Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 42 Penyesalan Terdalam


__ADS_3

Kepulangan Anarya disambut Daneela dengan wajah penuh tanda tanya. Banyak hal yang memenuhi benak dan ingin segera mendapat jawabnya. Namun, semua itu ia tahan saat melihat mendung di wajah lelaki itu.


Daneela memilih untuk diam dan menyibukkan diri dengan Mbok Nah yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga Bramantyo. Bahkan ketika di meja makan pun Daneela lebih sibuk dengan Nessa dan Resti.


Tak ada pembicaraan di tengah kegiatan makan malam itu, seolah ketegangan sedang melanda. Masing-masing sibuk dengan pikiran dan hatinya.


"Ma, Anarya mau bicara dengan Mama setelah ini." Anarya memecah keheningan ketika makan malam usai.


Semua mata tertuju ke Anarya, sorot netra penuh tanya. "Bicara apa?" tanya Bu Bram dengan heran.


"Daneela, bawa anak-anak ke kamar." Anarya memberi titah ke wanita yang sejak tadi menahan rasa ingin tahu itu.


"Iya, Mas." Daneela tak bisa membantah perkataan suaminya, dia pikir memang alangkah baiknya jika anak-anak tidak mendengarkan pembicaraan orang dewasa.


"Ada apa, Narya?" tanya Bu Bram setelah Daneela meninggalkan meja makan bersama Nessa dan Resti.


"Ma, Pa ... hari ini aku pergi ke rumah Bu Rani."


"Jenguk mertua tapi kok nggak bawa anak dan istri?" sela Pak Bramantyo.


"Begini, Pa ... ehm ... tadi ...." Anarya sedikit bingung bagaimana memulai cerita.


"Anarya, tolong cerita yang jelas," pinta Bu Bram dengan tatapan penuh tanda tanya besar.


"Tadi pagi aku ke sana dengan Lasmi."


"Apa?" ucap Pak Bram dan istrinya hampir bersamaan, bola manik membeliak hampir tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Anarya.


"Jangan salah paham dulu, Ma, Pa. Aku ke sana karena mengantar Lasmi untuk minta maaf ke makam Daneesa dan juga ke Bu Rani."


"Apa? Lasmi minta maaf?" Lagi-lagi suami istri itu kompak dengan ekspresi terkejutnya, kemudian saling pandang.


"Kamu yakin Lasmi minta maaf beneran?" tanya Pak Bram tak percaya.


"Iya, Pa."


"Mustahil!" gumam Pak Bram sembari memukul meja pelan dan membuang muka untuk menyembunyikan sirat keraguan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Anarya, Lasmi itu wanita licik. Jangan sampai kamu kena tipu dayanya." Kini Bu Bram justru merasa khawatir.

__ADS_1


"Betul itu, Narya. Kamu tahu bagaimana licik dan jahatnya Lasmi." Pak Bram menimpali ucapan istrinya, seakan sehati dan sependapat.


"Pa, Ma ... awalnya Narya juga nggak percaya. Tapi ketika di rumah Bu Rani semuanya begitu terasa. Penyesalan demi penyesalan itu benar-benar muncul di hati Lasmi."


"Memangnya di rumah Bu Rani kenapa?" Bu Bram makin penasaran.


"Sebentar, Narya ambil sesuatu dulu."


"Sesuatu apa?"


"Sabar, Ma." Anarya meninggalkan kedua orang tuanya dengan ekspresi kebingungan, ia menuju ke lemari buffet tempat ia menyimpan diary Daneesa.


"Baca ini, Ma." Anarya menyodorkan diary dengan posisi terbuka pada bagian yang telah ditandai pita kuning.


Bu Bram dan suaminya perlahan membaca satu persatu kalimat yang terangkai. Sesekali helaan napas berat terdengar, seolah ada yang menyesak di dada.


Bu Bram terhenti ketika membaca bagian tulisan terakhir Daneesa. Slide peristiwa masa lalu berkelebat dalam memorinya. Wanita yang biasa tampil elegan itu tak mampu meneruskan membaca tulisan Daneesa.


Dengan cepat Bu Bram menutup buku diary itu, kemudian ia setengah berlari menuju kamar. Pak Bramantyo yang menyaksikan sikap istrinya hanya bisa menghela napas panjang lalu menangkupkan kedua tangan ke wajah.


"Papa merasa gagal mendidik istri, Narya. Maafkan Papa." Suara Pak Bram berubah parau karena menahan berjuta kekecewaan atas sikapnya dulu yang tidak bisa tegas terhadap wanita yang ia cintai.


