat ini juga bukan anaknya.
Anarya menghela napas panjang, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Pertanyaan demi pertanyaan yang berputar di otak membuat nyeri menjalar di seluruh bagian kepala.
"Baiklah, jika nanti jawaban dokter menyatakan bahwa perbedaan golongan darah itu disebabkan oleh adanya sifat gen, maka jalan tes DNA harus ditempuh. Aku tidak mau seumur hidup dalam ketidakpastian."
__ADS_1
Akhirnya, Anarya mencapai titik di mana ia harus mengambil keputusan dan menentukan sikap. Kali ini demi kemanusiaan dan juga rasa kasian terhadap gadis kecil yang selama ini memanggilnya ayah, maka ia langkahkan kaki menuju ruangan rawat inap.
Ya, hati Anarya tak dapat mengelak bahwa ia begitu menyayangi Resti.