"Ya, Papa tahu. Itu sebabnya Papa tak pernah membenci anak itu."


"Ya! Terimakasih, Pa." Suara Anarya lirih hampir tak terdengar.


Ia tundukkan wajah sembari memainkan jari. Kegetiran merambati relung hati. Sayatan luka dan perih akibat kehilangan masih begitu nyata terasa nyeri menghantam setiap sisi sanubari.


"Lalu, bagaimana dengan Lasmi?" Pertanyaan Pak Bramantyo membuat Anarya mengangkat wajah.


"Dia sudah menyadari kesalahannya, Pa."


"Syukurlah. Itu artinya kamu bisa hidup tenang bersama Daneela tanpa gangguan dari Lasmi."


"Iya, Pa. Tapi masih ada satu hal yang mengganggu pikiranku."


"Apa?" Dahi Pak Bramantyo mengeryit membentuk lipatan dahi.


Anarya menoleh ke belakang, seolah ia ingin memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dengan sedikit mengangsurkan badan, Anarya berbisik ke Pak Bramantyo. "Resti bukan anakku, Pa."

__ADS_1


"Apa?!" Pak Bramantyo terhenyak mendengar penuturan Anarya barusan.


Selama ini tak ada yang tahu tentang status siapa ayah biologis Resti. Bahkan Anarya yang selama delapan tahun hidup dengan Lasmi saja tak menyadari kebohongan yang telah dicipta wanita licik itu.


"Terus ... siapa ayah kandung Resti?" Pak Bramantyo tak dapat menghindar dari rasa penasaran yang muncul seketika.


"Sebaiknya kita keluar, Pa. Jangan bicara masalah ini di rumah. Papa tahu, kan, kalau tembok punya mata dan telinga?"


"Hahaha ... kamu ini, sedang serius pun malah bercanda." Pak Bramantyo menepuk bahu anak kesayangannya.


"Baiklah, kita ngopi di luar." Pak Bramantyo berdiri dan mengambil kontak mobil, kemudian melemparkannya ke Anarya.


"Ke cafe tempat biasanya?"


"Ke mana lagi kalau nggak ke sana? Hanya di sana rasa kopi espreso yang luar biasa mantap." Senyum lelaki paruh baya itu mengembang.


****


Sementara itu, di ruang berdinding putih tulang ....


Seorang wanita tersedu sedan di sudut ranjang. Bulir bening deras mengalir menuruni pipi hingga membasahi punggung tangannya.


Beberapa kali lirih terdengar kata maaf terucap dari bibir yang terbiasa dengan lapisan lipstik berwarna merah merona. Wajah yang tak pernah lepas dari make up itu kini terlihat kuyu.


Sorot penyesalan tersirat jelas di wajah yang basah dipenuhi air mata. Beberapa kali ia menyeka kasar cairan bening itu, kemudian larut dalam tangis sesal yang begitu mendalam.


"Daneesa, maafkan wanita yang tak punya hati ini. Aku akui, aku terlalu serakah. Aku takut kembali ke kehidupan sebelumnya yang penuh dengan cerita perih. Maafkan aku, Daneesa."


Pada akhirnya Bu Bramantyo menyadari seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu. Demi ego ia korbankan kebahagian Anarya, ia renggut apa yang menjadi sumber semangat hidup anaknya. Bahkan tak hanya itu, setelah kematian Danessa pun ia masih belum bisa menerima Nessa Putri Anarya sebagai cucunya.


Ya, gadis kecil bernama Nessa Putri Anarya itu harus menikmati kekejaman seorang ibu tiri dan juga neneknya sendiri. Di usianya yang masih kecil, ia harus kehilangan masa bahagia sebagai anak.


Bu Bram menyesal jika mengingat perlakuannya dulu ke cucu yang tak pernah ia akui. Selama ini banyak luka yang ia toreh ke hati gadis kecil itu. Meski dalam bentuk kata, sudah pasti ingatan tentang semua yang ia lakukan akan terekam dan membekas dalam memori Nessa.


Beruntung Nessa gadis yang baik, ia tak menaruh dendam pada wanita yang telah melukainya dengan sikap yang sinis serta ucapan yang menyayat hati.


Kini, meski air mata ia tumpahkan. Meski sesal dari hati terdalam ia tampilkan, semua tak dapat mengembalikan kebahagiaan yang telah terenggut oleh sikap ego yang dulu menguasai hati dan logikanya.


Bu Bram sadar betul, saat ini ia hanya bisa menebus kesalahan di masa lalu itu dengan bersikap baik kepada Nessa, mencintai dan memberi kasih sayang yang tulus pada anak itu.

__ADS_1


__ADS_2